About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

What Jokowi’s Inglorious ExitJokowi’s Inglorious Exit Means for Indonesia

Rusman

Rusman·13 February 2024·3 min read

Share
What Jokowi’s Inglorious Exit Means for Indonesia

Tulisan The Economist, berjudul What Jokowi’s Inglorious Exit Means for Indonesia ini  menyoroti keberhasilan Jokowi dan akhir yang mengecewakan.

Beberapa poin penting dari artikel ini diterjemahkan oleh AS Laksana, wartawan senior dan sastrawan.

—

Menjelang pemilihan yang dijadwalkan pada 14 Februari, presiden yang akan segera pensiun ini memberikan dukungannya kepada Prabowo Subianto, seorang mantan jenderal dan menantu Soeharto yang memiliki catatan buruk dalam urusan hak asasi manusia dan ambivalensi terhadap demokrasi. Putra tertua Jokowi menjadi pasangan Mr. Prabowo—berkat saudara ipar Jokowi, yang sebagai ketua mahkamah konstitusi telah menghapus batasan usia yang menghalangi keponakannya yang baru berusia 36 tahun.

Dukungan Jokowi menjadikan Mr. Prabowo favorit untuk memenangi jabatan presiden pada upaya ketiganya (ia kalah dalam pemilihan tahun 2014 dan 2019, dan secara gegabah mengklaim bahwa pemilu tersebut dicurangi). Para pesaing utamanya, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, keduanya mantan gubernur yang kompeten, menyatakan bahwa kampanye mereka telah diacak-acak atau dibatalkan oleh aparat pemerintah. Ini merupakan pertanda yang mengkhawatirkan bagi Indonesia, dan merupakan akhir yang kurang terhormat untuk Jokowi.

Meskipun ia tidak memenuhi pertumbuhan pesat seperti yang dijanjikan, manajemen ekonominya telah menjadikan Indonesia salah satu ekonomi yang paling baik dalam beberapa tahun terakhir. Kerentanannya terhadap nilai tukar dolar yang kuat dan perubahan arus modal global sempat membuatnya menjadi anggota “Fragile Five” pasar-pasar berkembang. Namun, berkat manajemen yang bijaksana, keuangan publik membaik, dan ekonomi Indonesia menjadi lebih stabil, dengan pertumbuhan sekitar 5% setiap tahun secara konsisten.

Infrastruktur diperbarui, dengan penambahan ribuan mil jalan dan rel. Paket reformasi yang disahkan tahun lalu melonggarkan pembatasan terhadap investasi asing. Dengan mendorong pemrosesan nikel secara domestik, Jokowi telah mendukung pengembangan industri yang siap menghasilkan separuh produksi nikel dunia. Tata kelola yang lebih baik telah memberikan kontribusi, antara lain, pada penurunan deforestasi yang meluas dan telah lama membuat Indonesia menjadi salah satu emiten gas rumah kaca terbesar. Kebijakan luar negeri “nonblok” telah menempatkannya secara aman di antara Amerika dan Tiongkok dalam sebagian besar masalah.

Mr. Prabowo berjanji untuk melanjutkan sebagian besar kebijakan Jokowi, dan itu menenangkan para investor. Namun, mereka terlalu optimistis. Kemajuan yang telah dicapai, yang dilandasi oleh naluri otoriter Jokowi dan delusi tentang kebesarannya, tampaknya sangat mungkin akan ditiru oleh Mr. Prabowo. Mantan jenderal tersebut mendukung proyek mercusuar Jokowi untuk membangun ibukota baru senilai 34 miliar dolar di hutan hujan Kalimantan. Ia tampaknya ingin memperpanjang kebijakan proteksionis untuk nikel—yang hanya akan membawa keuntungan jika permintaan akan logam tersebut tetap tinggi—ke sektor-sektor yang kurang menjanjikan. Dikecam atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia pada era Soeharto—karena itu Amerika dan Australia pernah mencekalnya—ia masih rentan terhadap serangan, termasuk dalam urusan pidato tahun lalu di mana ia mengemukakan rencana perdamaian dengan Putin. Dukungan Jokowi kepada Prabowo kabarnya membuat rekan-rekan teknokrat presiden, termasuk Sri Mulyani Indrawati, menteri keuangan di balik sebagian besar kemajuan, merasa tersisihkan.

Kemenangan Mr. Prabowo tentu saja tidak perlu menjadi akhir dari politik liberal di Indonesia: kemajuan yang dinikmati oleh 200 juta pemilih dapat membuat mereka lebih menuntut di masa depan. Namun demikian, nepotisme yang begitu telanjang dalam kampanyenya sangat memprihatinkan. Jokowi datang pada 2014 sebagai udara segar. Tetapi dengan tidak memperkuat demokrasi Indonesia, bahkan ketika ia telah memperkuat ekonominya, ia meninggalkan aroma kurang sedap di belakangnya.

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousBukan Karena JokowiNextAntara Petisi, Demokrasi Yang Terbunuh, dan Sistem Korupsi

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents