About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Book Reviews

Menulis Ulang Sejarah Kiri Indonesia dari Perspektif GlobalPerspektif Global

Hendrajit

Hendrajit·6 August 2026·4 min read

Share
Menulis Ulang Sejarah Kiri Indonesia dari Perspektif Global

Lin Hongxuan, Klaas Stutje, dan Rianne Subijanto (editor). “The Indonesian Left in the Twentieth Century: Beyond the Rise and Fall of a Party.” Penerbit: Leiden University Press, 2026

Selama puluhan tahun, sejarah gerakan kiri di Indonesia hampir selalu ditulis melalui satu lensa yang sama: Partai Komunis Indonesia (PKI), pemberontakan, dan tragedi 1965. Narasi tersebut begitu dominan sehingga sejarah kiri Indonesia sering kali berhenti pada pertanyaan sederhana: bagaimana PKI tumbuh dan mengapa ia runtuh?

Buku “The Indonesian Left in the Twentieth Century: Beyond the Rise and Fall of a Party” hadir untuk menantang cara pandang yang sudah mengakar itu. Diterbitkan oleh Leiden University Press pada 2026, buku yang disunting oleh Lin Hongxuan, Klaas Stutje, dan Rianne Subijanto ini mengajak pembaca keluar dari narasi yang semata-mata berpusat pada PKI.

Sesuai dengan subjudulnya, “Beyond the Rise and Fall of a Party,” buku ini ingin melampaui kisah tentang naik dan jatuhnya sebuah partai, untuk melihat gerakan kiri Indonesia sebagai fenomena sosial, budaya, dan intelektual yang jauh lebih luas.

Buku ini lahir dari semangat generasi baru para sejarawan yang berupaya membuka kembali ruang kajian mengenai gerakan kiri Indonesia setelah sekian lama topik tersebut cenderung dibatasi oleh trauma politik maupun pendekatan historiografi yang sempit.

Para penyunting berpendapat bahwa memahami sejarah Indonesia abad ke-20 tidak mungkin dilakukan secara utuh apabila sejarah gerakan kiri hanya dipandang sebagai catatan tentang konflik ideologi atau keamanan negara.

Alih-alih memulai dari tragedi 1965, buku ini mengajak pembaca melihat bagaimana gagasan-gagasan kiri berkembang sejak masa kolonial. Di dalamnya diperlihatkan bahwa sosialisme, komunisme, anti-imperialisme, dan berbagai bentuk gerakan buruh maupun organisasi rakyat bukanlah sekadar “produk impor” dari Moskow atau Beijing.

Ide-ide tersebut mengalami proses penerjemahan, penyesuaian, bahkan transformasi sesuai dengan kondisi sosial, budaya, dan politik Indonesia. Dengan kata lain, gerakan kiri Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh pusat-pusat komunisme dunia, tetapi juga dibentuk oleh realitas lokal dan dinamika masyarakat Nusantara sendiri.

Inilah salah satu kekuatan utama buku ini. Para penulis tidak memosisikan Indonesia sebagai objek pasif dalam sejarah global, melainkan sebagai aktor yang ikut membentuk percakapan internasional mengenai kolonialisme, nasionalisme, dan gerakan anti-imperialis.

 

The Indonesian Left in the Twentieth Century: Beyond the Rise and Fall of a Party - Global Connections: Routes and Roots (Hardback)

Indonesia ditempatkan dalam jejaring yang menghubungkan Asia, Eropa, hingga dunia komunis internasional. Hubungan dengan Moskow dan Beijing memang penting, tetapi bukan satu-satunya penjelas atas perkembangan gerakan kiri di Indonesia.

Buku ini juga memperluas perhatian kepada aktor-aktor yang selama ini sering berada di pinggiran sejarah. Selain tokoh dan elite partai, pembaca diajak mengenal peran organisasi massa, buruh, perempuan, jaringan budaya, intelektual, hingga komunitas lokal yang ikut membentuk wajah gerakan kiri.

Pendekatan seperti ini membuat sejarah menjadi lebih kaya, karena memperlihatkan bahwa sebuah gerakan politik tidak hanya hidup melalui pidato para pemimpin, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari para anggotanya.

Secara metodologis, buku ini juga menunjukkan perubahan penting dalam studi Indonesia. Selama bertahun-tahun, penelitian mengenai PKI banyak didominasi pendekatan politik tingkat elite.

Kini muncul kecenderungan baru yang menggabungkan sejarah global, sejarah sosial, studi gender, kajian arsip lintas negara, hingga pendekatan transnasional. Pergeseran inilah yang membuat buku ini terasa segar dibandingkan karya-karya terdahulu.

Namun, buku ini bukanlah karya yang mudah dibaca oleh pembaca umum. Sebagai buku akademik, bahasanya cukup padat dengan konsep-konsep historiografi dan analisis lintas disiplin. Mereka yang mencari narasi kronologis sederhana tentang PKI mungkin akan merasa buku ini lebih banyak mengajukan pertanyaan daripada memberikan jawaban yang pasti.

Akan tetapi, justru di situlah nilai ilmiahnya. Buku ini tidak bermaksud menggantikan sejarah resmi dengan sejarah tandingan, melainkan memperluas cara kita memahami masa lalu.

Bagi pembaca Indonesia, buku ini menawarkan pelajaran yang penting. Sejarah selalu lebih rumit daripada narasi hitam-putih. Gerakan kiri Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai kisah tentang kemenangan atau kekalahan sebuah partai.

Ia juga merupakan bagian dari pergulatan panjang bangsa Indonesia dalam menghadapi kolonialisme, mencari keadilan sosial, membangun identitas nasional, dan berinteraksi dengan arus pemikiran dunia.

Karena itu, “The Indonesian Left in the Twentieth Century” layak dibaca bukan hanya oleh sejarawan, tetapi juga oleh mahasiswa, peneliti, jurnalis, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana sejarah Indonesia dibentuk oleh perjumpaan antara gagasan global dan pengalaman lokal.

Buku ini tidak mengajak pembaca menerima satu kesimpulan tertentu, melainkan mengajak melihat sejarah dengan perspektif yang lebih luas, lebih kritis, dan lebih terbuka terhadap kompleksitas.

Pada akhirnya, kontribusi terbesar buku ini bukanlah merehabilitasi atau menghakimi gerakan kiri Indonesia. Kontribusinya justru terletak pada upaya memperkaya historiografi Indonesia.

Dengan menggeser fokus dari sekadar “naik dan jatuhnya PKI” menuju jaringan ide, manusia, organisasi, dan hubungan transnasional yang membentuknya, buku ini memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia abad ke-20 jauh lebih kaya, berlapis, dan terhubung dengan dinamika dunia daripada yang selama ini banyak dibayangkan.

Itulah yang menjadikan buku ini salah satu karya akademik paling penting tentang sejarah politik Indonesia yang terbit pada 2026. *

Satrio Arismunandar, mantan Dewan Pimpinan Pusat SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) 1990-an di era Orde Baru. WA: 081286299061

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousMengapa Presiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?NextMembaca Arah Nasionalisme Ekonomi Indonesia dari Buku Eve Warburton

More in Book Reviews

View all
Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
Book Reviews

Ketika Artificial IntelligenceArtificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

16 August 2026 · 12 min read

Membaca “Defensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia
Book Reviews

Membaca “Defensive NationalismDefensive Nationalism” dalam Konteks Indonesia

12 August 2026 · 8 min read

Mengapa Presiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?
Book Reviews

Mengapa Presiden IndonesiaPresiden Indonesia Terlihat Sangat Kuat, tetapi Selalu Harus Berkompromi?

7 August 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents