Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

PalestinaPalestina Bisa Mengikuti Jejak Indonesia

Rusman

Rusman·3 Juli 2024·2 menit baca

Bagikan
Palestina Bisa Mengikuti Jejak Indonesia

Bambang Noorsena pernah berpendapat bahwa penduduk Palestina bisa mengikuti jejak Indonesia, yang masih harus berjuang melawan Sekutu setelah 17 Agustus 1945. Yaitu, dengan kebersediaan berdialog dan menerima hasil-hasil perundingan yang menghasilkan berbagai perjanjian.

Saya pun mengingat-ingat bagaimana proses kemerdekaan Indonesia dari proklamasi kemerdekaan 1945 sampai pengakuan kedaulatan 1949.

Para pejuang kemerdekaan Indonesia menolak sekutu yang merasa berhak atas teritori Indonesia karena mereka mengalahkan Jepang dalam perang. Wilayah Indonesia punya penduduk yang tidak mau menyerahkan nasibnya dioper-oper oleh para pihak yang berperang. Juga menolak wilayahnya dibagi-bagi oleh penjajah.

Itulah sebabnya para Bapak Bangsa Indonesia, termasuk Bung Karno, bisa merasakan sepenanggungan dengan perjuangan penduduk Palestina sejak tahun 1948.

Penduduk Indonesia berasal dari wilayah lain di Asia yang bermigrasi secara bertahap. Dalam perjalanan sejarahnya, terjadi berbagai perjanjian dan perang yang menentukan wilayah kerajaan-kerajaan. Indonesia baru ada setelah Pemerintahan Hindia Belanda “menyatukan nusantara”.

Penduduk Palestina pun berasal dari wilayah lain, baik Arab, Yahudi, dan etnis lainnya. Di bawah penjajahan Kekaisaran Ottoman/Utsmaniyah pada pertengahan abad ke-19, tercatat 90% dari 600.000 penduduk Palestina diidentifikasi sebagai Arab (termasuk 10% Arab Kristen), 5-7% sebagai Yahudi, dan etnis lainnya.

Selama Perang Dunia Pertama (1914-1918), pemberontak/pejuang kemerdekaan Arab bersekutu dengan Pasukan Britania Raya mengusir pemerintahan kolonial Utsmaniyah dari wilayah Arab. Dalam korespondensi McMahon-Hussein, Britania Raya telah sepakat untuk menghormati kemerdekaan Arab jika bangsa Arab memberontak melawan Utsmanityah.

Kemudian, Britania Raya mencapai legitimasi dengan memperoleh mandat dari Liga Bangsa-Bangsa pada bulan Juni 1922. Yaitu, untuk mengelola bekas wilayah Kesultanan Utsmaniyah “sampai mereka mampu berdiri sendiri”.

Sementara itu, wilayah Palestina kedatangan gelombang imigrasi Yahudi. Terjadi kebangkitan gerakan nasionalis, baik di komunitas Yahudi maupun komunitas Arab. Persaingan kepentingan kedua populasi menyebabkan pemberontakan Arab tahun 1936–1939 dan pemberontakan Yahudi tahun 1944–1948 di wilayah Mandat.

Pada 1945 sebuah studi demografi memperlihatkan bahwa jumlah seluruh penduduknya telah meningkat menjadi 1.764.520, terdiri dari 1.061.270 Muslim, 553.600 Yahudi, 135.550 Kristen, dan 14.100 orang yang beragama lain.

Rencana PBB untuk membagi Palestina menjadi 2 wilayah, yaitu untuk satu negara Arab Palestina dan satu negara Yahudi Palestina, disahkan pada bulan November 1947. Tapi, bagi bangsa Arab, hal ini mengkhianati perjuangan kemerdekaan mereka ketika mengusir Utsmaniyah.

Setelah proklamasi kemerdekaan Israel pada tahun 1948, terjadi perang yang berakhir dengan wilayah Mandat Palestina dibagi di antara:
– Negara Israel
– Kerajaan Hasyim Yordania yang mencaplok wilayah di Tepi Barat Sungai Yordan.
– Kerajaan Mesir, yang mendirikan “Protektorat Seluruh Palestina” di Jalur Gaza.

TWO STATE SOLUTION, SAMA-SAMA BERHAK EKSIS DI PALESTINA SESUAI HUKUM INTERNASIONAL

[bersambung]

Samsulung Darsum, pemerhati sosial dan brodcaster

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaArtificial Intelligence Sangat Potensial Dimanfaatkan Untuk Pengembangan Program Laboratorium Bio-MiliterSelanjutnyaMembaca Turbelensi dan Perang Proksi di NKRI

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 Agustus 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents