Upaya AS ‘Sembuyi Tangan’ Atas Krisis Suriah

Bagikan artikel ini

Novendra Deje, Ketua Komunitas Studi Agama dan Filsafat (KSAF–Aceh)

Mungkin Amerika Serikat (AS) mengesampingkan opsi ekspansi militer langsung dengan skema NATO nya terhadap Suriah, mengingat komitmen dukungan Rusia dan Iran terhadap Pemerintahan Bashar Al Assad sebagai sekutu utamanya. Namun menempuh proxy war ini tidak berarti mengurangi campur tangan AS dalam memberi bantuan-bantuan teknis militer bagi kelompok pemberontak bersenjata untuk menumbangkan Assad. Meskipun Pemerintah Obama menyatakan hanya memberikan bantuan non-militer terbatas bagi kelompok-kelompok oposisi Suriah, tapi beberapa fakta mengungkapkan signifikansi peran Washington dalam dukungan rill terhadap perang yang dilancarkan para pemberontak bersenjata di Suriah.

Laporan Associated Press (AP) bahwa Pemerintah Obama sedang memprioritaskan pencapaian kesepakatan dengan Tehran dan kerjasama Moskow terkait isu Nuklir Iran. Karena hal tersebut, AS enggan terlibat mengirimkan bantuan militer pada kubu pemberontak Suriah, mengingat Iran dan Rusia merupakan sekutu utama Damaskus. Suatu deskripsi perbandingan dan situasi yang sangat menyesatkan opini publik. Laporan AP tersebut sepertinya lebih kepada kepentingan counter opinion atas isu keterlibatan AS membantu mempersenjatai kubupem berontak Suriah, daripada kepentingan mencapai kesepakatan dengan Iran dan kerjasama Rusia dalam isu nuklir Iran.

Keterlibatan AS dalam mendukung pemberontak Suriah terbukti tidak hanya sekedar bantuan diplomasi dan finansial, namun juga bantuan-bantuan teknis militer. Selain bantuan intelijen pendukung berbagai kepentingan dan operasi lapangan yang dilancarkan pemberontak, Washington melalui CIA yang bekerjasama dengan dinas intelijen Ingris, Prancis, dan Jordania, juga memberi pelatihan bagi para personil rekrutan yang akan dikirim untuk bergabung dengan pemberontak Suriah. Termasuk mendorong Negara-negara sekutunya di Arab dan Eropa untuk mengirimkan persenjataan yang dibutuhkan para pemberontak dalam skala yang akan efektif melumpuhkan Damaskus. Karenanya, klaim AS bahwa mereka hanya memberi bantuan non-militer memang harus dibaca dalam makna yang distorsif, karena fakta lapangan tidak menunjukkan pengertian dalam batasan itu.

Meskipun AS tidak secara langsung mengirimkan persenjataan kepada kelompok pemberontak Suriah, namun mereka memfasilitasi kesuksesan Negara-negara sekutu Arab dan Eropanya memasukkan berbagai persenjataan yang dibutuhkan. Laporan New York Times menegaskan peran CIA dalam mendukung pengiriman 3.500 ton senjata oleh Arab dan Turki kepada pemberontak Suriah. Mendukung informasi ini, FNA melaporkan bahwa informasi itu dikumpulkan dari data-data menara pengawas bandara, wawancara para pejabat berbagai Negara, dan pernyataan para pemimpin kelompok oposisi.

Surat kabar Inggris, Daily Star (10/3/2013) melaporkan Inggris yang telah jauh hari berhasrat memberi bantuan persenjataan untuk pemberontak di Suriah, telah meralisasikan pengirimanya seharga 20 juta Poun Sterling. Senjata dalam berbagai jenis itu termasuk  senapan serbu, senapan mesin, granat, roket anti-tank, roket pad, peluncur roket dan amunisi yang disimpan di beberapa tetangga, cukup untuk mempersenjatai 1.000 personil pemberontak Suriah. Demikian juga dengan Prancis yang siap bergabung dengan Inggris untuk memberi bantuan persenjataan, sesuai dengan lampu hijau dari AS saat pertemuan Aliansi Nasional Oposisi Syria (SNC) di Istambul beberapa waktu lalu. Mereka sepertinya tidak mengindahkan embargo yang dibuat oleh Uni Eropa sendiri, dan meskipun beberapa Negara Eropa lain secara tegas menolak bentuk bantuan yang akan memperdalam krisis Suriah.

Meskipun sebagian kelompok pemberontak bersenjata di Suriah sangat diragukan AS dapat sepenuhnya dikontrol untuk tetap berada pada alur scenario mereka terhadap Suriah, namun tingginya hasrat untuk menumbangkan  Damaskus menjadikan Washington hanya realistis bekerjasama dengan mereka dilapangan. Karena memilih ekspansi militerter hadap Suriah tidak hanya mengandung risiko mengundang keterlibatan Iran dan Rusia yang akan menciptakan perang dalam skala sangat luas, tetapi juga membahayakan Israil yang selama ini ada dalam perawatan AS.

Seperti yang diketahui, dedikasi Washington dalam mengguncang Damaskus selama ini, dampak dan tujuan utamanya dipersembahkan untuk kepentingan Tel Aviv. Hal ini dapat kita anaisis dari jawaban Leon Panetta atas pertanyaan senator John McCain atas sikapnya dan Demspsey dalam merespon proposal Departemen Luar Negeri dan Direktu CIA tahun lalu. Proposal yang dimuat New York Time 2/2/2013), dikembangkan oleh Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan Direktur CIA David Petraeus pada musim panas tahun lalu.

Panetta menjelaskan kenapa akhirnya ia mendukung sikap Gedung Putih menolak proposal tersebut. Bantuan militer itu dikhawatirkan akan menyeret AS ke dalam konflik Suriah dan senjata sumbangan mere bisa jatuh ke tangan “yang salah”. Rudal darat-ke-udara yang diminta pemberontak itu bisa juga dipakai untuk menembak jatuh pesawat Israel. Ini membuktikan bagaimana pertimbangan mereka terhadap keamanan Israil dalam skala itu. Tentu akan lebih besar risiko yang dihitung bagi keselamatan Israil jika terlibat perang langsung antara AS dan sekutunya dengan Suriah beserta Negara-negara penyokongnya.

Posisi Pemerintahan Assad yang selama ini ada dalam barisan muqawwama (resistensi) adalah pihak yang paling mengancam eksistensi Israil di Palestina Pendudukan. Berkontribusi besar menyokong kelompok-kelompok resistensi seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina, menjadikan eksistensi Pemerintahan Assad sangat mengancam eksistensi Israil dan kepentingan AS di Kawasan secara umum. Tentu AS tidak menginginkan penanganan Suriah dalam upaya menumbangkan Assad justru akan menambah ancaman baru bagi eksistensi Israil.

Suatu pernyataan diplomatis John Kerry– saat beberapa jam sebelum terpilihnya Gassan Hitto sebagai Perdana Menteri pemerintahan interim produk Aliansi Oposisi Nasional Syria dan Negara-negara pendukungnya – adalah lampu hijau bagi pembanjiran Suriah dengan senjata untuk para pemberontak. Menteri Luar Negeri yang menggantikan Hillary Clinton itu menyatakan bahwa Washington tidak menghalangi Negara-negara Eropa jika mereka memutuskan untuk memberi bantuan persenjataan kepada pemberontak Suriah. Bahasa yang digunakan Kerry dalam gaya ‘lempar batu sembunyi tangan’ itu gamblang dipahami, upaya mengesankan AS bersih dari memberi dukungan persenjataan kepada pemberontak Suriah, melainkan kebijakan beberapa Negara Eropa yang sangat berhasrat melakukannya.

Lalu dalih terakhir mereka yang enggan terlibat dengan bantuan militer di Suriah dikarenakan kepentingannya dengan Tehran dan Moskow terkait kesepakatan isu nuklir Iran, juga upaya mengelabui opini publik. Meskipun kenyataannya Tehran dengan momentum kemajuan dan pengaruh globalnya dipandang Washington sebagai musuh sangat berbahaya, sekaligus tantangan terbesarnya di Timur Tengah. Namun mengemukakan perbandingan skala prioritas antara dua kasus itu bagi AS sangatlah menyesatkan. Disamping tidak ada jalan bagi Washington melayani kepentingan Israil menumbangkan Assad yang masih mendapat dukungan mayoritas rakyatnya, juga cara mereka selama ini memanfaatkan isu nuklir Iran dengan sangat politis.

Sangat layak dipertanyakan tentang kepentingan siapa yang lebih terlihat menonjol dari berlarutnya isu nuklir Iran, hingga menjadi isu global? Iran secara jelas tidak menginginkan isu nuklirnya terus menjadi konsumsi global yang berdampak negative bagi citra dan pergaulan internasionalnya. Sejauh ini AS menemukan isu nuklir Iran sebagai satu alat dan komoditas politik paling strategis dalam skema internasional untuk menjustifikasi berbagai sanksi dalam meningkatkan tekanan terhadap Iran. Washington lebih berkepentingan menjaga isu nuklir Iran ada dalam posisi yang tidak pernah dibuat jelas, sebagaimana dilakukan melalui Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan dengan berbagai fase perundingan antara Iran dengan kelompok 5+1 (AS, Inggris, Prancis, China, Rusia, dan Jerman).

Terkait dengan kehendak melakukan dialog langsung atas isu nuklir Iran antara Washington dan Tehran yang akhir-akhir ini kerap dilontarkan Pemerintahan Obama, telah jelas jauh dari harapan bagi realisasinya. Pasalnya, Imam Ali Khamenei selaku pemegang otoritas tertinggi Republik Islam Iran menolak tawaran tersebut. AS dinilai tidak dalam posisi memiliki niat yang tulus menyelesaikan perkara nuklir Iran, karena pada saat yang sama Washington tetap mempertahankan berbagai sanksi yang telah diberlakukannya terhadap Tehran, sebagai bentuk tekanan dan upaya mengisolasi Iran. Secara retorik dapat ditanyakan; apakah layak disebut “dialog” antara dua pihak, dimana satu pihak tidak memperlakukan pihak lain secara setara dan mengakui hak-hak legalnya? Dengan konsistensi yang ditunjukkan Iran selama ini, dan cara AS memainkan isu nuklir tersebut, maka akan sangat sulit membayangkan bakal terjadinya dialog langsung antara Tehran dan Washington.

Merujuk pada posisi kepentingan AS atas berlarutnya isu nuklir Iran plus tawaran terakhir tentang dialog langsung dengan Tehran yang lebih terlihat basa-basi, juga fakta-fakta berbagai bentuk bantuan menguatkan pemberontak dan oposisi Suriah, menjadi tidak realistis Washington membuat skala perbandingan pilihan prioritas dari kedua masalah tersebut. Ini tidak lebih kepada kepentingan menggiring opini public pada dua kepentingan citra Pemerintah Obama, bersih dari campur tangan bantuan militer kepada pemberontak yang semakin memperdalam krisis di Suriah, sekaligus menunjukkan kesan serius dan tulus menyelesaikan isu nuklir Iran.

Dalam asumsi lain, sangat mungkin AS mulai ‘cuci tangan’ dalam merespon situasi terkini yang menunjukkan semakin jauhnya harapan memenangkan pertarungan di Suriah. Beberapa fakta atas friksi yang terus menajam dikalangan kelompok-kelompok Aliansi Oposisi akan mempersulit langkah-langkah diplomasi Washington. Ditambah dengan semakin tidak terkendalikannya tingkat ketundukan para pemberontak bersenjata di lapangan pada alur kentingan Barat dan Israil secara khusus, menjadi boomerang tersendiri bagi mereka. Publik Barat secara luas sangat mengetahui bahwa kelompok-kelompok pemberontak bersenjata di Suriah didominasi oleh organ-organ ataupu jaringan teroris internasional, sepertihalnya Al Qaeda. Barat dalam hal menangani masalah Suriah telah diyakini bekerjasama dengan jaringan-jaringan teroris Islam internasional itu. Meskipun Kerry dengan nada bersumpah mencoba menjawab kekhawatiran tersebut dalam sebuah konferensi pers di London (25/2/2013), Kerry menyatakan bahwa Washington “ditentukan” untuk mendukung pemberontak bersenjata anti-Damaskus dalam upaya mengubah situasi yang mendukung teroris. Model pernyatan ini menuai kritik secara luas oleh diplomat tertinggi AS, digambarkan sebagai retorika kurang bijaksana.

Selain itu, kenyataan dukungan Negara-negara sekutu Assad terhadap Damaskus, Pemerintahan Assad sepertinya masih akan tetap tegak dari topangan loyalitas mayoritas rakyat Suriah. Salah satu Harian berpengaruh  AS yang dikutip Wartanews menginformasikan, para pejabat Barat telah secara jelas mengakui bahwa “Aliansi Oposisi” sangat tidak mungkin untuk mengembangkan infrastruktur pemerintahan atau menarik banyak dukungan dari pagar-duduk minoritas Suriah. Jika merujuk pada pertimbangan itu, sangat mungkin produksi beberapa opini terakhir oleh AS adalah dalam rangka mereka sedang menempuh suatu exit strategy dari sandraan kemelut krisis Suriah.

Link Bacaan:
 http://www.tempo.co/read/news/2013/03/26/115469575/Operasi-Terselubung-CIA-di-Suriah
• http://www.wartanews.com/internasional/2fd0fe37-8c45-8e0d-b498-fa1ef5394fcd/terbongkar-peran-as-melatih-mempersenjatai-teroris
http://www.nytimes.com/2013/02/19/world/middleeast/as-assad-holds-firm-obama-could-revisit-arms-policy.html?pagewanted=all&_r=0
• http://www.voaindonesia.com/content/iran-tolak-pembicaraarn-nuklir-langsung-dengan-as/1598953.html
• http://indonesian.irib.ir/hidden-2/-/asset_publisher/yzR7/content/id/5084169
 http://www.cbsnews.com/8301-202_162-57576722/ap-master-plan-underway-to-help-syria-rebels-take-damascus-with-u.s.-approved-airlifts-of-heavy-weapons/
• http://www.theglobal-review.com/
• http://www.aktual.co/internasional/111844inggris-kirim-senjata-seharga-usd30-juta-ke-pemberontak-

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com