About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Economy & Business

Kelas Menengah Kecut, Tabungan Mencuat: Paradoks Dua IndonesiaParadoks Dua Indonesia

Rusman

Rusman·14 January 2026·5 min read

Share
Kelas Menengah Kecut, Tabungan Mencuat: Paradoks Dua Indonesia

Oleh: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta

Mengapa orang Indonesia tiba-tiba menahan konsumsi dan memilih menebalkan tabungan, seperti tercermin dalam Survei Konsumen Bank Indonesia beberapa bulan terakhir?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya tidak bisa berhenti pada satu kalimat “masyarakat sedang berhati hati”. Sebab yang kita hadapi bukan satu perilaku masyarakat, melainkan dua wajah Indonesia yang bergerak berlawanan arah.

Survei Konsumen BI untuk Desember 2025 mencatat proporsi pendapatan untuk konsumsi berada di 74,3 persen, sementara proporsi tabungan naik menjadi 14,9 persen. Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen tetap kuat di 123,5. Sepintas ini kabar baik: masyarakat optimistis, konsumsi sedikit menurun, tabungan meningkat. Namun angka rata-rata sering seperti foto udara sebuah kota. Dari atas tampak rapi, tetapi kita tidak melihat gang sempit yang tergenang.

Masalahnya begini. Di satu sisi, kelompok menengah ke atas memang terlihat membaik. Mereka menumpuk tabungan, memperkuat dana darurat, dan menunda belanja yang tidak wajib. Di sisi lain, ada kelompok menengah yang sedang turun kelas. Daya belinya menurun, tabungannya tergerus, dan perilakunya makin mirip masyarakat bawah, yakni mengutamakan bertahan hidup dan pada titik tertentu membutuhkan bantuan pemerintah.

Analogi Perahu Dua Dek

Bayangkan perekonomian sebagai perahu dua dek yang berlayar di laut yang ombaknya tidak menentu. Penumpang di dek atas melihat langit masih cerah. Mereka memilih mengenakan jaket pelampung, menyimpan barang berharga lebih rapat, dan menunggu ombak reda sebelum berjalan ke restoran.

Itulah menengah ke atas: menahan konsumsi karena pilihan, bukan paksaan. Sementara itu, penumpang di dek bawah mulai merasakan air masuk dari celah. Mereka tidak punya kemewahan memilih. Mereka harus mengurangi bekal, menutup lubang, dan kadang membagi makanan agar semua selamat.

Inilah menengah yang turun kelas: menahan konsumsi karena terdesak. Pada kelompok ini, tabungan bukan sedang ditambah, melainkan dipakai untuk menambal defisit harian.

Ketika kita hanya membaca angka rata-rata, kita seperti kapten yang hanya memeriksa dek atas, lalu menyimpulkan semua penumpang aman.

Mengapa Menengah Turun Kelas Itu Kritis

Kelas menengah adalah mesin konsumsi sekaligus bantalan stabilitas sosial. BPS menegaskan bahwa kelas menengah dan kelompok yang menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk pada 2024 dan porsi konsumsi pengeluaran dari dua kelompok ini mencapai 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat. Artinya, kalau segmen ini goyah, ekonomi nasional ikut limbung.

Di sinilah kita perlu jujur membaca sinyal. Berbagai laporan menyoroti menyusutnya kelas menengah. Reuters mencatat porsi kelas menengah turun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024.

Angka ini bukan sekadar statistik demografi. Ia menjelaskan mengapa banyak bisnis merasa penjualan tidak lagi segarang dulu, mengapa konsumen melakukan trade down, dan mengapa sektor barang tahan lama mudah tersendat.

Kelompok menengah yang turun kelas juga sering terjebak di area abu-abu kebijakan. Mereka tidak miskin sehingga tidak selalu mendapat bantuan, tetapi tidak lagi kuat untuk menjaga konsumsi.

Mereka mulai menunda perawatan kesehatan, mengurangi kualitas pangan, menahan biaya pendidikan tambahan, dan menekan belanja produktif lain yang seharusnya meningkatkan mobilitas sosial. Dalam jangka panjang, ini bukan sekadar isu konsumsi, tetapi isu kualitas manusia.

Apakah Ini Sementara atau Struktural

Kenaikan tabungan pada menengah ke atas bisa menjadi kebiasaan baru yang sehat. Pengalaman pandemi membuat banyak rumah tangga mapan menempatkan dana darurat sebagai pos utama. Ketika ketidakpastian global naik turun, menambah tabungan terasa rasional.

Namun pada menengah yang turun kelas, pola ini berbahaya bila menjadi permanen. Jika penahanan konsumsi mereka terjadi karena pendapatan riil tidak mengejar biaya hidup dan kualitas pekerjaan tidak membaik, maka kita menghadapi perubahan struktural: kelas menengah mengecil, kelompok rentan membesar, dan konsumsi jangka panjang melemah.

Itulah sebabnya kebijakan tidak boleh hanya merayakan “tabungan meningkat”. Kita harus bertanya, tabungan siapa yang meningkat, dan tabungan siapa yang habis.

Dampak ke Ekonomi: Stabilitas Naik, Mesin Melambat

Kenaikan tabungan memang bisa memperkuat stabilitas keuangan. Dana yang lebih besar di sistem perbankan memperbaiki likuiditas dan berpotensi menurunkan risiko. Dalam Survei Konsumen BI Agustus 2025 misalnya, proporsi konsumsi 74,8 persen dan proporsi tabungan 13,7 persen, menggambarkan pola alokasi pendapatan yang dapat berubah sesuai suasana ekonomi.

Pada Desember 2025, proporsi tabungan 14,9 persen menunjukkan kecenderungan menahan dana lebih besar. Tetapi ada sisi lain. Jika penurunan konsumsi dipimpin oleh kelompok menengah yang turun kelas, maka permintaan domestik melemah dari sumber paling besar.

Sektor yang paling cepat merasakan biasanya ritel non pangan, restoran kelas menengah, hiburan, perjalanan, otomotif, dan barang tahan lama. Menengah ke atas mungkin menunda upgrade, tetapi menengah turun kelas berhenti membeli. Perbedaan ini penting karena dampak ekonominya berbeda. Menunda masih menyimpan potensi rebound, berhenti membeli sering menjadi tanda pendapatan yang menyusut.

Jalan Keluar: Jangan Memilih antara Konsumsi dan Tabungan

Rekomendasi kebijakan seharusnya tidak mengadu konsumsi melawan tabungan. Negara tidak perlu mendorong masyarakat berhenti menabung. Yang dibutuhkan adalah memastikan rumah tangga cukup aman untuk konsumsi normal, dan punya ruang untuk menabung tanpa mengorbankan kebutuhan dasar. Untuk menengah ke atas, kebijakan terbaik adalah mengarahkan tabungan mereka menjadi pembiayaan produktif.

Jika tabungan hanya parkir, ekonomi kehilangan tenaga. Tetapi jika tabungan mengalir ke kredit produktif, obligasi ritel yang membiayai proyek bernilai tambah, atau instrumen yang menyalurkan dana ke UMKM yang sehat, maka tabungan menjadi bahan bakar pertumbuhan.

Untuk menengah yang turun kelas, fokusnya harus pemulihan daya beli dan pengurangan ketidakpastian. Stabilitas harga kebutuhan pokok adalah kunci pertama. Penciptaan pekerjaan formal dengan upah layak adalah kunci kedua.

Perluasan jaring pengaman yang adaptif adalah kunci ketiga, karena banyak rumah tangga rentan baru berada tepat di atas garis bantuan tradisional. Mereka tidak meminta kemewahan, hanya butuh bantalan agar tidak jatuh lebih dalam.

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan sekadar “mengapa masyarakat menahan konsumsi”. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah “siapa yang menahan konsumsi karena memilih, dan siapa yang menahan konsumsi karena terpaksa”.

Selama kita menyamakan keduanya, kebijakan akan terus meleset. Kita akan mengira ekonomi baik baik saja karena tabungan naik, padahal sebagian rumah tangga sedang menghabiskan tabungan untuk bertahan.

End

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousAkhir Sejarah yang Tak Pantas DirayakanNextSaatnya Indonesia dan BRICS Memprakarsai Sistem Keuangan Global Alternatif yang Lebih Setara dan Multipolar

More in Economy & Business

View all
Berita Besar
Economy & Business

Berita Besar

15 August 2026 · 3 min read

Perang AS vs Iran Mengguncang Ketahanan Energi, Perdagangan Dan Sistem Pangan Global
Analysis

Perang AS vs IranAS vs Iran Mengguncang Ketahanan Energi, Perdagangan Dan Sistem Pangan Global

25 July 2026 · 5 min read

Kalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia China
Analysis

Kalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia ChinaPetrokimia China

16 June 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents