Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analisis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

Hendrajit

Hendrajit·18 Agustus 2026·3 menit baca

Bagikan
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global

Sejak November 2025 lalu, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atau The Organization for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) punya Direktur Jenderal baru,  Sabrina Dallafior Matter, diplomat senior asal Swiss. Sabrina Dallafior selain merupakan direktur jenderal OPCW kelima, sekaligus juga wanita pertama yang memimpin OPCW sejak didirikan pada 29 April 1997.

Sabrina Dallafior appointed as next OPCW Director-General

Tentu saja harapan komunitas internasional dan negara-negara anggota OPCW, Sabrina menjadi direktur jenderal yang netral, mandiri dan bebas dari tarik-menarik pengaruh berbagai kepentingan negara-negara adikuasa, utamanya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat.

Sebuah harapan yang sangat wajar mengingat Sabrina Dallafior memulai masa jabatannya sebagai orang nomor satu di OPCW di tengah semakin meningkatnya penggunaan senjata kimia sehingga berpotensi mengancam stabilitas keamanan global.

Setidaknya Sabrina Dallafior sudah memulai pernyataan awalnya cukup menjanjikan: “Konvensi Senjata Kimia tetap menjadi salah satu pencapaian terbesar dunia dalam perlucutan senjata. Sebagai Direktur Jenderal, saya berkomitmen untuk bekerja sama dengan semua Negara Pihak untuk memastikan bahwa norma terhadap senjata kimia tetap kuat, kredibel, dan dihormati secara universal.”

Konsekuensi strategis dari pernyataan Sabrina Dallafior berarti mensyaratkan OPCW menjadi organisasi internasional yang independen dan obyektif di tengah-tengah semakin menajamnya persaingan global antara AS dan Eropa Barat yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) versus China dan Rusia dewasa ini.

Maka itu menarik ketika dalam pernyataan selanjutnya, Sabrina menegaskan: “Sebagai Direktur Jenderal, saya akan memberikan prioritas tertinggi untuk menegakkan norma anti-senjata kimia. Memastikan keberlanjutannya dalam jangka panjang mengharuskan kita untuk menyelidiki semua tuduhan penggunaan yang kredibel, menetapkan fakta-fakta ilmiah, dan mengecam semua kasus yang telah dikonfirmasi. Ini tidak dapat dinegosiasikan, karena menyentuh inti dari Konvensi itu sendiri.”

Tapi y aitu tadi, untuk mewujudkan janjinya menjadi nyata, Sabrina harus mampu menjadikan OPCW sebagai badan internasional yang independen, di tengah-tengah semakin kuatnya sinyalemen bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini AS dan sekutu-sekutunya dari Eropa Barat, telah memperalat OPCW melalui mekanisme investigasi untuk tujuan-tujuan politisnya, untuk menyudutkan atau menekan para pemimpin negara-negara yang mereka pandang sebagai potensi ancaman, apalagi sebagai negara musuh seperti China, Rusia, Iran, Korea Utara dan Suriah.

Modus operandi AS-NATO dalam menyudutkan negara-negara yang dipandang oleh AS dan sekutu-sekutunya sebagai tidak bersahabat, dengan mengondisikan OPCW memvonis negara-negara tersebut sebagai negara pengguna senjata kimia, pada kenyataannya lebih didorong untuk berekasi terhadap dinamika situasi politik global alih-alih berdasarkan temuan fakta-fakta lapangan.

Sebaliknya kerap terbukti tudingan AS dan sekutu-sekutunya hanya menggunakan OPCW melalui mekanisme investigasi untuk memutar-balikkan temuan guna membenarkan invasi militer yang mungkin sejak awal sudah merupakan rencana strategis mereka. Seperti terbukti lewat invasi yang dilancarkarn AS ke Irak pada 2003, dengan dalih bahwa pemerintahan Irak di bawah Presiden Saddam Hussein memiliki senjata biologis. Padahal dalam perkembangannya kemudian, tuduhan AS tersebut sama sekali tidak terbukti.

Menelisik proses terpilihnya Sabrian secara aklamsi pada November 2025 lalu, nampaknya harapan komunitas internasional memang cukup masuk akal dan beralasan.  Sebelum menjabat, Direktur Jenderal Dallafior menjabat sebagai Duta Besar Swiss untuk Finlandia. Selama 25 tahun karier diplomatiknya, ia telah memegang berbagai posisi senior di bidang perlucutan senjata, pengendalian senjata, non-proliferasi, dan keamanan internasional, termasuk menjabat sebagai Presiden Konferensi Perlucutan Senjata dan memimpin beberapa badan perlucutan senjata internasional.

Konfrontasi di OPCW: Bagaimana Komunitas Internasional Akan Menangani Suriah dan Skripal?

Sumber Foto: https://warontherocks.com/confrontation-at-the-opcw-how-will-the-international-community-handle-syria-and-skripal/Pun juga Suriah semasa kepemimpinan Presiden Bashar al-Assad, AS dan Barat berupaya memanipulasi OPCW dengan mendesak adanya penyelidikan terhadap serangan dengan menggunakan senjata kimia di Suriah seperti di Douma pada 2018 lalu. Padahal intisoalnya adalah, pihak AS dan Barat ingin menggulingkan Bashar al-Assad sebagai orang nomor satu Suriah.

Dengan kata lain AS, Inggris, Prancis yang memang merupakan para pihak yang berkepentingan untuk melestarikan hegemoni globalnya di Timur Tengah, selalu merujuk pada temuan OPCW sebagai dalih untuk menuding penggunaan senjata kimia oleh Suriah.

OPCW sebagai badan internasional dalam perlucutan senjata kimia, memang mutlak harus independen, netral dan bebas dari pengaruh kepentingan keamanan global negara-negara adikuasa. Sebagai badan pelaksana Konvensi Senjata Kimia, OPCW, dengan 193 Negara Anggotanya, diberi mandan guna mengawasi upaya global untuk secara permanen menghilangkan senjata kimia. Sejak Konvensi tersebut mulai berlaku pada tahun 1997, Konvensi ini sangat diharapkan  oleh komunitas internasional agar supaya perjanjian perlucutan senjata akan berjalan sukses tanpa rintangan dari eksternal maupun internal OPCW itu sendiri, sehingga berkemampuan untuk menghilangkan seluruh kelas senjata pemusnah massal di seluruh dunia.

Hendrajit, Penekun dan Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Penulis

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

SebelumnyaMengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?SelanjutnyaProgram Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah

Lainnya di Analisis

Lihat semua
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analisis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 Agustus 2026 · 5 menit baca

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analisis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 Agustus 2026 · 10 menit baca

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah
Analisis

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur TengahTimur Tengah

13 Agustus 2026 · 4 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents