About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Trans-Kaspia, Medan Perebutan Pengaruh Terpenting AS-NATO vs Cina-Rusia di Cekungan Laut KaspiaLaut Kaspia

Hendrajit

Hendrajit·22 February 2026·8 min read

Share
Trans-Kaspia, Medan Perebutan Pengaruh Terpenting AS-NATO vs Cina-Rusia di Cekungan Laut Kaspia

Laut Kaspia kurang mendapat perhatian yang cukup besar dari kalangan pengkaji studi hubungan internasional maupun geopolitik. Padahal dari sudut pandang geopolitik, kawasan perairan Laut Kaspia punya nilai strategis. Bahkan jadi papan catur geopolitik yang negara-negara besar untuk berebut pengaruh di kawasan Laut Kaspia atau yang lebih dikenal sebagai wilayah Trans-Kaspia.

Ditinjau dari perspektif internal negara-negara pesisir yang berada dalam lintasan Laut Kaspia baik dari sisi Timur Kaspia maupun Barat Kaspia antara lain: Azerbaijan, Rusia, Iran, Kazakhstan, dan Turkmenistan. Adapun negara-negara adikuasa yang bisa dikatakan sebagai kekuatan eksternal di luar lingkup kepentingan kelima negara pesisir Kaspia tersebut adalah: Amerika Serikat, Turki dan Georgia (negara lepasan dari Uni Soviet yang sekarang jadi Republik Federasi Rusia). Dengan demikian, Kawasan Trans-Kaspia merupakan negara-negara yang berjejer atau sebelah menyebelah di kedua sisi Laut Kaspia. Saat ini, kawasan ini merupakan sasaran permainan kekuatan besar.

Wilayah Trans-Kaspia ini merupakan Titik-Hubung Barat dan TImur. Negara-negara di Asia Tengah maupun Kaukasus Selatan merupakan dua sisi berseberangan di Laut Kaspia. Sejak Abad 19, Asia Tengah dan Kaukasus Selatan menjadi ajang perebutan pengaruh antara Inggris, Rusia, dan Turki ketika masih berada dalam kekuasaan Dinasti Ustmaniah. 

Apa yang menyebabkan Kawasan Laut Kaspia punya nilai strategis dari sudut pandang geopolitik? Pertama, Sumberdaya Alamnya. Kawasan Laut Kaspia adalah kawasan minyak kelas dunia dengan konflik kepentingan ekonomi dan geostrategis yang cukup keras dan kompleks serta kebijakan yang saling bersaing di antara negara-negara sekitarnya dan Barat, khususnya Amerika Serikat. Sumber minyak Kaspia antara 10 hingga 32 miliar barel. Adapun gas antara 243 sampai 248 triliun kaki kubik.  Jadi selain minyak dan gas, juga memiliki sumber hidrokarbon yang sangat banyak.

Maka tak mengherankan jika  Stephen Blank berdasarkan riet dari sumber-sumber terpercaya di Washington maupun markas NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara yang terdiri dari AS dan beberapa negara besar Eropa Barat), memandang wilayah-wilayah yang disebut sebagai Trans-Kaspia, merupakan wilayah terpenting yang jadi target perebutan pengaruh antara AS-blok Barat versus Rusia. Dengan begitu Stephen Blank berpendapat bahwa kepentingan geoekonomi baru di wilayah-wilayah Trans-Kaspia dan persaingan geopolitik lama yang berlangsung sejak masa Perang Dingin, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Malah kalau kita cermati dinamika geopolitik global akhir-akhir ini, konflik AS-NATO vs Rusia, Iran dan Cina, bersinggungan dengan perebutan sumber kepemilikan minyak, gas dan hidrokarbon di Laut Kaspia, sehingga Wilayah Trans-Kaspia saat ini punya potensi besar sebagai Timur Tengah Baru. 

Lantas dari perspektif lokasi geografis, Wilayah Trans-Kaspia juga strategis  oleh sebab posisinya yang menghubungkan beberapa kawasan yang punya potensi besar dari segi politik dan ekonomi internasional seperti Timur Tengah, Eropa, Asia Timur dan Asia Selatan. Satu lagi catatan yang tak kalah penting. Salah satu Provinsi Cina, Xinjian, juga berbatasan langsung dengan wilayah Trans-Kaspia, yang etniknya punya pertalian sejarah dengan negara-negara di Asia Tengah.

Bukan itu saja. Dalam lingkup yang lebih luas, wilayah Kaspia sebetulnya juga mencakup  beberapa wilayah perbatasan antara Eropa dan Asia yang populer dengan sebutan Mutiara EuroAsia yaitu meliputi Kaukasus dan Asia Tengah, sehingga mencakup juga Pakistan, Afghanistan, dan bahkan Cina. Berarti geopolitik Laut Kaspia bisa dikatakan merupakan Simpul Tali yang menghubungkan Eropa dan Asia, yang oleh pakar geopolitik asal Inggris Halford McKinder, disebut Heartland atau Daerah Jantung. Menghubungkan Timur Tengah, Eropa, Asia Timur dan Asia Selatan.

Baca juga artikel Andre Gunder Frank: 

Caspian Sea Oil – Still The Great Game for Central Eurasia

Dengan kata lain, The Great Game negara-negara adikuasa untuk mengendalikan kawasan Eropa-Asia yang berkembang sejak abad ke-19 masih berlangsung hingga abad ke-20 dan 21 sekarang ini. Utamanya Amerika Serikat. Mantan Duta Besar AS Nathan Nimitz mengakui bahwa untuk mengamankan kawasan Laut Hitam yang berdekatan dengan kawasan Eropa Tenggara. Bahkan melalui Skema “Konser Eropa” itu, AS dan NATO harus mendorong kekuatan-kekuatan regional kawasan untuk ikutserta mengamankan cekungan Laut Kaspia tersebut. Seperti Ukraina, Georgia, dan Azerbaijan di sayap barat hingga Kazakhstan dan Kirgistan yang jauh di sayap timur dari ruang konser  atas arahan AS dan NATO. Entah kebetulan atau tidak, negara-negara yang saya sebut tadi merupakan negara lepasan Uni Soviet.

Sebelum meletusnya konflik Rusia-Ukraina pada 2022 lalu, AS-NATO praktis secara leluasa memainkan peran sebagai “Polisi Dunia” di kawasan Trans-Kaspia tersebut melalu cara membangun kemitraan strategis dengan negara-negara eks Rusia itu. Sebetulnya strategi AS-NATO tersebut mulai dirintis sejak mendukung gerakan-gerakan separatisme di  Yugoslavia, dengan menggunakan dalih membela beberapa negara yang kelak lepasan Yugoslavia seperti Bosnia dan Kosovo, atas dasar pertimbangan untuk membela hak-hak asasi manusia di Bosnia dan Kosovo.

Iran–Israel War Opens New Chapter in the Caspian Great GameSUMBER FOTO: The Probe

Fondasi keterlibatan AS-NATO untuk mengendalikan Trans-Kaspia semakin diperkuat sejak tahun 1997, dengan berkedok Operasi Latihan Militer bersama. Padahal, sasaran strategisnya adalah menguasai kawasan Eropa Tenggara, terutama negara-negara penghasil minyak seperti yang berada di kawasan Kaukasus, Asia Tengah dan Serbia. Jadi, AS-NATO menguasai Eropa Tenggara dan kawasan Trans-Kaspia melalui skema “Kemitraan Untuk Perdamaian” di Cekungan Laut Kaspia.

Di sinilah aspek krusial benturan geopolitik antara AS-NATO vs Rusia  untuk menguasai geoekonomi kawasan Laut Kaspia. Untuk mengendalikan produksi minyak dan gas, serta menguasai jaringan pipa transportasi untuk mengirim sumberdaya Hidrokarbon ke Pasar Dunia.

Namun menurut analisis Stephen Blank, kebijakan strategis AS-NATO di Cekungan Laut Kaspia tersebut sejatinya kontraproduktif. Salah satunya adalah, kebijakan pemerintah Rusia yang semula sejak berakhirnya Perang Dingin pada 1991 bersikap kooperatif dan moderat terhadap AS-NATO, rasa nasionalisme dan pendekatan militer malah jadi semakin menguat daripada sebelumnya. Kedua, Rusia dan Iran yang merasa sama-sama terkepung aliansi AS-NATO, semakin menjalin aliansi strategis yang semakin erat.

Menyadari konstelasi geopolitik internasional dan strategi pengepungan AS-NATO yang mengarah pada pengendalian Cekungan Laut Kaspia khususnya yang terkait dengan kawasan Asia Tengah yang kala itu sempat terintegrasi ke dalam wilayah Uni Soviet, maka logis ketika sejak 1996  Rusia dan Cina menggodok suatu gagasan aliansi strategis bersama dengan dilatari oleh strategi pembendungan  oleh AS-NATO terhadap Rusia di Cekungan Laut Kaspia. Dan sejak 2002-2005, kerja sama strategis kedua negara adikuasa pesaing AS-NATO itu bersepakat untuk menjalin aliansi terbatas untuk mengawal kawasan Asia Tengah melalui Skema Shanghai Cooperation Organization (SCO). Adapun linkup kerja sama Rusia-Cina adalah di bidang ekonomi, perdagangan dan kontra-terorisme. 

Selain daripada itu, dalam memandang geopolitik Trans-Kaspia, Rusia dan Cina punya cara pandang yang sama, yang intinya menolak gagasan AS-NATO untuk menjadi kekuatan hegemoni tunggal di wilayah Trans-Kaspia ini. Rusia memandang Trans-Kaspia tak ubahnya seperti  AS memandang kawasan Amerika Latin dalam perspektif Doktrin Monroe 1823. Begitupun Rusia, memandang wilayah Trans-Kaspia merupakan kawasan yang merupakan kawasan terlarang bagi orang-orang asing. Adapun Cina memandang wilayah Kaspia bagian timur, yaitu Asia Tengah, berbatasan langsung dengan wilayah kedaulatan Cina. Sehingga selain Kaspia dipandang sebagai zona vital bagi perekonomian, namun tujuan strategis geopolitik Cina di Kaspia, adalah untuk mengamankan wilayah-wilayah barat perbatasannya, seperti Provinsi Xinjian, karena punya hubungan kesejarahan dan sosial-budaya (etnik) dengan negara-negara di Asia Tengah.

Sebagai rujukan pembanding baca silahkan baca:

Iran–Israel War Opens New Chapter in the Caspian Great Game

Dengan demikian, saya sepakat dengan analisis Stephen Blank, bahwa permainan besar menguasai geopolitik kawasasn Trans-Kaspia dari abad 19 hingga abad 21 sejatinya masih sama saja. Hanya saja bedanya, sejak berakhirnya Perang Dunia II, bukan Inggris Raya (Great Britain) lagi yang jadi pemain utama dari blok Barat, melainkan Amerika Serikat.

Bagaimana pandangan cendekiawan Andre Gunder Frank terhadap Asia Tengah? André Gunder Frank pada tahun 1992 mengibaratkan kawasan Asia Tengah seperti lobang hitam di tengah dunia. Gunder Frank bermaksud mengatakan bahwa Asia Tengah meskipun punya nilai geopolitik yang penting namun terabaikan oleh dunia maupun sejarah.

Asia Tengah tetap diabaikan dan kurang dipelajari dalam literatur akademis meskipun dalam kerangka Belt Road Iniative (BRI) atau Jalur Sutra daalam menganalisis dan membahas Abad Asia atau konektivitas Eurasia, Asia Tengah tampaknya hanya menjadi pertimbangan tambahan atau catatan kaki. Padahal Dalam Skema Jalur Sutra Maritim yang dirilis pemerintah Cina, Asia Tengah merupakan lintasan strategis dari Asia ke Eropa via Utara.

Ia hanya dipandang sebagai jalur transit pasif, seakan-akan kekosongan geopolitik Asia Tengah itu secara sengaja untuk memberi kekuatan eksternal negara-negara adikuasa seperti AS-NATO untuk mengisi ruang kosong itu, daripada sebagai aktor proaktif dalam pembentukan BRI.

Padahal, ide dasar Skem Jalur Sutra Maritim yang menciptakan konektivitas antara kerja sama Ekonomi-Perdagangan dan Geografi lintasan jalur sutra, Asia Tengah sejatinya merupakan kawasan sangat penting bagi keberhasilan proyek-proyek konektivitas ini, khususnya dua koridor darat BRI: koridor ekonomi jembatan darat Eurasia Baru melalui Kazakhstan dan Rusia, dan koridor Asia Barat Cina-Asia Tengah yang menghubungkan kelima Republik Asia Tengah (CAR).

Baik Uni Eropa maupun Tiongkok memiliki banyak keuntungan dari Asia Tengah yang stabil dan terhubung dengan baik, sebuah kawasan di mana keduanya dapat memainkan peran kunci, tidak hanya dalam hal membangun infrastruktur fisik (pipa, jalan, dll.) tetapi juga dalam menghilangkan hambatan perdagangan. Hal ini dapat dicapai melalui penyederhanaan penyeberangan perbatasan dan prosedur bea cukai, harmonisasi logistik, peraturan perdagangan, dan standar infrastruktur (yaitu infrastruktur lunak).

Selain dari itu, Asia Tengah pada kurun masa tertentu, pernah menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi, sehingga sempat menjadi kawasan yang terintegrasi dengan perekonomian global pada masa kejanyaannya. Namun sejak abad ke-19 keadaan kawasan Asia Tengah mulai merosot seiring masuknya negara-negara Eropa yang bertujuan memperluas ekspansi wilayahnya di luar kawasan Eropa (kolonialisme dan imperialisme). Inilah yang dalam buku Andre Gunder Frank disebut The Great Game. Sejak itulah Asia Tengah mengalami stagnasi. Seperti kata Arnold Toynbee dalam bukunya yang bertajuk A Study of History, ketika peradaban mulai mengalami fosilisasi atau pembekuan, distengrasi sosial akan terjadi, dan lambat-laun akan menyebabkan disintegrasi nasional atau terpecah-belahnya negara-negara menjadi negara-negara kecil yang terpisah.

Maka tepatlah ungkapan klasik dalam ilmu geopolitik: Abai geopolitik, berarti tidak tahu kekuatan dan kelemahan geografis negaranya. Baik dari segi lokasi geografis, sumberdaya alamnya, maupun karakteristik geografisnya baik dari segi kondisi fisik lingkungannya(pertanian, pesisir atau pegunungan), karakter kolektif masyarakat yang hidup dalam kondisi fisik lingkungannya yang khas, maupun struktur sosial dan kearifan lokalnya yang melekat dengan budaya lokalnya pula.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousKredo Geopolitik Kontemporer: Negara Hadir Mengambil Beban Rakyat (Bag-1)NextKebijakan Standar Ganda Uni Eropa di ICC Dalam Pemberlakuan Statuta Pemblokiran

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents