About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Selat TaiwanSelat Taiwan: Chokepoint yang Mampu Memicu Perang Besar

Rusman

Rusman·24 January 2026·4 min read

Share
Selat Taiwan: Chokepoint yang Mampu Memicu Perang Besar

(Titik genting Taiwan bukan pada ukuran teritorialnya, melainkan geoposisi di simpul kepentingan para adidaya)

Pengantar: Sabuk Geopolitik

Dalam mapping geopolitik, Taiwan bukan sekadar pulau, melainkan simpul strategis yang menopang keseimbangan antara kekuatan militer, ekonomi, dan teknologi dunia. Taiwan berdiri di jalur laut vital — koridor penghubung antara Samudra Pasifik dengan pusat-pusat produksi Asia Timur.

Jalur ini merupakan bagian dari first island chain, sabuk geopolitik yang semenjak Perang Dingin ditandai oleh Amerika Serikat (AS) sebagai garis penahan bagi ekspansi kekuatan lautnya Cina.

Siapa pun yang menguasai Taiwan, secara taktis mengontrol akses keluar-masuk Cina ke Pasifik Barat. Karena itu, setiap latihan militer Cina di sekitar Selat Taiwan hampir tak pernah dibaca sebagai aktivitas rutin. Ia selalu dimaknai sebagai pesan berlapis — bukan hanya bagi Taipei, tetapi juga kepada Washington, Tokyo, Seoul, Canberra, hingga NATO.

Grey Zone Warfare

Dalam politik internasional, latihan militer ialah bentuk komunikasi kekuatan — signaling. Itu bisa bermakna pamer kapasitas (show of force), cek ombak (testing the water), hingga pengukuran ambang eskalasi dan tingkat toleransi lawan.

Pola latihannya pun relatif konsisten dari waktu ke waktu. Blokade laut, contohnya, atau simulasi penguasaan udara, pemutusan jalur logistik, hingga skenario isolasi pulau secara total. Ini bukan tanpa maksud, melainkan proses optimalisasi titik serbu nantinya. Secara geostrategis, Cina memahami bahwa Taiwan tidak perlu “ditaklukkan” melalui pendudukan militer; cukup diputus akses dari dunia luar, maka daya tahannya akan melemah secara sistemik.

Dalam strategi militer modern, pendekatan ini dikenal sebagai grey zone warfare — perang tanpa deklarasi, tanpa invasi terbuka, bahkan tanpa tembakan pertama, namun berdampak strategis dan mematikan. Ia beroperasi di wilayah abu-abu antara perang dan damai, membuat lawan ragu menentukan kapan bereaksi dan sejauh mana eskalasi diukur.

Chokepoint Strategis

Dalam teori geopolitik klasik, Selat Taiwan adalah chokepoint — titik sempit yang kalau terganggu, mampu mengguncang keseluruhan sistem. Ia setara dengan Selat Hormuz bagi energi global, atau Terusan Suez bagi perdagangan Eropa – Asia, ataupun Selat Malaka bagi Asia Tenggara. Namun Selat Taiwan melampaui ketiganya, karena punya chokepoint industri dan teknologi.

Irisan Dua Simpul

Teori Sea Power Alfred T. Mahan sejak abad ke-19 menegaskan bahwa penguasaan jalur laut utama berarti penguasaan perdagangan, dan pada akhirnya — mengendalikan kekuatan global.

Di abad ke-21, tesis Mahan berevolusi serius, karena kekuatan laut (sea power) berjalin dengan simpul rantai pasok global. Nah, Selat Taiwan berada pada irisan kedua simpul tersebut — antara dominasi maritim di satu sisi, dan kendali rantai pasok strategis pada sisi lain.

Daya Tawar Taiwan

Preseden sejarah mempertebal kegelisahan dunia tentang chokepoint. Perang Dunia I, misalnya, ia dipicu peristiwa lokal di Sarajevo, namun cepat meluas akibat jaringan aliansi dan dilema keamanan. Krisis Selat Taiwan tahun 1958 dan 1996 juga memperlihatkan bahwa ketegangan di wilayah ini selalu menarik keterlibatan AS. Perang Ukraina hari ini menjadi pelajaran bahwa konflik regional dapat bermetamorfosis menjadi krisis global melalui sanksi, energi, pangan, fragmentasi ekonomi dunia dan lainnya.

Ya. Taiwan bukan tentang isu militer semata. Ia adalah urat nadi teknologi global. Lebih dari 60 persen semikonduktor dunia diproduksi di situ, dan lebih dari 90 persen chip tercanggih berasal dari perusahaan: TSMC, Taiwan. Inilah daya tawarnya di panggung global.

Kenapa demikian?

Sebab, chip bukan hanya komponen elektronik, ia tulang punggung industri strategis modern — mulai dari sistem persenjataan presisi, pertahanan dan satelit, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, hingga ekonomi digital. Gangguan di Taiwan berarti ancaman terhadap seluruh ekosistem industri global. Ini bukan asumsi, tapi fakta struktural. Maka tidak mengherankan, jika kegelisahan global muncul bukan semata perang, karena efek berantai sistemik merupakan keniscayaan.

Sekitar separuh perdagangan dunia melintasi kawasan Asia Timur. Jalur energi, pangan, logistik, dan jalur manufaktur global saling terhubung dan bergantung pada stabilitas kawasan ini. Satu simpul terguncang, maka rantai pasok global ikut bergetar — harga melonjak, industri tersendat, instabilitas kawasan meningkat, bahkan penerbangan internasional pun terdampak. Inilah sebabnya, tidak ada satu pun aktor global yang benar-benar netral atau aman jika pecah konflik di Taiwan. Kelompok negara industri maju akan merasakan dampaknya lebih dulu.

Pusat Spiral dan Papan Catur

Dalam teori hubungan internasional, dikenal doktrin security dilemma. Artinya, ketika satu pihak meningkatkan kapasitas dan kemampuan keamanannya, pihak lain merasa terancam dan merespons serupa (perlombaan senjata). Spiral ini terus berputar, sehingga mempersempit ruang diplomasi. Satu kekeliruan kecil —salah hitung, salah tafsir, atau salah informasi— cukup untuk memicu eskalasi besar. Lagi-lagi, Taiwan berdiri di pusat spiral itu. Bukan sebagai penyebab utama, melainkan pemicu potensial. Bukan sebagai pemain penentu, tetapi papan catur bagi para adidaya mempertaruhkan hegemoni, industri strategis, bahkan (masa depan) tatanan global.

Karena itu, setiap manuver di sekitar Selat Taiwan selalu dibaca dunia dengan pertanyaan sama, “Apakah ini sekadar latihan, atau awal dari sesuatu yang besar?”

Penutup: Bersiaplah Indo-Pasifik

Bagi kawasan Indo-Pasifik —termasuk jajaran negara nonblok— pertanyaan yang lebih mendesak, bukan bagaimana jika konflik meletus, tapi sejauh mana mereka siap menanggung konsekuensi ketika satu chokepoint strategis global runtuh, maka tak ada lagi ruang untuk menonton di pinggir sejarah.

Pertanyaan untuk Indonesia, “Apa kabar Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Sunda, Selat Makassar; bagaimana nasib ALKI I, II dan III, dan apa peran Sealane of Communications (SLOCs) nantinya?”

Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousSenja Imperium AmerikaNextPemilihan Langsung: Senjata Pemusnah Bangsa

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents