Trend global yang menarik kita telaah kali ini bertautan dengan dinamika yang berlangsung di bidang maritim dan pelayaran. Pada Oktober 2025 lalu terungkap bahwa Divisi Diplomatik Uni Eropa atau European External Action Service (EEAS) berupaya memperkuat hak inspeksi maritim blok tersebut sehingga negara-negara anggota dapat berlayar dan bisa menyita kapal-kapal tanker yang dicurigai sebagai kapal tanker siluman (Shadow Fleet Vessels) saat berlayar di bawah bendera asing, atau tanpa bendera sama sekali. Utamanya ketika menggunakan kapal-kapal tanker siluman tersebut sebagai sarana transportasi untuk mengangkut minyak dan gas yang sejatinya berasal dari negara-negara yang terkena sanksi internasional.
Gagasan dan usulan EEAS tersebut sangat bagus dan tepat jika semata-mata dimaksudkan untuk melindungi keamanan dan keselamatan lingkungan pelayaran internasional, khususnya perairan Eropa pada khususnya. Dan bukannya semata-mata ditujukan untuk menyudutkan atau memojokkan suatu negara tertentu.
Sebab meskipun gagasan dan usulan EEAS tersebut terkesan bagus, namun ada indikasi kuat seperti dilansir oleh kantor berita Reuters bahwa pada musim semi lalu Uni Eropa telah memberikan wewenang kepada negara-negara anggotanya seperti misalnya dalam kasus Rusia terhadap Ukraina atau bisa saja nantinya ditujukan kepada Cina jika suatu saat pecah konflik militer terbuka antara Cina dengan Taiwan.
Sebab terungkap melalui rancangan dokumen EEAS, Uni Eropa sempat melobi beberapa negara anggota untuk mengamankan perjanjian bilateral guna memeriksa kapal-kapal tanker yang dicurigai sebagai siluman. Seperti misalnya dengan meminta bukti asuransi dari kapal-kapal tanker minyak yang melintasi perairan Eropa.
Sayangnya, usulan dan gagasan Divisi Diplomatik Uni Eropa atau European External Action Service (EEAS) tersebut didorong oleh rasa khawatir terhadap semakin solidnya kerja sama strategis Rusia-Cina sebagai kekuatan penyeimbang terhadap persekutuan strategis AS-Uni Eropa. Sejak pertemuan Putin-Jinping pada Mei 2024, kerja sama bidang keamanan antara Rusia-Cina semakin solid. Pastinya juga mencakup kerja sama keamanan maritim. Pada 2012 bahkan Cina-Rusia sudah menggelar Latihan Angkatan Laut Bersama yang diadakan di kawasan Pasifik Barat. Yang mana justru merupakan salah satu jantung wilayah di Indo-Pasifik yang dilancarkan AS dan sekutu-sekutunya untuk menggangu gerak laju Cina di Asia dan Pasifik.
Solidnya kerja sama militer dan keamanan Cina-Rusia, termasuk di bidang keamanan maritim, semakin mengkhawatirkan bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik yang sedang digalang atas dukungan dari AS melalui Strategi Indo-Pasifik AS, dengan dalih untuk membendung pengaruh yang semakin kuat dari Cina.
Kajian yang disusun oleh Brian G. Carlson, profesor riset studi keamanan Indo-Pasifik di Strategic Studies Institute, bahkan secara khusus menelaah skenario melibatkan Jepang dalam kancah pertarungan antara AS vs Cina di Asia Pasifik. Menurut Brian Carlson, dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah merevisi strategi keamanan nasionalnya dan meningkatkan anggaran pertahanannya, yang mana sebagian didorong oleh kekhawatiran tentang meningkatnya kerja sama pertahanan Cina-Rusia.
Baca:
The Growing Significance of China-Russia Defense Cooperation
Lebih jauh lagi, tulis Brian Carlson, Jika terjadi konflik yang melibatkan Cina dan Jepang, Rusia dapat mempersulit aliansi AS-Jepang. Seperti misalnya, Rusia sebagai sekutu strategis Cina dapat membentuk patrol pertahanan udaranya sendiri di Asia Timur Laut sebagai upaya bela diri. Dalam konstelasi seperti itu, akan mencegah keunggulan angkatan udara AS, dan menguras seluruh sumberdaya Jepang, dan memberikan tempat perlindungan militer secara tidak langsung kepada Cina. Sehingga pada perkembangannya kemudian, Jepang akan gagal memberikan dukungan militer strategis kepada Taiwan jika suatu saat Cina memutuskan untuk melancarkan aksi militer ke Taiwan.

Kapal angkatan laut Cina dan Rusia [File: China Daily/Handout via Reuters].Patut diduga inilah kekhawatiran sesungguhnya AS dan Uni Eropa sehingga melalui rancangan usulan EEAS yang menyudutkan Rusia dengan dalih karena telah melancarkan invasi militer ke Ukraina, menggulirkan isu adanya Kapal Tanker Siluman (Shadow Fleet Vessels) yang dilakukan Rusia. Sinyalemen tersebut semakin menguat ketika Perjanjian Cina dan Rusia pada 2023 tentang kerja sama penegakan hukum maritim menghadirkan dimensi baru dari kerja sama maritim mereka yang semakin erat dan solid, sehingga dengan demikian, menjadi tantangan potensial baru yang harus dihadapi oleh negara-negara sekutu AS di kawasan Indo-Pasifik. ‘
Pada tahun 2023, penjaga pantai AS mengumumkan rencana untuk meningkatkan patroli maritim dan kegiatan pelatihan di Indo-Pasifik. Pada 1 Oktober 2024, penjaga pantai AS, Filipina, dan Jepang sepakat untuk meningkatkan kerja sama setelah pertemuan Quad, empat negara anggota Pakta Pertahanan Bersama (QUAD).
Dalam kerangka pemikiran seperti itu, manuver Divisi Diplomatik Uni Eropa atau European External Action Service (EEAS) untuk menyudutkan Rusia dengan tudingan penggunaan Kapal Tanker Siluman, sejatinya merupakan Smoke Screen alias tabir asap guna mengalihkan perhatian dari masalah sesungguhnya, atau, menutupi kekhawatiran sesungguhnya AS dan blok Barat terhadap kerja sama strategis Cina-Rusia di bidang maritim sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan Asia Pasifik.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)