About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

“Api Dalam SekamApi Dalam Sekam”

Rusman

Rusman·8 March 2025·3 min read

Share
“Api Dalam Sekam”
Indonesia hari ini, terjebak pada frase dengan apa yang disebut “Bangsa Terbelah”. Terbelah karena apa? Ya, terpecah belah karena menganut Sistem Bernegara impor yang bernafas individualis, liberal lagi kapitalistik yaitu UUD NRI 1945 Produk Amandemen (1999-2002) atau oleh para pegiat konstitusi kerap diistilahkan: “UUD 2002”. Sebutan dimaksud, hanya untuk membedakan dengan UUD Baru —UUD NRI 1945— yang diteken Presiden RI ke-5 pada 10 Agustus 2002. Namun, uniknya kebanyakan warga justru tidak menyadari bahwa sesuatu abnormal sedang terjadi. Memang. Jika kondisi abnormal berlangsung terus menerus dalam tempo relatif lama, maka kondisi abnormal pun bisa dianggap “normal”. Ada beberapa penyebab, mengapa kondisi abnormal yang telah dianggap normal itu merebak, contoh: 1. Timbul fenomena Stockholm Syndrome di publik karena faktor agitasi dan propaganda asing, misalnya, sehingga banyak warga justru jatuh cinta kepada kaum (penjajah) yang merampas kehidupannya. Hal ini terjadi tidak hanya di akar rumput akibat sempitnya wawasan, tetapi juga menerpa kalangan elit dan intelektual atas nama pragmatisme serta ‘pelacur intelektual’; 2. Paradigma dan kerangka kerja penjajahan supermodern berubah total, yakni: “The best way to keep a prisoner escaping is to make sure he knows he’is in prison” (Adrian P, 2024). Terjemahan bebasnya, bahwa cara terbaik untuk mencegah seorang tahanan melarikan diri ialah dengan memastikan dia tidak pernah tahu bahwa dia berada dalam penjara. Kembali ke topik bangsa terbelah. Pertanyaan selidiknya adalah, “Mana bukti dan apa pintu masuk pembelahan bangsa ini?” Secara kesisteman dan makro, biang keroknya ialah penggantian UUD 1945 menjadi UUD 2002. “Itu pokok masalah atau hulu persoalan bangsa.” Namun, secara mikro adalah metode one man one vote (satu orang satu suara). Itulah model pemilihan presiden (Pilpres) di era reformasi tahun 2004 kali pertama Pilpres Langsung dimulai sampai sekarang. Ya. sejak UUD 1945 Naskah Asli karya pendiri bangsa dikudeta secara nirmiliter (asimetris) oleh Amerika Serikat cq National Democratic Institute dibantu kelompok “londo ireng” sebagai operator lapangan pada 1999-2002 silam. Tak dapat dipungkiri, semenjak Pilpres, Pilkada dan ‘pil-pil’ lainnya menganut one man ove vote, bangsa ini langsung terbelah. Minimal gaduh atas nama pro ini, pro itu — maksimal timbul polarisasi sosial yang cenderung lestari pada bangsa ini secara berkala. Inilah yang kini terjadi. Kendati rakyat mencoblos secara langsung pemimpinnya, tetapi nasib bangsa dalam lima tahun ke depannya tetap sama, bahkan cenderung semakin susah, sedangkan hajatan tersebut menghabiskan uang (rakyat) ratusan triliun rupiah tapi justru menghasilkan bangsa terbelah. Ironis. Ketika ada kelompok warga menginginkan kembali ke UUD Naskah Asli dengan penyempurnaan melalui teknik adendum, tidak sedikit orang mencibir. Gerakan tersebut dituduh ingin balik ke zaman Orde Baru. Padahal, selama republik ini berdiri, konstitusi rumusan pendiri bangsa (UUD 1945 Asli) belum pernah dilaksanakan secara murni dan konsekuen baik di era Orde Lama, Orde Baru, bahkan kian dicampakkan di era reformasi. Ya. Potret bangsa terbalah hanyalah salah satu outcome dari UUD 2002 yang liberal. “Dampak liberalisasi konstitusi”. Masih banyak dampak lainnya, misalnya, terampasnya Kedaulatan Rakyat oleh partai politik (Pasal 6A Ayat 2 UUD 2002), muncul politisasi nyaris di semua lini, very high cost politics, marak korupsi dan berjamaah sebagaimana isu di DPD RI dan DPR RI, muncul dinasti politik tanpa kompetensi, state-corporate crime, “negara dalam negara”, kegaduhan tak bertepi, dan lain-lain. Entah hingga kapan. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousUSAID dan Neokolonialisme AS di AsiaNextPeningkatan Anggaran Pertahanan-Militer NATO Untuk Memperluas Ekspansinya ke Asia Pasifik

More in Analysis

View all
Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
Analysis

Kita Butuh Mas BotokBotok Sebagai Tokoh Rakyat

29 August 2026 · 10 min read

Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Kita Butuh Mas Botok Sebagai Tokoh Rakyat
  2. 02Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
  3. 03Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  4. 04Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  5. 05Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents