About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Pusat DataPusat Data Menjamur, Masyarakat AS Resah

Hendrajit

Hendrajit·19 June 2026·7 min read

Share
Pusat Data Menjamur, Masyarakat AS Resah

Di ere digital seperti sekarang ini, berbagai ragam media sosial sudah menyatu dalam ritme kehidupan masyarakat dan komunitas internasional. Sebagai misal, perangkat Artificial Intelligence atau AI seperti ChatGPT, praktis sudah menjadi perangkat komunikasi warga masyarakat di seluruh dunia.

Begitu pula aplikasi navigasi dan  platform streaming begitu mudah diakses dan digunakan sebagai perangkat komunikasi.

Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kemudahan untuk berkomunikasi, ternyata menyimpan sebuah masalah besar, yang pada perkembangannya bisa merugikan warga masyarakat. Di balik itu ada sebuah infrastruktur (bangunan fisik) yang tak terlihat oleh mata kebanyakan orang.

Apakah itu? Pusat Data. Betapa seiring dengan lonjakan pusat data baru di seantero negeri, pada perkembangannya bisa berakibat buruk dalam jangka panjang. Sebab lonjakan pusat data baru dapat mengubah jaringan energi lokal, sistem air dan penggunaan lahan.

 

Kotak-kotak logam berjejer di samping sebuah bangunan yang jauh lebih besar.

eretan generator terletak di samping gedung pusat data di Virginia utara. Sumber Foto: Andrew Caballero-Reynolds/AFP via Getty Images

 

Terkait dampak jangka panjang dari menjamurnya pusat data, sayangnya informasi terkait isu tersebut untuk publik, masih sangat terbatas. Gambaran tentang dampak buruk jangka panjangnya bagi kesejahteraan masyarakat dan kemanfaatannya, masyarakaat benar-benar  masih minim informasi.

Baca: From Energy Use to Air Quality, How Data Centers Affect US Communities

Memang benar bahwa meningkatnya jumlah pusat data tak dapat dihindarkan. Juga benar bahwa pusat data mendukung kehidupan modern dan dapat mendatangkan investasi, merangsang adanya inovasi,  serta lapangan kerja.

Namun segi rawannya adalah tentang bagaimana belum adanya kejelasan dan kepastian mengenai bagaimana cara terjadinya. Misalnya belum adanya aturan yang jelas mengenai pengadaan energi, penggunaan air, penentuan lokasi lahan, keterlibatan masyarakat, dan pemulihan biaya(cost recovery).

Padahal itu merupakan faktor penting yang akan menentukan apakah pertumbuhan ini memperkuat ekonomi dan infrastruktur lokal — atau justru mengalihkan risiko kepada penduduk, atau dengan kata lain, malah mengorbankan warga masyarakat (komunitas).

Di awal tulisan saya menyinggung adanya infrastruktur tidak kasatmata di balik pusat data. Pusat data adalah infrastruktur fisik internet. Di dalamnya terdapat server, peralatan jaringan, dan sistem pendukung—seperti pendinginan, cadangan daya, pemadam kebakaran, dan keamanan—yang menjaga agar layanan digital tetap berjalan dengan andal.

Di Amerika Serikat (AS) lah, pusat data mengalami ledakan pusat data. pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-20 dan berkembang pesat selama tahun 1990-an seiring dengan munculnya internet. Namun, ekspansi saat ini berlangsung dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih cepat daripada sebelumnya. Hal ini didorong oleh  investasi swasta senilai miliaran dolar ,  insentif pajak negara bagian , dan arahan federal yang bertujuan untuk  mempercepat perizinan . Kebijakan-kebijakan ini memprioritaskan fasilitas besar yang terkait dengan AI dalam upaya untuk memperkuat  daya saing AS .

Baca juga sebagai rujukan pembanding: 5 ways data centers endanger their local communities and the country as a whole

Saat ini ada sekitar 3900 pusat data di seluruh AS. Hampir 37% dari total pusat data di dunia. Dengan demikian, seperti saya sampaikan di awal, menjadi sangat penting dan krusial untuk mencermati dampak buruknya  bagi masyarakat. Ada beberapa poin yang kiranya layak untuk jadi telaah strategis.

Pertama, meningkatnya kemajuan teknologi dan meningkatnya permintaan komputasi, pusat data menjadi semakin boros energi. Jadi kalau satu pusat data mampu menggunakan daya sebanyak 100.000 rumah, meningkatnya pusat data yang lebih besar diperkirakan akan mengonsumsi hingga 20 kali lipat jumlah tersebut.

Kedua, semakin membesarnya pusat data membutuhkan sejumlah besar air untuk menjaga agar server tetap cukup dingin untuk berfungsi. Sekadar gambaran,  Fasilitas berukuran sedang dapat menggunakan hingga  300.000 galon  air per hari, sementara fasilitas besar dapat mengonsumsi hingga  5 juta galon  per hari — setara dengan jumlah air yang digunakan oleh sebuah kota kecil. Apa dampak buruknya dalam jangka menengah dan panjang bagi komunitas dan warga masyarakat? Permintaan yang sangat besar ini merupakan masalah mendesak bagi komunitas yang sudah menghadapi kekeringan atau menipisnya pasokan air.  Dua pertiga  dari semua pusat data yang dibangun atau sedang dalam pengembangan sejak tahun 2022 berlokasi di  daerah yang kekurangan air  seperti Arizona selatan, Cekungan Sungai Colorado, dan Texas.

Tidak mengherankan jika kemudian beberapa komunitas dari Negara Bagian Carolina Selatan, yang bermukim di wilayah yang mengalami penipisan air tanah,  berupaya membatasi pengambilan air tanah untuk pusat data. Sehingga mereka menuntut tindakan tata kelola untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat melalui pemantauan penggunaan air, perencanaan kontingensi kekeringan, dan penilaian risiko air spesifik lokasi yang mengevaluasi dampak pada pasokan air lokal.

Ketiga, polusi udara juga berdampak buruk bagi masyarakat dan warga masyarakat. Pusat data membutuhkan pasokan daya yang konstan dan andal. Banyak fasilitas bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar gas untuk operasi rutin, di samping generator diesel untuk cadangan darurat. Keduanya memiliki risiko iklim dan kesehatan.

Selain itu, Beberapa pusat data menggunakan tenaga gas di lokasi untuk operasional sehari-hari, yang menyebabkan polusi udara dan emisi gas rumah kaca secara terus-menerus. Salah satu contoh yang paling terlihat terjadi di Memphis, Tennessee, di mana lebih dari 30 turbin gas alam yang ditujukan untuk penggunaan sehari-hari sedang dipasang di pusat data Colossus baru milik xAI. Sehingga dalam jangka panjang akan memperburuk kualitas udara yang saat inipun sudah berbahaya.

Keempat, Warga di Loudon County, Virginia,  melaporkan  gangguan tidur, sakit kepala, dan bahkan penurunan kualitas hidup karena pusat data di dekat mereka. Mengapa bisa begitu? Konstruksi pusat data, sistem pendingin atap, dan generator cadangan dapat menimbulkan kebisingan yang mengganggu. Generator diesel yang lebih kecil dilaporkan  mencapai 85 desibel , tingkat kebisingan yang dapat merusak pendengaran. Unit industri yang lebih besar dapat mencapai 100 desibel — setara dengan suara sepeda motor atau mesin bor. Dan kebisingan itu berlangsung berjam-jam.

Kelima, merebaknya persaingan lahan. Pusat data besar mengubah cara penggunaan lahan di banyak komunitas. Pada tahun 2024,  rata-rata lahan pusat data  mencakup sekitar 224 hektar atau 0,35 mil persegi — kira-kira seukuran 450 lapangan sepak bola. Ini menunjukkan peningkatan 144% sejak tahun 2022. Pengembang semakin mencari lahan luas untuk kampus multi-bangunan yang memungkinkan pembangunan bertahap dan perluasan di masa depan. Fasilitas berskala luas membutuhkan lahan yang lebih luas lagi, dengan kampus terbesar melebihi 1.000 hektar, atau sekitar 1,6 mil persegi. Begitulah menurut laporan terbaru dari  Wisconsin Farm Bureau.

Yang krusial kemudian, meningkatnya pencarian lahan luas berskala luas beririsan dengan penggunaan lahan pertanian di pedesaan.  Di Wisconsin, tempat sekitar 50 pusat data berada,  penduduk khawatir  bahwa perubahan zonasi untuk pengembangan pusat data dapat mempercepat hilangnya lahan pertanian produktif, yang sudah menurun karena tekanan pembangunan, konsolidasi lahan, dan persaingan akhir-akhir ini.

Bukan itu saja. Di Ohio, proposal untuk mengubah zonasi 300 hektar lahan pertanian untuk mendukung pengembangan pusat data memicu penentangan yang begitu luas sehingga pemilik lahan akhirnya  menarik permohonan mereka.

Keenam, merugikan komunitas yang terpinggirkan.  Analisis terbaru menunjukkan bahwa beberapa pola penempatan pusat data dapat memperburuk tantangan lingkungan dan ekonomi yang telah berlangsung lama.  Tinjauan  nasional terhadap sekitar 700 pusat data di seluruh AS menemukan bahwa hampir setengahnya berada di wilayah sensus dengan beban lingkungan di atas rata-rata, seperti polusi udara, akses taman, dan pencemaran air bersih. Bahkan banyak di antaranya berlokasi di daerah dengan indikator kerentanan sosial, seperti kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah.

Di  Carolina Selatan , fasilitas baru dan pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang dibangun untuk menyuplai daya ke fasilitas tersebut sering kali ditempatkan di dekat komunitas kulit hitam dan berpenghasilan rendah.

Ketujuh, mengorbankan kesejahteraan sosial. Pengembangan pusat data memang dapat menciptakan peluang ekonomi nyata. Namun manfaat itu harus mempertimbangkan biaya sosial bagi public dalam jangka panjang. Perlu program prioritas bagi masyarakat seperti  investasi dalam sistem air, gardu listrik, saluran transmisi, jalan raya, dan layanan darurat.

Tujuh masalah krusial seturut menjamurnya pusat data, yang berakibat membahayakan warga masyarakat memang bukan rekaan belaka. Menjamurnya Pusat Data yang yang berakibat membahayakan kesejahteraan ekonomi maupun keamanan warga masyarakat, merupakan akibat keputusan buruk yang dibuat oleh pengembang, pemerintah daerah maupun para pemangku kepentingan lainnya (stakeholders).

Banyak pengembang membuat perjanjian kerahasiaan (NDA) dengan pejabat setempat, yang dapat membatasi akses publik terhadap informasi tentang skala proyek, kebutuhan sumber daya, dan potensi dampaknya.

Sebuah  tinjauan  terhadap 31 kotamadya di Virginia yang memiliki pusat data yang sudah ada atau yang diusulkan menemukan bahwa 25 (80%) telah memiliki NDA. Di  tingkat federal , kebijakan perizinan baru telah mempercepat persetujuan untuk proyek pusat data besar, memperpendek jangka waktu peninjauan lingkungan dan mengurangi peluang untuk masukan dari masyarakat setempat.

Tampaknya praktek kolusi, korupsi dan nepotisme ala Indonesia juga berlangsung di AS. Maka itu perlu sebuah pemahaman baru. Bagaimana pusat data dikelola akan menentukan apakah masyarakat mendapat manfaat dari ekonomi digital — atau malah menanggung beban risiko yang membahayakan masyarakat.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute.

 

 

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousLaporan DNI AS Mengonfirmasi Aktivitas Laboratorium Bio-Militer di 30 NegaraNextKalah Dalam Persaingan Geopolitik, AS Mengguncang Kerajaan Sutra dan Petrokimia China

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents