About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kenapa Umat Islam Kerap Dijadikan Sasaran Adu DombaAdu Domba?

Rusman

Rusman·29 July 2025·3 min read

Share
Kenapa Umat Islam Kerap Dijadikan Sasaran Adu Domba?
Tak boleh dipungkiri, di Indonesia — muslim merupakan mayoritas populasi. Secara (geo) politik, ini adalah potensi kekuatan baik modal sosial, modal ekonomi, modal politik maupun modal kultural. Dengan populasi 85-an persen penduduk Indonesia beragama Islam, umat muslim memiliki potensi besar dalam membentuk arah politik, sosial, dan budaya negara. Dalam teori kekuasaan, pihak manapun yang ingin mempertahankan atau merebut kendali tentu akan berfokus pada kelompok mayoritas ini. Jika mayoritas bersatu, arah kekuasaan akan sulit dikendalikan dari luar. Kebhinekaan di internal umat Islam, di satu sisi adalah ‘kekayaan’, tetapi juga celah strategis pada sisi lain. Celah untuk diadu domba. Ya. Muslim di Indonesia sangat beragam. Ada NU, Muhammadiyah, Persis, Salafi, Jamaah Tabligh, Syi’ah, Sunni dan lainnya. Selain itu, ada pula kategori sosial-budaya seperti santri – abangan, contohnya, atau tradisional – modern, ataupun nasionalis – islamis dst. Sekali lagi, keragaman ini bisa menjadi kekayaan, namun juga celah untuk diadu domba — apalagi jika perbedaan itu dibumbui dengan isu politik, ekonomi, atau isu identitas. Hal itu, sebenarnya merupakan pola pengulangan “Warisan Kolonial”. Dulu. Belanda secara aktif menerapkan _devide et impera_ (pecah belah lalu kuasai) di Hindia Belanda, dengan memecah belah antara: Priyayi Vs Santri; Islam Vs Kristen; Etnis Jawa Vs non-Jawa; Elite lokal Vs rakyat biasa. Dan agaknya, strategi ini masih dipakai dalam praktik politik praktis di era kini, baik oleh aktor domestik maupun (khususnya) pihak asing. Kenapa begitu? Dari aspek sejarah perjuangan kemerdekaan, Islam itu dinilai sebagai “ideologi perlawanan”. Bahwa sepanjang sejarah Indonesia, Islam kerap menjadi dasar perlawanan terhadap ketidakadilan, baik perlawanan terhadap penjajahan, Orde Baru, maupun perlawanan pada globalisasi yang berintikan neoliberalisme. Karena itu, menjaga umat Islam agar tidak bersatu secara ideologis menjadi kepentingan banyak pihak yang merasa terancam oleh kekuatan ini. Maka, kebhinekaan di internal muslim perlu dieksploitatif. Dipecah belah, dibentur – benturkan, lalu dikuasai. Contoh benturan internal yang dimanfaatkan, misalnya: 1. Syi’ah Vs Sunni. Meski Syi’ah minoritas, isu ini sering diangkat untuk menciptakan kegaduhan di kalangan Sunni sendiri; 2. Muhammadiyah Vs NU. Dua ormas Islam besar ini kadang dibenturkan walau secara substansi banyak kesamaan dalam visi kebangsaan; 3. Islamis Vs Nasionalis. Politik identitas ini kerap dimainkan dalam pemilu, terutama sejak Pilkada DKI 2017 lalu; 4. Abangan Vs Santri. Perbedaan cara beragama kadang dijadikan narasi untuk menciptakan dikotomi Islam garis keras Vs Islam moderat demi kepentingan tertentu. 5. Dan banyak varian adu domba lainnya. Lalu, apa tujuan? Tak lain, melemahkan potensi kebangkitan politik Islam yang mampu melawan status quo atau hegemoni entitas tertentu guna menjaga dominasi elite politik lama karena takut kehilangan basis kekuasaan jika umat Islam bersatu dalam platform politik ataupun ekonomi alternatif, dengan cara, misalnya: * Memecah basis suara pemilu agar umat Islam tidak solid mendukung satu kekuatan politik. * Mengalihkan perhatian dari isu-isu struktural seperti korupsi, ketimpangan ekonomi, atau penjajahan sumber daya dst. Padahal, secara konstitusi UUD 1945 Naskah Asli, persoalan di atas hanya isu-isu hilir. Residu dari isu hulu yakni kudeta konstitusi terhadap UUD warisan Pendiri Bangsa. Bagaimana umat muslim menyikapi? Umat Islam jangan bodoh! Dan jangan mau dibodohin! Sekali lagi, umat Islam jangan bodoh dan jangan mau dibodoh-bodohin! Oleh karena itu, kudu dibangun kesadaran kolektif umat Islam, bahwa perbedaan ialah keniscayaan, bukan perpecahan sebagai pilihan. Umat harus menguatkan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Jangan sampai perbedaan mazhab, ormas, atau beda strategi dakwah dijadikan alat untuk saling cela, saling caci dan jadi menu bentrokan. Umat harus mewaspadai narasi dan framing media ataupun perilaku elite politik yang cenderung provokatif, terutama menjelang momen politik besar. Umat muslim harus balik ke substansi Islam yang menyerukan keadilan, persatuan, dan kepedulian sosial — bukan sekadar simbol atau sentimen identitas. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousVisa dan Mastercard Panik, QRIS Santai SajaNextMembaca (Pro Kontra) Isu Pemerkosaan Massal Pada Mei 1998 di Jakarta dari Perspektif Asymmetrical War

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents