About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Membaca Varian Konflik Dari Perspektif GeopolitikPerspektif Geopolitik

Rusman

Rusman·6 December 2024·5 min read

Share
Membaca Varian Konflik Dari Perspektif Geopolitik
Dari perspektif geopolitik, apapun jenis peperangan atau konflik, ia hanyalah sebuah agenda/tema semata. Tak lebih. Entah konflik terbuka secara militer, misalnya, atau asymmetric warfare alias perang nirmiliter, ataupun proxy war, perang hibrida dan lain-lain. Sekali lagi, konflik hanya agenda. Secara geopolitik, perang merupakan implementasi geostrategi, sedang tujuan utama ialah meraih geoekonomi. Urutannya begini: geopolitik – geostrategi – geoekonomi. Jangan terbalik dan/atau dibolak-balik. Nanti bisa berbeda arti, maksud dan makna. Geopolitik itu mapping sumber daya; geostrategi itu agenda atau cara meraih target; dan geoekonomi adalah tujuan. Simpelnya begitu. Bila cermat dan jeli membuka lembar demi lembar sejarah, sesungguhnya hampir tidak pernah ada yang namanya benturan peradaban (clash of civilization) baik di level global, regional ataupun di tingkat nasional/lokal. Bahwa benturan yang kerap terjadi merupakan hasil rekayasa (geo) politik guna membenturkan sesama entitas, contohnya konflik Syi’ah melawan Sunni, ataupun antarideologi, konflik antaragama dan seterusnya dalam kerangka devide et impera. Contoh. Pada Perang Dunia I (PD I) yang dibenturkan adalah Kapitalisme versus Emperium/Kekaisaran; dalam PD II yang diadu ialah Kapitalisme melawan Fasisme; sedang agenda di Perang Dingin (Cold War) menghadapkan antara Kapitalis versus Komunis. Merujuk tesis Samuel P Huntington di buku Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996), yang dibenturkan pasca Perang Dingin adalah Peradaban Barat versus Islam (militan). Narasi konflik pun direkayasa. Lalu, merebak isu radikalisme Islam. Itulah beberapa tema dan/atau agenda benturan yang telah terjadi pada PD I, PD II, Cold War, dan benturan yang kini sedang berlangsung —Barat versus Islam— di muka bumi. Akan tetapi, sekali lagi, bila jeli dan arif mencermati bahwa agenda dimaksud cuma open agenda. Bagian luar skenario. Jangan tertipu oleh kulit. Ada hidden agenda di sana. Lantas, apakah hidden agenda dan hakiki benturan yang sesungguhnya? Geopolitik mengajarkan, bahwa tampilan dari semua dinamika isu, tema, agenda dan seterusnya yang muncul di atas permukaan hanya geostrategi (cara) dari sebuah kepentingan guna merebut serta meraih apa yang disebut geoekonomi. Poin inti geoekonomi itu ialah water, food and energy security. Jaminan pasokan atas kebutuhan air, pangan dan energi di sebuah negara. Dulu. Di zaman penjajahan klasik, arti geoekonomi itu identik dengan rempah – rempah. Ia diperebutkan oleh berbagai negara. Jika di Barat ada istilah Gold (Kekayaan), Glory (Kejayaan), and Gospel (Penyebaran Agama), itu yang tampak di permukaan sedanf muaranya tetap geoekonomi. Kemarin, makna geoekonomi sudah bergeser sesuai perkembangan zaman, dari rempah-rempah ke emas, minyak dan gas bumi. Nah, di era digital kini, geoekonomi tak ada beda dengan narasi-narasi di atas, tetapi plus ‘mineral lain’ (rare earth, nikel dan seterusnya) termasuk data-data. Nah, geoekonomi inilah yang diperebutkan di panggung geopolitik global atas nama national interest atau kepentingan nasional para pihak. Retorikanya adalah, mungkinkah Belanda dahulu mau menjajah Indonesia jika Bumi Pertiwi ini cuma penghasil ketela rambat; atau, apakah Irak bakal diserbu NATO (2003) dengan berbekal isu Saddam Hosein menyimpan senjata pemusnah massal (padahal, isu hoaks) bila Irak cuma penghasil nasi kebuli; atau, apakah Timor Timur akan lepas dari NKRI, jika tidak ditemukan minyak di Celah Timor; atau, mungkinkah Syria akan terus bergolak bila geoposisinya tidak di persilangan pipa minyak dan gas (geopolitical pipeline) lintas negara, bahkan antarbenua? Dan atau, atau, atau lainnya. If you would understand world geopolitics today, follow the oil, kata Deep Stoat, pakar strategi Amerika Serikat (AS). Bila ingin memahami geopolitik hari ini ikutilah aliran minyak. Sebab di situ, niscaya ada tabrakan kepentingan nasional dan kekuasaan dengan berbagai tema atau agenda. Henry Kissinger menambahkan dogma dalam geopolitik: “Control oil and you control nation, control food and you control the peoples.” Ya. Mereka saling intip, kadang bersinergi, namun kerap beradu kuat alias berupaya memonopoli produksi dan distribusi. Indikasinya jelas, misal, jika terjadi konflik di antara mereka artinya belum deal antarpara pihak. Pun sebaliknya, apabila tidak terjadi konflik, itu berarti masing-masing kepentingan (sudah) terakomodir. Clear. Pertanyaannya adalah, “Bukankah setiap negara bangsa telah membawa takdir (geopolitik) masing-masing, kenapa harus saling berebut?” Sampai di sini memang belum timbul persoalan. Permasalahan mencuat ketika timbul hal-hal sebagai berikut, misalnya: 1. Ada organisme penganut paradigma dominasi eksploitatif yang ingin memonopoli sumber daya atas takdir geopolitik negara lain terkait geoekonomi; 2. Faktor nasionalisme. Ya. Nasionalisme di Asia dan Afrika tidaklah sama dengan nasionalisme di negara-negara Barat. Di Barat, nasionalisme berkembang sebagai kekuatan agresif yang mencari ekspansi serta keuntungan bagi ekonomi nasionalnya. Nasionalisme di Barat merupakan kakek dari imperialisme, yang bapaknya adalah Kapitalisme. Di Asia dan Afrika dan saya kira juga di Amerika Latin, nasionalisme adalah gerakan pembebasan, suatu gerakan protes terhadap imperialisme dan kolonialisme (poin 2 ini cuplikan pidato Bung Karno di depan Majelis Umum PBB, 30 September 1960). Merujuk hal-hal di atas, bahwa agenda benturan peradaban yang pernah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi nanti — bukanlah sebuah prediksi atau hasil analisa strategis, tetapi lebih condong pada propaganda, atau hasil rekayasa dimana ujungnya adalah (geostrategi) merambah kedaulatan negara lain guna mencaplok geoekonomi negara target. Sedang hakiki skema yang berlangsung ialah benturan antara paradigma dominasi eksploitatif versus paradigma (langit) yang berkeadilan dan berkemanusian. Teringat ucapan bijak Mahatma Gandhi: “Bumi ini sebenarnya cukup bahkan berlebih untuk memberi makan semua penduduk bumi. Namun menjadi tidak cukup memberi makan satu orang yang rakus.” Uraian sepintas di atas, sekadar histori dan kronologi dalam dinamika geopolitik. Lantas, bagaimana ujud pertarungan alias modus tempurnya? Modus pertarungan secara militer, misalnya, ketika Saddam Hosein dulu distigma menyimpan senjata pemusnah massal oleh Barat. Itulah isu awal guna membentuk atau mempengaruhi opini global; kemudian penyerbuan koalisi militer (NATO) pimpinan AS ke Irak merupakan agenda; sedangkan kavling-kavling sumur minyak adalah skema kolonialis. Itulah pola ITS (isu, tema/agenda, skema) dalam “aneka pertempuran,” dan banyak lagi contoh lainnya. Bagaimana dengan model peperangan nirmiliter atau asymmetric warfare? Tak dapat dielak, Reformasi 1998 yang berujung Amandemen UUD 1945 (1999-2002) ialah “buah” dari peperangan asimetris yang digelar oleh AS cq National Democratic Institute (NDI) pimpinan Madane Albright yang dibantu oleh “londo blangkonan” di Bumi Pertiwi. Tanpa letusan peluru, serangan nirmiliter tersebut tepat mengena di jantung negara (konstitusi/UUD). Salamuddin Daeng menyebut peristiwa reformasi silam sebagai transfer of power dari tangan negara pindah ke tangan korporasi (swasta). Ekonomi sebelumnya berbasis kekeluargaan, gotong royong dan lain-lain vide Pasal 33 Ayat 1, 2 dan 3 UUD 1945 Naskah Asli, kini berubah menjadi ekonomi liberal dan kapitalistik vide Pasal 33 Ayat 4 dan 5 UUD NRI 1945), ayat-ayat tambahan pada UUD Produk Amandemen 1999-2002 dan UU turunannya. Itu poin pokoknya. Inilah bacaan sepintas soal varian peperangan yang ada (being), nyata (reality) dan berada (existance) di muka bumi. Let them think let them decide! M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMemprediksi Suriah Pasca Bashar al-AssadNextAliansi AS-NATO di Asia Tenggara (ASEAN) Membahayakan Spirit ZOPFAN 1971 dan TAC 1976

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents