About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kebijakan Luar NegeriKebijakan Luar Negeri AS di Kawasan Heartland Tetap Tidak Berubah Dalam Era Donald Trump (2024-2028)

Hendrajit

Hendrajit·9 November 2024·5 min read

Share
Kebijakan Luar Negeri AS di Kawasan Heartland Tetap Tidak Berubah Dalam Era Donald Trump (2024-2028)

Pemilihan Presiden AS sudah berakhir. Donald J. Trump berhasil mengalahkan Kamala Haris sebagai presiden Amerika. Adakah perubahan yang drastis terkait kebijakan luar negeri AS? Dalam perspektif keamanan nasional AS, meskipun dalam doktrinnya bisa saja berbeda prioritas dan penegasan ketika dijabarkan oleh setiap presiden Amerika yang berbeda, namun tetap merujuk pada satu frase kalimat:  US National Interest is the survival of homeland and the US Political Order.

(Dirgo D. Purbo, Geopolitik Perminyakan (2006). Jakarta: Verburn-Center for The Study of Intelligence And Counter-Intelligence).

Kepentingan nasional (the survival of homeland) yang ditujukan untuk mengamankan kepentingan nasionalnya, tentu saja yang dimaksud adalah mengutamakan perlindungan kepentingan korporasi-korporasi multinasional yang bersenyawa dengan ambisi geopolitik para elit politik pemerintahan negara yang bercokol di Gedung Putih maupun para kongres yang bermarkas gedung Capitol Hill. Alhasil, bila kepentingan tersebut dipandang oleh Washington dalam keadaan bahaya atau terancam, maka opsi penggunaan sarana militer akan digunakan. Bukan saja dalam pengertian untuk bertahan, melainkan jadi pembenaran untuk menginvasi negara-negara yang dipandang membahayakan kepentingan korporasi-korporasi multinasional AS di pelbaga kawasan dunia.

Lantas, kawasan manakah yang dalam  visi geopolitik Donald Trump yang saat ini masih punya nilai strategis? Agaknya, kawasan Asia Timur an Asia Tengah yang dalam pandangan pakar geopolitik asal Inggris, Halford Mackinder, merupakan daerah jantung atau heartland, sampai sekarang masih merupakan ajang perebutan pengaruh bagi negara-negara consume minyak dan gas bumi seperti AS, Inggris, Rusia, Jerman, Italia, Prancis, Cina, dan Jepang.

Dengan kata lain, daerah jantung atau  heartland yang meliputi Asia Timur dan Asia Tengah tersebut, merupakan kawasan yang kaya  atas sumberdaya alam seperti  minyak mentah dan mineral (khususnya petrokimia dan logam).  Menurut catatan pakar geopolitik perminyakan Indonesia, Dirgo D. Purbo, salah satu sebab Amerika menjadi kekuatan utama dunia lantaran dimilikinya basis mineral dan kekuatan industri yang luar biasa besarnya dan tersebar di seluruh dunia. Selain itu mempunyai produksi industri sipil dan militer yang terintegrasi untuk mendukung perang modern. Sebab, senjata moder tak dapat diproduksi tanpa basis industri dan sumberdaya alam nasional.

Itulah sebabnya minyak menjadi sangat strategis bagi Inggris dan AS, terutama sejak tahun 1882, ketika Laksamana Lord Fischer dari Inggris mencanangkan agar mengubah sistem pembakaran mesin-mesin kapal perang yang semula menggunakan bahan bakar batu bara, kemudian diganti dengan menggunakan bahan bakar minyak.

Inilah yang oleh Dirgo dikatakan bahwa negara-negara industri maju seperti AS dan Eropa Barat begitu tinggi ketergantungan suplai minyaknya dari kawasan heartland atau daerah jantung, menurut istilah Mackinder. Memang kalau kita telaah, potensi kandungan minyak di kawasan Asia Tengah, misalnya, terutama di Laut Kaspia, merupakan magnet dari kebijakan geostrategi AS. Setidaknya ada dua potensi rute pipanisasi untuk menyalurkan minyak dari kawasan ini:

  1. Melalui Afghanistan dan Pakistan dan selanjutnya ditransfer ke Tanker
  2. Juga melalui Afghanistan, namun dipesan ke jaringan pipa di Irak

Maka tampak jelas sekarang mengapa AS semasa pemerintahan George W. Bush (2000-2010) menetapkan Afghanistan dan Irak jadi prioritas untuk diinvasi secara militer, meski dengan menggunakan dalih untuk menumpas sarang terorisme dan kepemilikan senjata biologis atau pemusnah massal. Padahal tujuan strategis sesungguhnya adalah penguasaan sumberdaya alam minyak dan mineral, seraya mengamankan jalur rute suplai minyak ke AS dan Eropa. Sebab sebagian besar kebutuhan minyak negara-negara net-importers didatangkan dari kawasan Heartland. Dengan itu, bagi AS menguasai minyak dibingkai oleh skema imperialisme ekonomi, politik dan  pertahanan-keamanan.

Ketika jaminan keamanan suplai minyak dari kawasan Heartland (yang punya cadangan minyak begitu besar seperti Teluk Persia dan Laut Kaspia),  menjadi satu hal yang krusial dalam kebijakan geostrategi AS, maka minyak erat kaitannya dengan imperialisme ekonomi. Dan memang itulah yang menjadi pondasi kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah dan Asia Tengah.

Dengan begitu sekarang terjelaskanlah sudah, mengapa Afghanistan (2001) dan Irak (2003)  menjadi sasaran utama invasi AS. Irak yang termasuk kawasan Heartland, memang punya nilai strategis dan ekonomi yang cukup tinggi. Di sini pula kepentingan-kepentingan bisnis minyak korporasi-korporasi multinasional di kawasan Heartland sangat tinggi sekaligus rentan.

Sepertinya, arah kebijakan luar negeri Trump (2024-2028) terhadap Timur Tengah dan Teluk Persia, akan tetap sama seperti era kepresidenan Joe Biden. pasokan minyak dari kawasan ini adalah 42% dari total konsumsi dalam negeri para negara Barat. Sebab pasokan minyak dari kawasan ini adalah 42% dari total konsumsi dalam negeri negara-negara Barat.

Lantas, apakah eskalasi konflik militer di Timur Tengah juga akan semakin menguat? Mungkin ada baiknya kilas balik sejenak menelisik Timur Tengah dekade 1970-an.  Salah satunya,  kebijakan Barat yang layak dicermati terkait minyak ialah “arm sales and security assistance” terhadap negara yang memiliki jaminan pembayaran seperti Arab Saudi, Iran, Kuwait, Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Irak. Dan setidaknya pasca Oil Shock atau Bom Minyak tahun 1973 dan 1979, kompetisi pemasaran senjata dan peralatan perang canggih di antara negara-negara Barat itu sendiri malah bertambah meningkat.

Menggebunya penjualan alat dan persenjataan militer oleh Barat di Timur Tengah dan kawasan sekitar, motivasi utamanya selain sebagai pembayaran impor minyak (oil bills) juga untuk mendukung industri pertahanannya. Henry Kissinger mengistilahkan recycle petrodollar. Menjual senjata untuk membeli minyak, lalu minyak guna kesinambungan industri senjata.

Itulah kira-kira singkatnya. Dengan demikian, “cengkraman” kepada Timur Tengah oleh AS hingga kini, atau dominasi Uni Eropa (NATO) terhadap Afrika dan Timur Tengah, baik melalui recycle petrodollar ataupun arm sales and security assistance dengan berbagai cara dan bentuk kemasan, semata-mata karena panggilan kepentingan nasional (minyak) yang teramat vital bagi kelangsungan kehidupan di Barat.

Apalagi, kalau merujuk masa kepresidenan Trump pada periode 2016-2020, bisnis persenjataan memang dimanfaatkan betul untuk mengimbangi kerugian perdagangan AS dengan negara-negara berkembang termasuk ASEAN. Bahkan mengeluarkan Undang Undang (CATSA) untuk memberikan sanksi ekonomi dan embargo kepada negara-negara yang membeli peralatan militer strategis dari negara-negara yang dipandang sebagai musuh AS seperti Cina dan Rusia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousPrakiraan Gejolak 2025 di Indonesia (1)NextMenyingkap Tabir “Proyek Israel Raya”

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents