About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Pergeseran Paradigma KepemimpinanPergeseran Paradigma Kepemimpinan dari Masa ke Masa (2/Habis)

Rusman

Rusman·28 May 2023·3 min read

Share
Pergeseran Paradigma Kepemimpinan dari Masa ke Masa (2/Habis)
Dongeng Kecil tentang Kepemimpinan Politik  Merujuk pertanyaaan di awal dongeng kecil ini, apakah pemimpin dilahirkan atau diciptakan? Jawabannya adalah: “Dua-duanya”. Pemimpin itu dilahirkan, juga diciptakan. Ia dilahirkan oleh situasi serta kondisi pada masanya, serta diciptakan melalui mekanisme —sistem politik— era berjalan. Pola kepemimpinan pada masa Orla, misalnya, kerap kali menampilkan sosok lapangan yang dugdeng dan mumpuni. Mengetahui benar jalannya hukum (‘sesuatu’) peristiwa; sedangkan di masa Orba menyuguhkan sosok pemimpin yang memiliki kharakter, berkualitas, dan profesional; sementara di era kini (Orde Reformasi) memunculkan kepemimpinan dadakan, karbit alias instan. Kenapa? Nyaris para pemimpin di era sekarang diproduksi oleh industri pencitraan cq lembaga survei, sementara ‘bahan baku’-nya, selain pencitraan itu sendiri, hyperreality, juga data-data yang diolah tidak nyata alias (realitas) semu. Ya. Bukankah pencitraan itu realitas semu? Garbage In Garbage Out (GIGO). Sampah masuk, sampah keluar. Kenapa semakin kemari, paradigma kepemimpinan justru melorot lagi longgar, tidak seketat dulu? Seperti sepintas diulas di muka, kepemimpinan itu dilahirkan situasi yang tengah berkembang dan diciptakan melalui mekanisme —sistem politik— yang dianut kala itu. Tak dapat dipungkiri, pasca-UUD 1945 diamandemen empat kali (1999-2002) oleh kaum reformis (gadungan), sistem politik atau konstitusi kita berubah individualis dan liberal. Poin ini kerap disampaikan berulang-ulang oleh Pak Try Soetrisno, Wapres RI ke-6, di setiap acara terkait kebangsaan entah beliau sebagai keynote speaker, ataupun opening speech dalam rangka menggugah kesadaran segenap anak bangsa serta generasi penerus. Singkat cerita, di era sekarang ini, kepemimpinan yang dibidani oleh aroma liberal-kapitalistik maka cenderung menampilkan sosok dealer, bukan leader. Ulangi sekali lagi, sistem di era kini cenderung membidani apa yang disebut dealer, bukan leader. Sosok penjual, bukannya pemimpin. Bayangkan, apabila kepemimpinan di setiap lini baik di level bawah, staf, maupun top management bermental dealer. Mental pedagang (salesman/girl). Maka, seumpama NKRI itu show room dengan aneka komoditas, apa-apa yang bisa dijual — bakal dijualnya melalui beragam modus dan dalih. Wajar bila naluri sales demikian, kenapa? Karena ia dilahirkan memang untuk menawar-nawarkan barang dagangan. Para dealer cuma berharap rente alias fee. Yang penting cuan masuk. Ada komoditas yang ‘dijual’ terang – terangan (terbuka) ataupun secara sembunyi-sembunyi. Jalan Tol misalnya, atau Pelabuhan Udara, terbukti beberapa Bandara dan ruas Jalan Tol ditawar-tawarkan bahkan dijual kepada swasta dan asing secara terbuka atas nama investasi. Boleh dibayangkan, jika aset-aset strategis bangsa yang merupakan simpul transportasi nasional justru dimiliki oleh swasta (asing). Lantas, bagaimana nasib aset-aset strategis lain yang dilego secara diam-diam melalui mekanisme yang tidak dipahami (diketahui) oleh khalayak awam? Kita benchmark sejenak. Tempo doeloe, China pernah menyerahkan pelabuhan lautnya kepada Inggris setelah kalah perang dalam Perang Candu I (1839 – 1842 ) dan Perang Candu II (1856 – 1860). Lalu, melalui traktat — China menyerahkan sebelas pelabuhannya kepada Britania Raya. Learning point yang bisa dipetik, bahwa upaya mempertahankan pelabuhan laut oleh China dilakukan via peperangan militer sengit, tidak lewat jalur yang ‘landai-landai’ saja, apalagi dijual? Demikian pula di Sudan. Ini isu paling aktual. Negeri kaya sumber daya alam itu sekarang timbul gejolak di internal negaranya, oleh karena terdapat beberapa jenderal sepakat menyerahkan pelabuhan laut kepada negara asing di satu sisi, sementara jenderal lainnya menentang hal dimaksud. Apa boleh buat, pecahlah perang di antara faksi militer di Sudan sampai sekarang belum reda sehingga menelan korban sipil sekitar 400-an jiwa. Inilah selintas dongeng tentang pergeseran paradigma kepemimpinan di republik ini sejak mulai zaman Orla, Orba hingga ke Orde Reformasi kini. Tidak ada maksud membanding-bandingkan antara model kepemimpinan yang satu dengan lainnya karena latar serta filosofi kelahirannya memang berbeda. Tetapi, manfaat dari peran dan fungsi kepemimpinan tersebut yang seharusnya diambil hikmahnya. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. Tamat M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousSkenario Di Atas SkenarioNextPergeseran Paradigma Kepemimpinan Dari Masa Ke Masa

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents