China menjadi Pentas Diplomasi Global dalam Konflik Timur Tengah

Bagikan artikel ini

Oleh Mohamad Asruchin, Direktur Asia Selatan dan Tengah Kemlu pada 2004-2010

Setelah perang AS-Israel melawan Iran melewati waktu satu bulan, Presiden Donald Trump geram bagaimana mungkin mungkin Iran mampu bertahan dari gempuran pemboman dahsyat jet-jet tempur canggih oleh pilot-pilot Amerika Serikat dan Israel. Masyarakat internasional pun heran dengan kemampuan Iran yang bukan saja bertahan tetapi bahkan membalas dengan drone dan rudal-rudal hipersoniknya menghujani kota-kota di Israel maupun target-target fasilitas militer AS di negara-negara Teluk.

Berdasarkan laporan intelijen AS dan analisis terbaru 2026, Iran menggunakan data satelit dan AI serta sistem navigasi Beidou China sebagai pemandu Angkatan Udara Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam mengidentifikasi pesawat, radar, pangkalan dan aset militer AS dan Israel lainnya sehingga drone dan rudal-rudalnya dapat menghantam sasaran dengan presisi tinggi. China juga diberitakan memberikan bantuan dalam bentuk peralatan Sistem Pertahanan Udara dan ‘dual use technology’, yaitu teknologi ganda untuk keperluan sipil maupun militer.

Prioritas utama diplomasi China di Timur Tengah adalah ekonomi, baik sebagai sumber energi minyak maupun pasar bagi produk-produk industrinya. Namun misi diplomasinya di Timur Tengah yang kini sedang berolak, selain ekonomi juga aspek geopolitik dengan berpihak pada Iran yang secara sewenang-wenang diserang oleh Amerika Serikat bersama sekutunya Israel. Pada saat bersamaan China juga terus melakukan hot-line dengan mitranya negara-negara Teluk tentang komitmen kuat hubungan bilateral masing-masing.

Sebagai pengimpor minyak mentah terbesar dunia, China berkepentingan untuk terciptanya wilayah Timur Tengah yang stabil guna terjaminnya pasokan minyak yang dibutuhkan untuk memutar mesin-mesin industrinya dan sekaligus keperluan untuk memasarkan barang-barang ekspornya. Terlebih China juga merupakan investor terbesar sektor desalinasi di negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) serta negara-negara Levant: Suriah, Lebanon, Palestina, Jordania dan Irak. Sangatlah wajar jika China berambisi untuk meningkatkan leverage-nya di kawasan Timur Tengah.

Peran China sebagai Mediator

Sebagaimana harapan umum bahwa setiap negara besar harus melakukan tanggung-jawabnya dalam masalah internasional, China memilih peran sebagai mediator bersama Pakistan yang muncul sebagai juru rundingnya. Menlu China Wang Yi dan Menlu Pakistan Mohammad Ishaq Dar telah merumuskan Lima Butir Inisiatif sebagai landasan untuk menuju gencatan senjata antara AS dan Iran, dan segera dioperasikannya kembali Selat Hormuz sebagai jalur penting kapal-kapal tanker dunia.

Lima Butir Inisiatif sebagai panduan perundingan pihak-pihak yang berseteru tersebut adalah: Genjatan senjata segera, Penyelesaian sengketa lewat diplomasi, Menjaga kedaulatan dan keamanan Iran serta negara-negara Teluk, Melindungi warga sipil dan fasilitas nuklir untuk kepentingan damai, dan Membuka kembali Selat Hormuz. Rumusan Lima Butir tersebut tanpa menyebut penyebab konflik serta mekanisme pelaksanaan gencatan senjata tersebut lebih dimaksudkan sebagai jalan keluar bagi kedua belah pihak untuk menghentikan sementara aksi militer.

Dalam konflik yeng terjadi di Timur Tengah, Menlu China Wang Yi dan mitranya Menlu Rusia Sergey Lavrov sepakat menyebut seangan AS-Israel ke Iran sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, sehingga perlu dilakukan Sidang Darurat DK-PBB dengan seruan untuk menahan diri, tanpa menyebut perlunya tindakan balasan/sanksi dari badan internasional tersebut supaya tidak mengganggu hubungan bilateral dengan negara-negara Teluk lain yang menjadi tuan rumah pangkalan dan aset militer AS.

Penerapan diplomasi yang seimbang dilakukan oleh China dalam menanggapi dua draft resolusi usulan Bahrain. Yang pertama mengutuk serangan Iran kepada Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi dan Jordania berhasil dikukuhkan menjadi Resolusi DK-PBB No. 2817 karena China dan Rusia memberikan suara abstain. Sementara draft resolusi usulan Bahrain berikutnya tanggal 7 April 2026 untuk membuka kembali Selat Hormuz serta jaminan keselamatan bagi kapal-kapal yang melintas tidak berhasil lolos karena di-veto oleh China.

Kiprah diplomasi China mulai bergaung di Timur Tengah sejak bulan Maret 2023 ketika negara Adidaya baru tersebut berhasil mendamaikan dua negara utama Timur Tengah, Iran dan Arab Saudi. Melalui kesepakatan ‘Beijing Agreement’ 10 Maret 2023, hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi dipulihkan setelah putus selama 7 tahun. Kedua negara juga sepakat mengaktifkan kembali Perjanjian Kerjasama Keamanan dan Perjanjian Kerjasama Ekonomi, yang dengan sendirinya berdampak dalam mengakhiri peperangan antara kelompok proxy mereka di Timur Tengah maupun Asia Selatan.

Modal China untuk meningkatkan leverage-nya di kawasan Timur Tengah memang sudah memadai. China telah menandatangani ‘Strategic Partnership’ untuk mengembangkan hubungan ekonomi dengan negara-negara GCC serta Levant. Adapun dengan Iran, Arab Saudi, UAE, Mesir dan israel, China bahkan telah menyepakati ‘Comprehensive Strategic Partnership’ yang meliputi kerjasama selain di bidang ekonomi juga ditambah sektor energi, teknologi dan militer.

Iran bersama 6 (enam) negara anggota GCC: Arab Saudi, Bahrain, Kuwait Oman, Qatar, UAE juga telah diterima bergabung dalam organisasi regional yang dimotori China dan Rusia, yaitu Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa). Rusia dan China secara bertahap juga memperluas pengaruh mereka ke Timur Tengah melalui transfer teknologi, kerjasama energi dan prakarsa diplomatik, yang merupakan bagian strategi untuk membentuk tatanan dunia multipolar.

China Keluar sebagai Pemenang

In the midst of chaos, there is also opportunity’. Strategi pertempuran yang tertulis dalam buku karya Sun Tzu ‘The Art of War’ 2500 tahun lalu ternyata telah menjadi DNA China dalam menyikapi perkembangan dunia yang penuh gejolak, terutama dalam menanggapi situasi panas Timur Tengah. Sebagai kekuatan global, China yang ikut terdampak langsung oleh konflik berkepanjangan antara AS-Israel versus Iran, telah menghitung kepentingan strategis jangka panjangnya di kawasan Timur Tengah.

Dengan bergerak di tataran politis dan diplomatis tanpa pengerahan militer sedikitpun, China ingin mengirimkan pesan kepada dunia internasional terutama negara-negara berkembang yang berada di belahan Selatan dunia bahwa Amerika Serikat telah mempertontonkn tabiatnya sebagai kekuatan hegemoni, sebaliknya pemerintah China menunjukkan dirinya sebagai negara ‘champion of non-interference’. Makin lama perang berlangsung, kredit China dengan perangkat soft-powernya akan terus bertambah.

Sementara itu China terus meningkatkan intensitas diplomasinya dengan mengirim utusan ke negara-negara Teluk untuk membujuk mereka agar bersedia meredakan hubungannya dengan Iran dan terutama mencegah mereka agar bersikap tegas menolak ajakan AS untuk ikut berperang melawan Iran. Jika sikap politik dan diplomatik China terlihat lebih memihak ke Iran, selain karena kepentingan ekonomi juga guna membangun kredibilitas sebagai kekuatan besar baru yang sanggup menandingi hegemoni AS.

Bagaimanapun juga China masih menempatkan Amerika Serikat sebagai zona pertama dalam hubungan luar negerinya. Itulah sebabnya meskipun Menlu China Wang Yi mengutuk pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan serangan ke sasaran sipil, namun tidak menyebutkan AS dan Israel sebagai agresornya guna menghindari provokasi terhadap Presiden Donald Trump yang dijadwalkan akan melakukan Pertemuan Puncak dengan Presiden Xi Jinping di Beijing bulan Mei mendatang.

Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah tentu akan menuntut kesiapan sumber-sumber militer, finansial dan diplomasi AS yang lebih besar lagi di Timur Tengah. Dengan demikian dapat diantisipasi adanya penggeseran armada militer AS yang diproyeksikan untuk kawasan Indo-Pasifik, dan dengan sendirinya mengurangi kehadiran kekuatan militer AS dalam rangka mengimbangi atau bahkan membendung ekspansi ‘Sphere of Influence’ China di Indo-Pasifik, terutama di Selat Taiwan dan perairan Laut China Selatan.

Prioritas utama hubungan luar negeri China dengan negara lain adalah kepentingan ekonomi dan bisnis. Sebagai negara produsen raksasa dunia, China sangat mengandalkan 40-50% keperluan minyaknya dari Timur Tengah, yaitu Arab Saudi, Iran, Irak, UAE, Kuwait dan Qatar. Dengan demikian konflik Timur Tengah yang berimbas dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan aksi blokade oleh AS sangat mengkhawatirkan China, mengingat seluruh minyak impor asal negara-negara Teluk dan Iran diangkut melalui Selat Hormuz.

Mengantisipasi merosotnya cadangan energi fosil atau gangguan dalam pengangkutannya, Presiden Xi Jinping telah menggalakkan penggunaan ‘clean energy’ serta energi terbarukan sebagai bahan bakar di perindustrian, alat transportasi maupun keperluan rumah tangga. Dengan krisis di Timur Tengah yang mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, China segera dapat mengkompensasi industrinya dengan clean technology atau energi terbarukan. Saat ini China juga telah menjadi produsen terbesar dunia untuk produk baterai, panel surya dan mobil listrik, yang telah memasuki pasar Asia Tenggara dan Eropa.

Agresi militer AS dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran serta sejumlah pemimpin militer dan ribuan warga sipil Iran telah membuka mata dunia bahwa Amerika Serikat telah bertindak semena-mena mengangkangi hukum internasional dan Piagam PBB. Khususnya bagi negara-negara Teluk juga telah ditunjukkan bahwa AS bukanlah mitra strategis yang bisa diandalkan, sebaliknya justru menimbulkan resiko ekonomi dan keamanan regional. Keputusan gegabah Donald Trump menyerang Iran juga telah menimbulkan keretakan dalam organisasi NATO.

Mengutip pepatah China kuno ‘Duduk di atas bukit untuk menyaksikan harimau bertarung’ sangat cocok dijadikan ilustrasi konflik di Timur Tengah. AS dan Israel yang melakukan serangan militer besar-besaran dengan tujuan untuk mendapatkan  pemerintah Iran baru yang pro AS, ternyata berakibat sebaliknya menjadi perang berkepanjangan yang menggerus kredibilitas AS sebagai negara Superpower. Selanjutnya masyarakat dunia telah disodorkan dengan alternativ Superpower baru yang lebih bertanggungjawab dan dapat dipercaya.

AS dan Israel berperang melawan Iran, tetapi China yang keluar sebagai pemenang. China telah menjadi pusat diplomasi global sejak pecah perang AS-Israel versus Iran akhir Februari 2026. Sejumlah pemimpin dunia sudah berkunjung ke Beijing untuk membicarakan konstalasi dunia maupun koordinasi sektor ekonomi dan energi. Mereka yang berkunjung adalah PM Spanyol Pedro Sanchez, Prince Emirat Khaled Mohamed bin Zayed Al-Nahyan, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Vietnam To Lam, Presiden Mozambik Daniel Francisco Chapo, Menlu Rusia Sergey Lavrov, Menlu Pakistan Mohammad Ishaq Dar, serta rencana kunjungan resmi Presiden AS Donald Trump ke Beijing bulan Mei mendatang.

Kemenangan telak China terhadap supremasi Adidaya Amerika Serikat adalah terjadinya de-dolarisasi di berbagai kontrak dagang bilateral maupun regional/global yang melibatkan China. Setelah Iran sepakat dengan China menggunakan mata uang Yuan dalam transaksi pembeliaan minyak dan barang-barang lainnya, kini Rusia dan China secara resmi tidak akan menggunakan dollar dalam melakukan transaksi perdagangan mereka. Menyusul kemudian dan lebih menggemparkan lagi adalah dicapainya kesepakatan antara China dengan negara anggota GCC untuk mengganti transaksi minyak di Teluk dari Petro-dollar dengan Petro-Yuan.

Bekasi,  April 2026

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com