About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Antara People Power, Preman Pembangunan, dan Kudeta KonstitusiKudeta Konstitusi

Rusman

Rusman·29 March 2023·3 min read

Share
Antara People Power, Preman Pembangunan, dan Kudeta Konstitusi
Hikmah Silaturahmi ke Senior Tiga Zaman (1) Senior tiga zaman bilang, jika sebuah rezim atau pemerintahan dibidani oleh people power, biasanya (rezim) cenderung kurang stabil dalam perjalanannya. Entah fluktuatif kondisi sosial politiknya, atau perekonomian carut marut, dan khususnya pengelolaan kewenangan terkait distribusi kekuasaan berjalan tidak optimal. Mengapa begitu? Konon, selain timbul kegaduhan di sana-sini, bahwa aksi people power yang berubah menjadi rezim kerap kali memunculkan ‘premanisme’ di dalam pemerintahan itu sendiri. Beliau —senior tiga zaman— tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan premanisme di pemerintahan. Mungkin, semacam kaum birokrat atau aparat yang suka menabrak aturan; bagian dari (linkar) mafioso; benere dewe; mencuri hati rakyat melalui pencitraan untuk menutup ‘kelemahan’-nya dan lain-lain. Pada gilirannya, mereka menjadi ‘preman – preman pembangunan’ dalam negara. Lagi-lagi, entah apa makna preman pembangunan —pikiren dewe— senior tiga zaman itu tidak menjelaskan secara detail. Pakistan misalnya, ia mengambil contoh, atau Srilanka, Filipina, Georgia, Cekoslowakia, maupun beberapa negara di Afrika yang kerap jatuh bangun akibat people power stabilitasnya cenderung labil. Ya. Jangan sampai terjadi people power di Indonesia, begitu pesannya, karena ia saksikan sendiri saat people power terjadi di Praha, Ceko — ada jenderal digantung lalu digebuki massa hingga tewas. Sungguh mengerikan dan nyaris hilang adab. Dari sudut pandangnya, stabilitas negeri-negeri di atas cenderung rapuh lagi tidak kondusif. Kenapa people power justru menciptakan premanisme pada pemerintahan (baru) yang terbentuk? Tentu saja, selain proses pembentukan kabinetnya rusuh lagi gaduh sebab tak ada tokoh sentral dan/atau tidak punya lagi institusi terpercaya; banyak elemen massa merasa berjasa dalam pelengseran rezim sebelumnya; buruknya moral dan kompetensi personel yang duduk di kabinet; juga kelompok-kelompok dalam pergerakan saling berebut jabatan serta ingin duduk di tempat strategis, bergengsi, dan pos yang dianggap ‘basah’. Mungkin semacam kavling-kavling jabatan bagi kelompok kontributor pergerakan. Syukurlah, di republik ini tak sekalipun pernah ada people power dalam perjalanan tiga orde (Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi) kecuali revolusi saat proklamasi kemerdekaan tempo doeloe. Sekali lagi, Indonesia belum pernah terjadi people power sekalipun. Kalau nyrempet-nyrempet sedikit, bolehlah. Peristiwa Mei 1998, misalnya, itu bukan people power, hanya nyrempet seketek. Kenapa? Sebab, nyaris semua institusi dalam struktur kenegaraan —saat peristiwa— masih berfungsi secara efektif kecuali lembaga tertentu dinilai lumpuh. Gerakan Mei 1998 dulu —pelengseran Pak Harto— bukan murni kehendak rakyat dan/atau faktor kekuatan mahasiswa. “Mereka hanya penembak di atas kuda”. Mohon maaf, bukan bermaksud mengecilkan peran rakyat dan aksi mahasiswa dalam reformasi, namun begitulah realitasnya. Sekali lagi, reformasi 1998 bukanlah people power. Tetapi, aksi tersebut merupakan buah dari manuver asing melalui proxy agents yaitu para pemain serta tokoh-tokoh lokal. Kejatuhan Orde Baru, sebenarnya cuma sasaran antara saja, karena tujuan (skema) gerakan ialah ‘kudeta konstitusi’. Silent invasion. Hal inilah yang kurang dipahami sebagian anak bangsa karena canggihnya skenario serta trik deception atas nama isu KKN dan euphoria reformasi. Pertanyaan selidik, “Apa indikator bahwa reformasi 1998 merupakan kudeta konstitusi alias buah invasi senyap oleh asing?” Jujur harus diakui, bahwa gerakan reformasi sebenarnya dimotori oleh NDI (National Democratic Institute) yang dipimpin oleh Madeleine Albraight, Menlu AS pada masanya (1997-2001). Tidak boleh dipungkiri, NDI kala itu didukung 18 LSM lokal yang tergabung dalam ‘Koalisi Ornop Untuk Konstitusi Baru’. Ornop itu akronim dari ‘organisasi nonpemerintah’ di bawah pimpinan (mendiang) BN. Nah, dari namanya (Koalisi Ornop Untuk Konstitusi Baru) saja sudah bisa dibaca, bahwa NDI bersama 18 LSM memang berencana mengganti —silent invasion— terhadap UUD 1945 Naskah Asli karya agung The Founding Fathers. Bagaimana kudeta konstitusi UUD 1945 dilakukan? Tak elok mengurai detail satu per/satu, ataupun menyebut nama-nama komprador yang masih hidup, kata senior tiga zaman. Semoga mereka cepat insyaf lalu bertobat. Mari kita urai benang merahnya, pokok-pokok pikiran dari UUD 1945 yang dikudeta oleh NDI melalui tokoh-tokoh lokal alias kaum komprador. Bersambung ke (2) M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousTAP MPR Kok Tidak Bernomor?Next“Geopolitik Salah Kamar”

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents