About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Isu MorowaliMorowali: Antara Investasi dan Kolonisasi

Rusman

Rusman·3 December 2025·3 min read

Share
Isu Morowali: Antara Investasi dan Kolonisasi

Ngobrol Geopolitik Helicopter View dengan Ichsanuddin Noorsy di Tebb-Six Coffee, JakSel

Mencermati kegaduhan isu Bandara PT IMIP di Morowali dari perspektif helicopter view, jangan melihat cuma dari sisi pandang: Oh, itu ada dua (arus) power di internal rezim sedang bergesekkan. Atau hanya menyoal legalitas bandara belaka. Bisa juga memandang ada republik di dalam republik dan lain-lain. Itu model pendangkalan masalah. Begitulah pola desepsi untuk membonsai isu utama alias mengkerdilkan pokok permasalahan.

Seyogianya, tariklah sudut pandang melalui helicopter view. Bahkan lebih atas lagi agar melihat permasalahan secara totalitas. Lalu mengurai struktur masalahnya guna menemukan hal-hal yang lebih penting, sensitif dan strategis.

Contohnya adalah:

1. Kepemimpinan yang belum jejeg (tegak). Silakan maknai sendiri apa yang dimaksud dengan kepemimpinan belum jejeg. Entah tersandera kasus, misalnya, atau karena faktor lain. Ini memang bagian dari krisis kepemimpinan yang mendera negeri ini sejak sistem bernegara produk amandemen (1999-2002) —UUD NRI 1945 atau kerap disebut UUD 2002—. Bangsa ini berganti wajah menjadi individualis, liberal dan kapitalis. Sistem politik bekerja membidani sosok-sosok penguasa daripada pemimpin. Maka lahirlah politisi, bukan negarawan.

2. Pada gilirannya, kedaulatan dan konstitusi negeri ini bukan hanya tergerus oleh kepentingan asing. Tapi justru “dicaplok” atas nama investasi. Kenapa? Bahwa tren yang muncul kini: investasi justru mengatur konstitusi, lalu melemahkan kedaulatan negeri; bukannya konstitusi yang menentukan investasi, dan menegakkan kedaulatan.

Inilah kelemahan paradigmatik dari rezim yang memposisikan investasi korporasi (domestik dan asing) secara berlebihan. Birokrat, politisi dan teknokrat pun mengejar angka pertumbuhan ekonomi sebagai iman pembangunannya. Padahal sudah lima dekade teori pertumbuhan ekonomi ini gagal.

Sekali lagi, rezim yang bertaklid buta kepada pertumbuhan ekonomi dalam pembangunan, cenderung kurang mampu. Mereka menunjukkan sikap enjoy the power. Tidak peka. Tak bisa membedakan antara investasi dan invasi. Bahkan ia bingung sendiri, saat menyaksikan infiltrasi. Mereka gagap menyaksikan ranah kolonialisasi.

Agaknya, isu bandara IMIP di Morowali sudah merembes pada keduanya, baik mengendalikan konstitusi demi kepentingan investasi. Itu ditandai dengan bebas pajak hingga puluhan tahun bagi investor dan seterusnya. Lalu korporasi pun menggerus kedaulatan negeri (tak ada otoritas negara). Jika hal itu berkelanjutan secara sistematik, maka kondisi itu berpotensi berimigrasi dari kolonisasi menjadi kolonialisasi (gaya baru). Penjajahan non militer.

Atau, jangan-jangan bangsa ini memang sudah dijajah secara non militer oleh asing bermodus investasi, sedang elit politik dan bangsa ini tidak menyadari?

Teringat teori “7i”-nya Ichsanuddin Noorsy. Ketika sebuah rezim yang mendewakan investasi secara membabi-buta, maka bersiaplah bangsa itu untuk diinvasi, diintervensi, diinfiltrasi, diinterferensi, diindoktrinasi dst di mana ujungnya kelak ialah instability/inflasi.

Jadi, isu Morowali bukanlah sekadar masalah struktural fungsional (strategi, implementasi, instrumental dll) belaka. Tapi masalah struktural fundamental di negeri ini karena terkait paradigma, value, dan kebijakan di hulu, yakni desain konstitusi yang liberal lagi kapitalistik serta tidak/belum mempunyai struktur hubungan tata cara kerja antar lembaga-lembaga negara (dan pemerintah).

Hadirnya negara di Morowali melalui puluhan ribu pasukan berbungkus Latihan Gabungan (Latgab) TNI dan (semestinya melibatkan) Polri bukan cuma sekadar memutus rantai kolonisasi yang diduga kuat hendak digeser oleh pihak-pihak tertentu menjadi kolonialisasi gaya baru. Tetapi, Latgab tersebut semata-mata demi memurnikan kembali “keimanan kedaulatan dan konstitusi” yang nyaris roboh digoda “berhala investasi”.

Retorika pamungkas sebelum menyudahi catatan singkat ini adalah, “Siapa entitas yang alergi terhadap kemurnian dan tegaknya kedaulatan di sebuah negara?” Jawabannya ada tiga: asing dan antek asing serta para pemburu rente. Dan kelak, kaum pengkhianat yang menyerahkan sebagian wilayah kepada asing bakal dijerat dengan pasal makar (106 KUHP).

Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousNarasi Investasi: Modus Penjajahan Gaya Baru Berwajah HalusNextDemokrasi Digital: Antara Ilusi, Kebohongan, dan Masyarakat Terbelah

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents