About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Revolusi WarnaRevolusi Warna di Indonesia dan Upaya Asing Melestarikan Liberalisasi Konstitusi

Rusman

Rusman·2 September 2024·3 min read

Share
Revolusi Warna di Indonesia dan Upaya Asing Melestarikan Liberalisasi Konstitusi
Kontra Skema atas Operasi Garuda Biru Bila mencermati kronologis gerakan massa tanggal 22 Agustus 2024 hingga kini, bahwa urutan aksi dimulai setelah beredar logo Garuda Biru dengan slogan singkat: “Peringatan Darurat”. Dejavu. Tiba-tiba, ingatan saya terdampar pada dua peristiwa silam tentang Revolusi Warna (Color Revolution) di jajaran Pakta Warsawa tahun 2000-an yang kemudian dikenal dengan istilah Balkanisasi, serta isu Arab Spring yang memporak-porandakan beberapa negara di Jalur Sutra tahun 2010-an (silakan baca: Melacak Revolusi Warna, Virus Ganti Rezim di Berbagai Negara. Tampaknya, antara Color Revolution, Arab Spring dan Garuda Biru polanya persis sama kendati ada sedikit beda tapi perbedaannya tak begitu signifikan, antara lain: * Slogan gerakan berdiksi singkat serta sifatnya membakar massa. Ini kesamaan; * Jika logo pada Pakta Warsawa (Color Revolution) dan di Jalur Sutra (Arab Spring) ialah Tangan Mengepal alias Tangan Terkepal, sedangkan logo di Indonesia adalah Garuda Biru. Sepertinya, Garuda hendak “dibirukan”. Ya, cuma logo yang berbeda; * Pada isu Color Revolution dan Arab Spring diawaki oleh National Endowment for Democracy (NED), NGO Paman Sam spesial ganti rezim yang dibiayai oleh Kongres AS. Lalu, siapa yang menggerakkan massa kemarin pada tanggal, jam, serentak dengan isu yang sama di Indonesia? * Aksi massa dalam tiga peristiwa di atas ber-isu demokratisasi, HAM, kebebasan, keadilan dan seterusnya dimana muaranya: 1) kalau di Balkan dan Jalur Sutra bertema ganti rezim, bahkan ganti sistem; 2) aksi di Indonesia tak jauh dari isu-isu di atas. Meski sekarang ada peningkatan kualitas isu dibanding aksi 22 Agustus kemarin, tema bergeser sedikit menjadi: “Turunkan dan Adili Jokowi”, “Pelanggaran HAM Prabowo” dan lain-lain. Nah, dari uraian di atas mulai tercium siapa invisible hands di balik aksi-aksi massa beberapa minggu ini, bahwa ternyata selain mentarget Presiden Jokowi, juga membusukkan Presiden Terpilih Prabowo. Unik. Tinggal beberapa bulan lagi kok ditarget; belum dilantik sudah ditarget? Singkat bahasan, telah dapat ditarik simpulan walau prematur, bahwa Garuda Biru merupakan operasi intelijen asing yang ingin mengacau Indonesia dari sisi internal jelang pelantikan Presiden Terpilih 20 Oktober 2024 mendatang. Maka, jika merujuk peristiwa di Balkan dan Jalur Sutra dimaksud, dengan rasa marah saya ucapkan: “Selamat datang Revolusi Warna, Selamat datang Indonesia Spring!” Kenapa demikian? Ini terpantau dari isu-isu yang diusung baik oleh massa mahasiswa, aksi para tokoh maupun atraksi guru-guru besar hanya berputar-putar di hilir persoalan, bukan di hulu masalah bangsa. Mereka sadar, atau pura-pura tidak sadar? Pertanyaannya simpel, kenapa aksi massa selama ini tidak ada yang mengusung isu KEMBALI KE UUD 1945. Itulah masalah hulu bangsa. Bukankah publik mulai melek bahwa biang atau sumber kegaduhan di republik ini sejak reformasi adalah UUD NRI 1945 alias UUD2002 Produk Amandemen empat kali? Sekali lagi, dejavu. Persis kegaduhan 1998 jelang kejatuhan Orde Baru, aksi massa penurunan Pak Harto hanyalah agenda, sedang skema/tujuannya adalah amandemen UUD 1945 (1999-2002), yaitu liberalisasi konstitusi. Hari ini, tampaknya bangsa ini tidak sedang disuguhi agenda, tetapi tengah digiring pada skema operasi Garuda Biru oleh intelijen asing yakni pelestarian UUD Produk Amandemen (1999-2002) sebagai penguatan atas liberalisasi konstitusi sejak 2002. Maka, kepada segenap bangsa ini, waspadalah! Jangan sampai akibat kebencianmu terhadap sesorang, menghilangkan akal sehatmu dalam berbangsa dan bernegara. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tidak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousUrgensi Keterlibatan Indonesia Dalam Konflik Di Semenanjung Korea untuk Menciptakan Perdamaian DuniaNextKonstelasi Geopolitik Asia Pasifik Pasca-Pemilu Presiden AS November 2024

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents