About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Sikap Australia yang Semakin Pro Persekutuan AUKUS, Memicu Meningkatnya Proliferasi Nuklir di Asia PasifikAsia Pasifik

Hendrajit

Hendrajit·12 April 2026·4 min read

Share
Sikap Australia yang Semakin Pro Persekutuan AUKUS, Memicu Meningkatnya Proliferasi Nuklir di Asia Pasifik

Skema Kerja Sama Australia-Inggris-Amerika Serikat (AUKUS) di kawasan Asia Pasifik nampaknya sama intensifnya dengan  Pakta Pertahanan Empat Negara (QUAD) AS, Australia, Jepang dan India di bawah payung  Strategi Indo-Pasifik AS (US Indo-Pacific Strategy) yang juga dimaksudkan untuk mengendalikan kawasan Asia Pasifik. Pada Februari 2026 lalu, Australia mengamankan kesepakatan pertahanan dengan Inggris senilai 300 juta dolar AS untuk pengembangan sistem tenaga nuklir untuk armada AUKUS.

Baca:

Australia seals UK defence deal with $300m for AUKUS sub reactors

Perkembangan itu menandai semakin eratnya kerja sama Australia-Inggris di bidang industri pertahanan strategis untuk senjata pertahanan.

Dana 300 juta dolar AS itu  akan digunakan untuk membeli komponen pertama reaktor nuklir yang akan dipasok oleh Rolls-Royce dan dikirim ke Australia Selatan untuk dipasang pada dua kapal AUKUS pertama yang akan dibangun di galangan kapal Osborne.

Dalam telaah keamanan nasional maupun geopolitik Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara pada umumnya, kerja sama Inggris-Australia untuk mengembangkan sistem tenaga nuklir untuk armada AUKUS bisa memicu semakin meningkatnya Proliferasi Senjata Nuklir bukan saja di Asia Tenggara, melainkan Asia Pasifik dalam lingkup yang lebih luas.

Apalagi kerja sama Australia-Inggris itu juga mencakup kerja sama dalam sistem radar, drone, dan uji coba rudal yang dapat membantu Ukraina. Yang pastinya hal itu sama saja memprovokasi Rusia untuk semakin meningkatkan eskalasi militernya. Sejak 2022 lalu Ukraina-Rusia terlibat konflik bersenjata yang masih berkepanjangan hingga kini, karena negara beruang merah tersebut berangggapan bahwa negara-negara Eropa Barat yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah mendorong dan mendukung Ukraina agar bergabung ke dalam NATO. Sehingga dipandang oleh Rusia sebagai ancaman di garis depan wilayah kedaulatan  nasional negaranya.

Perdana Menteri Anthony Albanese dan CEO Rio Tinto Simon Trott. Foto: Harry AfentoglouMenelisik kesepakatan Inggris-Australia, nampak jelas bahwa Australia diproyeksikan sebagai negara pemilik senjata nuklir pada 2040 mendatang. Nuklirisasi Angkatan Laut Australia pada 2040 ditandai dengan tekad untuk memiliki lima kapal selam bertenaga nuklir dengan menggunakan desain SSN AUKUS yang serupa dengan Inggris.

Kerja Sama Australia-Inggris dalam pengembangan reactor nuklir yang akan dipasang pada dua kapal AUKUS pertama, bukan sekadar semakin memperjelas peran pro aktif Autralia sebagai sekutu AS dan Inggris.

Lebih dari itu, memperlihatkan ambisi geopolitik Inggris untuk memainkan peran yang semakin agresif dan sama intensnya dengan AS untuk membangun kendali pengaruh militernya di Asia Pasifik.

Apalagi dalam komunike bersama Inggris-Australia, menyatakan bahwa kedua pihak akan menjajaki potensi penggunaan sistem radar yang dikembangkan di Australia oleh Inggris.

Di bawah program AUKUS, Inggris akan memasok sistem propulsi nuklir lengkap yang dilas untuk kapal selam SSN-AUKUS buatan Australia, dengan pekerjaan yang sudah dimulai di fasilitas Rolls-Royce Submarine di Derby.

Kebijakan pemerintahan partai buruh Australia untuk mengembangkan kapal selam yang bermuatah reaktor nuklir, telah mengundang kecaman keras dari mantan perdana menteri Inggris Paul Keating. Bahwa kesepakatan Australia-Inggris tersebut bukan saja membawa implikasi bagi Australia untuk mendukung secara aktif Strategi Indo-Pasifik AS, melainkan juga telah memposisikan Australia sebagai negara bagian AS yang ke-51.

Kecaman terbuka mantan perdana  menteri Paul Keating kiranya cukup beralasan. Sebab Australia bukan saja telah memboroskan anggaran militer sebesar 368 miliar dolar AS, melainkan juga telah kehilangan kedaulatan nasionalnya dan secara strategis bergantung kemampuan pertahanan-militernya kepada AS dan Inggris, meskipun Australiansejak dulu memang sekutu strategis AS dan Inggris. Namun lebih buruk dari itu, Australia pada perkembangannya akan semakin terseret dalam kancah dan pusaran persaingan yang semakin memanas antara AS versus Cina di Asia Pasifik.

Padahal kalau merujuk kembali pada kecaman Paul Keating, kalau pemerintah Australia bermaksud membangun kapal selam bertenaga nuklir dengan dalih untuk menghadapi ancaman Cina, menurut mantan perdana menteri Australia dari partai buruh itu sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Meskipun fakta bahwa anggaran militer Cina saat ini sebesar semakin meningkat 7,2 persen dengan anggaran saat ini sebesar 335 miliar dolar AS. “Apa yang dilakukan Cina bukan provokasi, Cina itu kan negara besar,” demikian penuturan Keating.

Dua pria berjas tersenyum dan berjabat tangan.

Anthony Albanese membantah klaim Paul Keating bahwa Prancis menawarkan persyaratan yang lebih baik untuk kapal selam bertenaga nuklir. Sumber: AAP / Lukas CochBahkan lebih jauh Keating menyatakan, meskipun pemerintah Beijing bermaksud menyatukan kembali Taiwan ke dalam wilayah kedaulatan Cina, bukan merupakan ancaman sama sekali bagi Australia.

Sikap dan pandangan politik Keating menggambarkan bahwa pergeseran haluan kebijakan luar negeri yang lebih terang-terangan berpihak kepada AS dan Inggris dan berorientasi Eropa, telah memicu kegelisahan di kalangan elit pimpinan Australia. Keating hanya salah yang saat ini berani bersuara lantang. Padahal Australia oleh sebab letak geografisnya, seharusya lebih mempertunjukkan simpatinya terhadap aspirasi negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousPerubahan Wajah Imperialisme: Dari Koloni ke KendaliNextAnatomi Baru Geopolitik di Perang Teluk 2026

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents