About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Siapa Memegang Tongkat MusaTongkat Musa dalam Galodo di Sumatera?

Rusman

Rusman·16 December 2025·4 min read

Share
Siapa Memegang Tongkat Musa dalam Galodo di Sumatera?

Obrolan Spiritual Bersama Arief Sulistyanto di Zhaid123 Coffee, Jak-Sel

Tongkat Musa hari ini adalah metafora. Ia tidak layak dibaca secara fisik-lahiriah belaka. Pembacaan semacam itu akan mengurungnya di ruang histori, padahal hakikatnya bersifat filosofis dan substantif. Makna yang melintasi zaman, menembus generasi, dan selalu hadir setiap kali manusia berhadapan dengan krisis kemanusiaan.

Dalam perspektif spiritual, tongkat Musa ialah simbol legitimasi kekuasaan tertinggi yang memperoleh mandat dari moral transendental. Ia “membelah laut” bukan karena keajaiban simbolik, melainkan karena pada momen tertentu tatanan hukum yang normal berubah menjadi penghalang keselamatan umat. Ketika hukum kehilangan daya lindung, di situlah legitimasi moral kekuasaan diuji.

Metafora ini dapat dipahami melalui beberapa prinsip mendasar. Antara lain:

Pertama, hukum tertinggi bukanlah hukum positif semata. Ia bukan sekadar undang-undang tertulis, melainkan raison d’être hukum itu sendiri yakni keselamatan jiwa, keadilan, kemanfaatan, dan kemakmuran rakyat. Tanpa tujuan itu, hukum sah secara prosedural, tetapi hampa secara moral.

Kedua, ketika hukum dan aturan turunan gagal berfungsi atau diselewengkan, maka secara etik ia kehilangan legitimasi. Dalam keadaan tertentu, hukum tertinggi berhak menafikan — bukan untuk merusak tatanan, melainkan untuk menyelamatkan tujuan hukum itu sendiri.

Di sinilah makna darurat moral perlu ditegaskan. Darurat ini bukan darurat segelintir elit, melainkan kondisi rakyat yang sungguh-sungguh terjepit. “Membelah laut” hanya sah apabila rakyat berada di ambang hidup dan mati, jalan normal telah buntu, dan keadaan force majeure benar-benar terjadi.

Menangguhkan prosedur dapat dibenarkan sepanjang semata-mata demi keselamatan umat, bukan demi kelanggengan kekuasaan atau perlindungan kepentingan tertentu. Keberpihakan dianggap sah meskipun melampaui prosedur, apabila dilakukan untuk menyelamatkan orang banyak. Sebaliknya, kepatuhan prosedural yang menutup mata terhadap penderitaan rakyat hanyalah cara halus untuk membiarkan bencana bekerja sendiri.

Pada titik inilah peringatan lama itu menemukan relevansinya: Tongkat Musa tidak boleh jatuh ke tangan Firaun. Klaim “demi rakyat” tanpa akuntabilitas hanya melahirkan kekuasaan yang tampak sah, tetapi kehilangan pertanggungjawaban. Ia rapi di atas kertas, namun abai di lapangan. Ujungnya bukan keselamatan, melainkan fatamorgana yang menipu umat.

Dalam filsafat politik dan hukum, metafora ini sejalan dengan prinsip klasik: salus populi suprema lex esto — keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Namun, sejarah juga memberi catatan yang lebih jujur: tidak semua yang mengangkat tongkat adalah Musa. Banyak yang sekadar mengangkat simbol, tanpa menanggung beban substansi. Yang tampak hanyalah komando, bukan kapasitas; kehadiran simbolik, bukan kehadiran nyata.

Legitimasi tertinggi tidak lahir dari teks hukum semata, simbol agama, atau klaim moral verbal. Ia tumbuh dari keberpihakan yang terukur, keputusan yang tepat waktu, dan kesediaan memikul konsekuensi.

Maka ketika terdengar pernyataan seorang pejabat negara, “Saya tidak punya tongkat Nabi Musa”, publik sejatinya tidak sedang memperdebatkan mukjizat. Pertanyaan yang muncul jauh lebih sederhana dan jauh lebih serius, “Jika bukan tongkat Musa, apakah negara telah memiliki sistem yang bekerja cepat ketika rakyat berada di batas hidup dan mati?”

Rakyat tidak menunggu laut terbelah. Rakyat menunggu kehadiran. Mereka menunggu SAR yang bergerak pada jam-jam pertama. Mereka menunggu pangan darurat yang tiba tanpa seremoni. Mereka menunggu penampungan sementara yang layak tanpa harus viral terlebih dahulu. Dalam situasi semacam ini, retorika tentang ketiadaan tongkat terdengar ironis, sebab yang dipersoalkan bukan keajaiban, melainkan fungsi dasar negara.

Jika tongkat Musa dipahami sebagai mukjizat personal, tentu ia tidak ada. Namun jika ia dimaknai sebagai kekuasaan tertinggi yang sanggup menggerakkan sistem, mengaktifkan rantai komando, memastikan logistik sampai, menata hunian sementara, serta memulihkan martabat warga yang kehilangan segalanya, maka tongkat itu sesungguhnya ada -‘ dan sedang dinilai, bukan dari kata-kata, melainkan dari kecepatan dan keberpihakan.

Di sinilah galodo berhenti menjadi sekadar peristiwa alam. Ia berubah menjadi audit moral terhadap negara. Audit itu tidak menanyakan siapa yang paling pandai menjelaskan keterbatasan, melainkan siapa yang paling siap menanggung tanggung jawab. Rakyat tidak meminta mukjizat. Rakyat meminta negara bekerja sebagaimana mestinya: hadir cepat pada jam-jam pertama, tegas pada sebab-sebab struktural, jujur pada data, dan adil pada korban.

Kepemimpinan, pada akhirnya, bukan soal memiliki “tongkat” atau tidak memilikinya. Kepemimpinan itu tentang apakah kekuasaan menjelma menjadi perlindungan yang nyata. Kalimat yang terdengar rendah hati bisa menjadi kebijaksanaan, apabila diikuti kerja yang terukur. Kalimat yang sama dapat berubah menjadi ironi, apabila menjadi pengganti kerja, bukan pengantar kerja.

Refleksi ini tidak sedang menunjuk orang. Refleksi ini mengaudit prinsip: kekuasaan memperoleh legitimasi bukan dari retorika, melainkan dari kemaslahatan yang sungguh dirasakan rakyat. Kekuasaan yang kuat tidak selalu yang paling sering bicara tentang keterbatasan, tetapi yang paling disiplin menutup celah kelalaian, membenahi struktur, serta memastikan tragedi tidak menjadi siklus.

Al-Qur’an menutup perbincangan ini dengan rambu yang tegas sekaligus politis dalam makna paling mulia — politik sebagai amanah melindungi kehidupan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d 11).

Ayat ini bukan sekadar nasihat pribadi. Ia mandat publik dan menegaskan bahwa perubahan tidak lahir dari kalimat, melainkan dari kesungguhan membenahi cara kerja, cara memimpin, dan cara bertanggung jawab — sebelum galodo berikutnya tiba dengan cara yang sama.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousTrump Corollary: Di Antara Upaya Amerika Mempertahankan Hegemoninya dan Indonesia CorollaryNextUlah Korporasi Dalam Bisnis Rekayasa Genetika Menghancurkan Sumberdaya Genetik Alami dan Petani Tradisional

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents