About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Membaca Pagar Laut Dari Perspektif Babat AlasBabat Alas

Rusman

Rusman·24 January 2025·2 min read

Share
Membaca Pagar Laut Dari Perspektif Babat Alas
Kajian Kecil Meta-Geopolitik Kendati telah menjadi trending topic berbulan-bulan, nyaris tidak ada berita yang mampu menggantikan isu pagar (ilegal) laut sepanjang 30-an Km di pesisir antara Jakarta – Tangerang, Banten. Viral. Tak habis-habis dan selalu menjadi tajuk berita, kenapa? Banyak ulasan menarik baik repitisi topik maupun isu baru muncul entah dari pengamat, pakar dari berbagai disiplin ilmu maupun statement pejabat terkait. Di dunia media sosial jangan ditanya. Super gaduh. Contohnya, berawal hanya pagar laut misterius, kemudian merambat soal sertifikasi laut (HGB), sekarang meluas pula sampai ke “PIK” di Surabaya. Tampaknya, perairan di Sidoarjo pun dikavling-kavling. Sudah disertifikasi. Entah nanti melebar ke daerah mana lagi. Wait and see. Belum lagi ‘benturan kecil’ antara KKP dan TNI meskipun sudah ada “executive order” dari Presiden untuk membongkar pagar ilegal demi akses nelayan melaut. Masih ada saja kementerian yang ngeyel. Namun, tiap-tiap instansi terkait akhirnya kembali satu langkah, satu suara. Syukurlah. Dari perspektif geopolitik, laut dan/atau lautan ialah prasarana pemersatu bangsa. Simbol kedaulatan negara. Apalagi Indonesia sebagai archipelago. Dua per/tiga wilayahnya adalah laut. Secara yuridis konstitusional, Putusan MK 85/PUU-XI/2013 secara tegas melarang pemanfaatan ruang dengan status HGB di atas wilayah perairan. Putusan tersebut menegaskan bahwa laut adalah ruang publik yang tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan privat atau komersial. Pertanyaan meta-geopolitik muncul, “Kenapa semua itu bisa terjadi di Bumi Pertiwi?” Bocoran A1 dari “Utara” menyatakan, bahwa dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045 tidaklah bersifat ujug-ujug. Tetapi, melalui proses dan tahapan, antara lain: 1. 2024 – 2029 adalah tahap babat alas. Istilah Jawa dinamai resik-resik, entah menghilangkan hal-hal buruk lagi merusak, mengurangi yang kontra produktif di satu sisi, namun pada sisi lain, menyempurnakan/memperkuat hal yang sudah baik, dan lainnya; 2. 2029 – 2034 adalah tahap kronologi. Pada tahap ini akan bermunculkan serta dimunculkan berbagai temuan dan karya anak bangsa yang menimbulkan decak kagum dunia; 3. 2035: tahap Al Amin. Indonesia dipercaya oleh dunia dengan segala dinamikanya; 4. 2045: Indonesia Emas atau Indonesia Mercusuar Dunia. Sebagai catatan khusus di sini, Indonesia Emas tidak identik dengan superpower, tak pula adidaya, atau “polisi dunia” dan lain-lain. Bukan! Namun, cenderung pada kiblat serta penerang dunia dengan paradigma, nilai-nilai, konsep dan lainnya. Secara meta-geopolitik, pagar laut selain diibaratkan kolam ikan yang dikeringkan (“ikan”-nya terlihat semua), juga semacam kotak pandora di era babat alas. Aib-aib bermuncul satu per/satu. Tidak ada yang kebetulan di muka bumi. Pas, kata orang Jawa. Ya, pas tahap babat alas, pas hal-hal kotor muncul di depan mata. Menunggu apa lagi? Di Bumi Periwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousAntara BRICS, Executive Order, Dan Antisipasi IndonesiaNextMenjerat Elang, Menjebak Naga! (Bagian-3)

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents