About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kerja Sama ASEAN-SCO Bernilai Strategis Dalam Perspektif GeopolitikPerspektif Geopolitik

Hendrajit

Hendrajit·23 January 2025·5 min read

Share
Kerja Sama ASEAN-SCO Bernilai Strategis Dalam Perspektif Geopolitik

Ada dua frase kata yang cukup menarik, diutarakan oleh Sekretaris Jenderal Shanghai Cooperation Organization (SCO), Zhang Ming, pada 8 Agustus 2024 lalu, bertepatan dengan hari jadi ASEAN yang ke-57. Zhang Ming menegaskan siap membuka peluang baru untuk menjalin kemitraan di beberapa bidang yang menjadi kepentingan bersama antara SCO dengan negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Kedua, ASEAN-SCO dapat berkontribusi untuk memperkuat perdamaian dunia.

Baca: SCO siap buka peluang baru untuk kemitraan dengan ASEAN

Kalau kita menelisik kembali awal mula terjalinnya kerja sama ASEAN-SCO, sebenarnya sudah dimulai ketika   Nota Kesepahaman antara SCO dan Sekretariat ASEAN ditandatangani pada tahun 2005. Empat tahun setelah SCO itu sendiri dibentuka atas prakarsa Cina, Rusia dan negara-negara di kawasan Tengah.

SCO yang pada 2001 lalu hanya sebatas kerjasama bidang ekonomi, perdagangan dan kontra-terorisme di kawasan Asia Tengah antara Rusia, Cina dan negara-negara Asia Tengah, pada perkembangannya telah menarik minat dua negara Asia Selatan yaitu India dan Pakistan, dan baru-baru ini, yang kemudian disusul Iran, bergabung sebagai anggota terbaru SCO.

Dengan begitu, menyusul masuknya Iran  dari kawasan Asia Barat sebagai anggota baru pada SCO Summit Meeting awal Juli 2023 lalu, nampaknya semakin beralasan bagi Indonesia maupun  negara-negara  di kawasan Asia Tenggara (ASEAN)  untuk semakin serius menjalin kerjasama strategis baik dengan Cina-Rusia maupun negara-negara di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan, yang mana sebagian besar negara-negara di kedua kawasan tersebut masih tergolong negara-negara berkembang, untuk menjalin kemitraan strategis dalam kerangka SCO.

Selain daripada itu, SCO saat ini lingkup kerjasamanya sudah meluas ke bidang politik dan keamanan, maupun sosial-budaya. Bagi ASEAN, utamanya Indonesia, bergabung dengan SCO hendaknya jangan hanya dipandang  sekadar berfungsi sebagai “kekuatan penyeimbang” dalam polarisasi yang kian menajam di Asia Pasifik antara blok AS-NATO dengan blok Cina-Rusia, namun lebih strategis dari itu, gagasan dasar terbentuknya kerjasama SCO yang mengaitkan konektivitas geografis dan kerjasama di bidang ekonomi-perdagangan, nampaknya lebih punya nilai strategis alih-alih sekadar meraup keuntungan dari segi ekonomi, perdagangan, investasi maupun keuangan.

Shanghai Cooperation Organization (SCO) leaders' summit in Samarkand

Pertimbangan geopolitik juga harus jadi bahan pertimbangan dan masukan. Betapa tidak. Kawasan Asia tengah dengan titik sentralnya wilayah Negara Uzbekistan, sejatinya merupakan jantung lintasan “Silk Road” atau Jalur Sutera, sekaligus merupakan cross-road (persimpangan) penting penghubung Benua Asia dan Eropa.

Baca: Buku karya  Drs. Mohamad Asruchin, MA, yang bertajuk: Perjalanan Seorang Diplomat Menyusuri Jalur Sutra. (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2020)

Silk Road atau Jalur Sutra merupakan lintasan perdagangan antara Asia (Cina) ke Eropa (Roma) dan Timur Tengah yang sudah berlangsung sejak Dinasti Han (202 SM-220 M). Mengapa disebut Jalur Sutra? Saat itu kekaisaran di Cina ingin memperdagangkan produk sutera yang melimpah di wilayah kekuasaannya untuk dibarter dengan produk dari daratan Eropa seperti Emas, perak, gading, wol, obat-obatan, minyak wangi, batu mulia, kaca serta barang-barang dari logam.

Nilai strategis Geopolitik Jalur Sutra yang menjadi basis kerjassama strategis Cina-Rusia dengan negara-negara Asia Tengah, nampak jelas melalui skema kerjasama Cina-Kyrgyzstan melalui beberapa proyek pembangunan infrastruktur sebagai implementasi dari program Silk Road China di Kyrgyzstan sebagai  gateway atau pintu masuk penting Cina menembus pasar Asia Tengah.

Sedemikian strategisnya kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan bagi Amerika Serikat (AS), sehingga Zbigniew Brzezinski dalam bukunya yang bertajuk The Grand Chessboard, mantan Kepala Dewan Keamanan Nasional AS pada era Presiden Jimmy Carter itu mengatakan bahwa “control of Eurasian landmass is the key to global domination and control of Central Asia is the key to control of Eurasian landmass.”

Tak heran jika Cina, Rusia dan AS, sebagai tiga negara adikuasa dunia, berupaya melancarkan manuver geostrategis-nya di kawasan Asia Tengah-Selatan sesuai kepentingan nasionalnya masing-masing.

Telaah Zbigniew Brzezinski dalam bukunya yang bertajuk The Grand Chessboard, memang cukup beralasan. Saat ini, total jumlah penduduk seluruh kawasan Asia Tengah-Asia Selatan berjumlah sekitar 1,7 miliar, dan seperti saya singgung pada awal pemaparan tadi, berperan sebagai penghubung antara benua Eropa dan Timur Tengah. Maka dari itu kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan praktis merupakan sentra geopolitik penting yang jadi sorotan negara-negara adikuasa baik AS, Uni Eropa, Rusia dan Cina.

Selain itu, dari perspektif pemetaan sumberdaya alam, Asia Tengah saat ini muncul sebagai “pasar baru” dengan potensi  minyak dan gas bumi-nya yang sangat besar. Pun juga dari segi ekonomi, nilai strategis geopolitik Asia Tengah dan Asia Selatan ditandai dengan kemunculannya sebagai the emerging market atau pasar yang sedang tumbuh.

Berarti, negara-negara Asia Tengah merupakan pasar baru yang potensial untuk digarap. Dengan memanfaatkan kekayaan alam terutama energi yang melimpah begitu pula cadangan minyak dan gas bumi yang begitu besar. Sehingga bisa menjadi sumber alternatif di luar negara-negara Timur Tengah.

Dengan demikian pernyataan Sekretaris Jenderal SCO Zhang Ming bahwa terjalinnya kemitraaan ASEAN-SCO dapat membuka peluang-peluang baru di beberapa bidang atas dasar kepentingan dasar kedua kekuatan regional tersebut, kiranya juga cukup beralasan. Buktinya, menyusul terbentuknya SCO, kemudian ditindaklanjunti dengan kerja sama antara Cina-Rusia-negara-negara Asia Tengah, membentuk kerja sama secara khusus di bidang ekonomi, dengan mendirikan  EAEU (Eurasian Economic Union).

Melalui dua skema kerjasama politik-keamanan (SCO) maupun ekonomi (EAEU) tersebut, maka kedua organisasi tersebut selanjutnya dikerjasamakan dengan SCO yang dimotori oleh Rusia dan Cina dengan bersendikan negara-negara di Asia Tengah. Yang mana lingkup keanggotaannya kemudian meluas dengan bergabungnya India dan Pakistan dari Asia Selatan, maupun Iran yang menyusul kemudian.

Melalui gambaran tersebut tadi, bagi ASEAN utamanya Indonesia, forum kerjasama ASEAN-SCO jangan hanya dipandang sebatas menjalin aliansi strategis dengan Cina-Rusia maupun Asia Tengah.  Melainkan juga Asia Selatan.

Sekadar gambaran geopolitik Asia Selatan-Asia Tengah. Wilayah Asia Selatan dan Tengah meliputi 15 negara yaitu: Afghanistan, Azerbaijan, Bangladesh, Bhutan, India, Iran, Sri lanka, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Maladewa, Nepal, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan.

Dari penuturan tersebut, nampak jelas bahwa Indonesia dan ASEAN menjalin kemitraan strategis dengan SCO, berarti sekaligus juga membangun aliansi strategis bersifat jangka panjang dengan negara-negara Asia Tengah dan Asia Selatan dalam kerangka Global South. Mengingat fakta masih banyak negara-negara di kedua kawasan tersebut masih tergolong negara-negara miskin.

Bergabungnya Indonesia baru-baru ini ke dalam blok kerja sama perdagangan BRICS yang juga dimotori oleh Cina-Rusia, maupun ke dalam SCO melalui kerangka kerja sama strategis ASEAN-SCO, sejatinya  tetap mencerminkan azas Politik Luar Negeri RI yang Bebas-Aktif, yang pro aktif dalam gerakan, dan konstruktif dalam kebijakannya. Selain itu, juga mengaktualisasikan Spirit Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 dan Konferensi Gerakan Nonmblok di Beograd pada 1961.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousMenjerat Elang, Menjebak Naga! (Bagian-2)NextPertemuan ASEAN-GCC-Cina di Malaysia (2025) Momentum Mengutuk Aksi Genosida Israel di Gaza

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents