About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Membaca Hubungan Internasionalisme Amerika dan Aliansi Haram di Muka BumiMuka Bumi

Rusman

Rusman·27 October 2025·3 min read

Share
Membaca Hubungan Internasionalisme Amerika dan Aliansi Haram di Muka Bumi
Ngobrol Geopolitik dengan Ichsanuddin Noorsy di Tebb-Six Coffee, JakSel Ada asumsi yang hingga kini masih berputar-putar di langit geopolitik global guna memperoleh jawaban, yaitu “Apakah pada internasionalisme Amerika Serikat (AS) terkandung nasionalisme predatoris AS?” Ya, apa yang disebut “internasionalisme (politik) AS” ialah keterlibatan aktif AS dalam urusan global, pembentukan institusi internasional. Contohnya pada promosi nilai-nilai demokrasi/pasar bebas dan sebagainya. Sejatinya ia hanya rangkaian kedok atau cara untuk memajukan kepentingan nasional AS secara agresif dengan merugikan negara lain. ​Berikut adalah rincian mengenai bagaimana argumen ini dikembangkan: Internasionalisme sebagai Kedok ​Definisi Internasionalisme AS ialah memandang dirinya sebagai pemimpin dunia yang menjamin stabilitas, mempromosikan demokrasi, menjaga keamanan, dan mendukung perdagangan bebas melalui institusi multilateral seperti PBB, WTO, NATO, dan lain-lain. Itulah klaim dan dianggap sebagai justifikasi moral yang menutupi motif sebenarnya. Institusi dan perjanjian yang dibentuk pada dasarnya dirancang untuk mengabdikan diri kepada dominasi AS setelah Perang Dunia II. Sifat Nasionalisme Predatoris Artinya, bahwa kepentingan nasional AS (baik ekonomi, keamanan, maupun politik dan sebagainya) dipromosikan dengan cara yang agresif dan merusak, dan sering kali dengan mengorbankan negara lain. Misalnya adalah:
  • Dominasi Ekonomi (neo-kolonialisme). Sistem perdagangan bebas dan lembaga keuangan internasional (IMF, Bank Dunia) didorong oleh AS, akan tetapi menguntungkan perusahaan-perusahaan AS serta membuat negara-negara berkembang rentan terhadap eksploitasi dan utang;
  • Penggunaan sanksi ekonomi sebagai alat kebijakan luar negeri dipandang sebagai bentuk pemaksaan ekonomi (koersi) untuk menghancurkan pesaing atau menundukkan negara yang tidak patuh;
  • Intervensi Militer dan Keamanan. Dan kerap, atas nama “demokrasi” atau “melindungi hak asasi manusia” sering dinilai sebagai tindakan untuk mengamankan/mencaplok sumber daya (seperti minyak) atau menggulingkan rezim yang tidak bersahabat dengan kepentingan strategis AS sebagaimana kasus di Libya, Irak, Syria dan lain-lain;
  • Kehadiran pangkalan militer AS di seluruh dunia dilihat sebagai alat untuk memprojeksikan kekuatan (show of force), bukan semata-mata menjaga perdamaian global;
  • Proteksionisme Selektif. Meski AS mengadvokasi perdagangan bebas, namun ia tetap menggunakan proteksionisme (seperti tarif) ketika industri atau kepentingan strategis domestiknya terancam (seperti dalam kasus konflik dagang AS – Tiongkok). Ya. AS bermain dengan aturan ganda, bahkan dengan aturan bermuatan berlapis demi memenuhi ego keserakahannya.
Simpulan prematurnya, argumen tersebut menyatakan bahwa internasionalisme AS bukanlah bentuk altruisme global, melainkan bentuk agenda-politik tersembunyi (hidden agenda). Tujuan utamanya untuk memastikan keunggulan abadi AS dalam politik, militer, dan ekonomi global — sebuah agenda yang secara inheren bersifat predatoris terhadap negara-negara lain. Aliansi Haram Dalam geopolitik, berkembang istilah “Unholy Alliance” atau Tritunggal Haram. Dalam konteks keindonesiaan dapat diterjemahkan sebagai “Aliansi Busuk”, yaitu kritik yang sering digunakan untuk merujuk pada tiga institusi ekonomi global utama: IMF, World Bank (Bank Dunia), di mana IBRD (International Bank for Reconstruction and Development) merupakan bagian darinya, dan ​WTO. Kritik “Aliansi Busuk” muncul karena ketiga lembaga ini dipandang bekerja sama dan berbagi ideologi yang sama yaitu Neoliberalisme atau Konsensus Washington, yang intinya adalah mempromosikan kapitalisme korporat global. Ketiganya, alih-alih menjalankan mandat awal (stabilitas moneter, pembangunan, dan perdagangan yang adil), justru ketiga lembaga tersebut berfungsi sebagai “Polisi Keuangan” dengan cara:
  • Memaksakan reformasi ekonomi (misalnya, privatisasi, deregulasi, pemotongan belanja publik) melalui pinjaman (khususnya IMF dan Bank Dunia), yang sering kali merugikan masyarakat miskin di negara berkembang;
  • Membuka pasar di negara berkembang secara paksa (melalui aturan WTO) demi kepentingan perusahaan-perusahaan transnasional dari negara-negara maju (terutama AS dan Eropa);
  • Menyinambungkan ketidaksetaraan global antara negara kaya dan negara miskin.
​Dengan demikian, sebutan “Unholy Alliance” atau “Aliansi Busuk” menegaskan bahwa kerja sama ketiga institusi ini secara efektif menjadi mesin dari nasionalisme predatoris AS (dan negara-negara Barat lainnya) dengan menggunakan klaim “internasionalisme” sebagai pembenaran untuk dominasi ekonomi global. Demikian bacaan geopolitik tentang hubungan antara internasionalisme AS yang terkandung nasionalisme predatoris dengan Aliansi Busuk yang hingga kini terus menggejala sejak usai Perang Dunia II silam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousCatatan Kecil Tentang Teori Langit Dalam Praktik UUD 2002NextFilipina Selatan: Kolonialisme Intern?

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents