About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kudeta KonstitusiKudeta Konstitusi: Di Antara Perubahan, Keberlanjutan dan Distrust (Bagian 2/Tamat)

Rusman

Rusman·27 February 2024·5 min read

Share
Kudeta Konstitusi: Di Antara Perubahan, Keberlanjutan dan Distrust (Bagian 2/Tamat)
Tatkala euforia reformasi dibablaskan oleh kelompok neoliberal (neolib) dengan cara mengobrak-abrik UUD 1945 karya the Founding Fathers, maka segelintir neolib tersebut kerap disebut dengan istilah ‘bablasan reformasi’. Kenapa hal itu bisa terjadi? Salah satu penyebab, bahwa kaum reformis kala itu menerapkan apa yang disebut dengan istilah Reforma Pactada seperti pernah terjadi di Eropa Timur. Yakni elemen dan unsur masa lalu masih turut serta dalam mengendalikan pemerintahan baru, bahkan ditempatkan pada kementerian strategis. Repot. Seyogianya, yang dijalankan kaum reformis dahulu ialah Ruptura Pactada seperti di Amerika Latin, dimana unsur masa lalu sirna alias tidak ikut dalam rezim baru, sehingga ‘bablasan reformasi’ mati kutu. Siapa sesungguhnya pemilik hajatan yang meremot mereka —kaum neolib— dari balik layar. Sedikit orang memahami hal itu. Pertanyaan selidik pun muncul: “Adakah keterlibatan pihak asing dalam ‘Kudeta Konstitusi’ pasca-dua belas TAP MPR terbit di tahun 1998?” Jawabannya: “Ada”. Sekali lagi, ADA! Bahkan sangat terorganisir, sistematis dan masif, baik dari American Group, misalnya, atau European and Australian Group, para operator asing yang berkolaborasi dengan LSM Lokal, ataupun LSM Lokal yang bertindak sebagai kurir dan pelobi ke DPR RI guna menyampaikan draft proposal perubahan UU, maupun agen asing (proxy agent) itu sendiri yang bekerja sebagai operator di kementerian guna melakukan liberalisasi UU, dan seterusnya. Penelusuran John Helmi Mempi, pengamat intelijen, bahwa ada keterlibatan asing yang berkolaborasi dengan pemain lokal dalam pembentukan UU antara 1999-2004, antara lain yaitu: Pertama, American Group terdiri atas UNDP (United Nations Development Programm), World Bank, IMF, ADB (Asian Development Bank), Nathan Associates, kInc, Checchi & Company Consulting, Inc dan REDE. Kedua, European & Australian Group, antara lain ODA (Official Development Assistance), EU-MEE (European Union), HDC (Henry Dunant Center), Delegation Of The European Commission to Indonesia, CGI (Concultative Group on Indonesia), AUSAID, dan the Asia Foundation. Ketiga, NGO yang bertindak sebagai operator bersama-sama LSM Lokal yaitu Partnership for Goverment Reform (PGR), dan patner dari USAID antara lain ELLIPS (Economic Law & Improved Procurement System) Project, NDI (National Democratic Institute) dan PEG (Partnership For Economic Group), IFES (International Foundation for Electoral System), IRI (International Republican Institute), ICG (International Crisis Group), ACILS (American Center for International Labor Solidarity). Termasuk JICA (Japan International Cooperation Agency), Ford Foundation IDEA (International Institute for Democracy and Electoral Assistance), Sweden; TI (Transparancy International), Berlin; INFID (International NGO Forum On Indonesian Development) dan organ-organ di bawahnya. Keempat, LSM Indonesia yang bertindak selaku kurir dan pelobi ke DPR-RI untuk menyampaikan draft proposal RUU, meliputi LP3ES (Lembaga Penelitian Pendidikan & Pengembangan Ekonomi Dan Sosial), CETRO (Center For Electoral Reform) bertindak sebagai koordinator 66 LSM, Masyarakat Transparansi Indonesia (PSHK & Hukum Online), ICW (Indonesia Corruption Watch), KRHN (Konsorsium Reformasi Hukum Nasional), LBH Jakarta, MAPPI (Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia), dan TII (Transparency International Indonesia). Kelima, ada pula dari beberapa Perguruan Tinggi Negeri/Swasta (tak perlu disebut nama). Keenam, Kelompok Studi dan Kajian yang terdiri atas Lembaga Pengkajian Hukum Acara & Sistem Peradilan Indonesia, Kelompok Kajian Dasar Ilmu Hukum, Lembaga Studi Hukum Ekonomi, Lembaga Konsultasi & Bantuan Hukum Pilihan Penyelesaian Sengketa, Kelompok Kajian Hukum Fiskal, Kelompok Kajian Hak Atas Kekayaan Intelektual, Lembaga Kajian Islam, Lembaga Kajian Hak Asasi Manusia, Lembaga Kajian Pasar Modal & Keuangan, dan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia. Ketujuh, beberapa agen asing bekerja sebagai operator dalam liberalisasi UU yang beroperasi di Departemen (Kementrian) pada masanya, antara lain: A. Thomas A. Timberg (World Bank), Penasehat Bidang Usaha Kecil di Bank Indonesia; B. Susan L. Baker, Konsultan Bidang Konstruksi Perbankan di Bank Indonesia; C. Stephen L. Magiera, Ahli Perdagangan Internasional – Konsultan PEG di Kementrian Perdagangan dan Perindustrian; D. Gerry Goodpaster, Ahli Desentralisasi, Internal Carriers to Trade & Local Discriminatory Action di Kementrian Perdagangan dan Perindustrian; E. Paul H. Brietzke, Legal Advisor di Kementrian Hukum dan HAM; F. Robert C. Rice, Ahli Small Medium Enterprise di Kementrian Usaha Kecil Menengah & Koperasi; G. Arthur J. Mann & Burden B. Stephen, Ahli Perpajakan di Kementrian Keuangan; H. Harry F. Darby, Ahli Regulasi Komunikasi di Kementrian Kominfo; I. Richard Balenfeld & Don Fritz, Konsultan PEG Bidang Pelayaran & Pelabuhan di Kementerian Perhubungan. Tak boleh dipungkiri, inilah silent invasion (invasi senyap) asing yang menyerang langsung ke sistem negara dan berhasil membuat produk aturan dan kebijakan yang tak sedikit jumlahnya. Sangat sukses. Sebab, selain banyak anak bangsa menari-nari dalam gendang yang ditabuh oleh asing, juga tanpa sadar terjangkit virus stockholm syndrome, apa itu? Tidak sedikit orang justru jatuh cinta kepada entitas dan/atau golongan yang hendak merampas kehidupannya. Tanpa sengaja, malah membela dan mempertahankan ‘produk-produk’ penyelewengannya. Ya. Selain mengganti UUD, dalam catatan penulis, ada 50-an lebih UU sudah dibikin di antaranya ialah UU No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, misalnya, atau UU No 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No 23/2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dan puluhan UU lainnya. Poin intinya, UUD NRI 1945 hasil amandemen empat kali (1999-2002) dan produk turunannya telah mengubah wajah konstitusi menjadi liberal, individualis dan kapitalistik. Itulah sepintas catatan John Helmi Mempi, dalam tulisan bertajuk; “Asing Terlibat Amandemen 1945”. Sepengetahuan penulis, data dan informasi yang disampaikan oleh John Mempi baru sebagian saja, karena masih banyak hal lain belum diungkap, entah person ataupun hidden agenda yang tidak disebut. Nah, merujuk uraian-uraian di atas baik narasi di Bagian1 maupun Bagian 2 catatan ini, penulis memberanikan diri menarik sebuah asumsi baru —teori yang dianggap benar— bahwa pelengseran Pak Harto dan Orde Baru sebenarnya hanya sasaran antara saja, karena tujuan utama justru “Kudeta Konstitusi” terhadap UUD 1945 rumusan para Pendiri Bangsa, serta mengubah konstitusi kita menjadi liberal, individualis, dan kapitalistik. Itu poin pokoknya. Demikian tulisan sederhana dibuat. Tak ada niat dan maksud menyinggung dan/atau menggurui siapapun terutama senior dan para pihak yang berkompeten. Tidak sama sekali. Catatan ini hanya sekedar sharing data serta wawasan. Kritik dan saran masih sangat diperlukan agar tulisan ini lebih mendekati kebenaran. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKepemimpinan Di Era SimulakraNextKudeta Konstitusi: Di Antara Perubahan, Keberlanjutan dan Distrust (Bagian 1)

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents