About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

International

Board of PeaceBoard of Peace: Antara Emosi Publik, Fragmentasi, Palestina, dan Penjelasan yang Terlambat!

Rusman

Rusman·28 February 2026·3 min read

Share
Board of Peace: Antara Emosi Publik, Fragmentasi, Palestina, dan Penjelasan yang Terlambat!

Peter Gontha : EDITORIAL PUBLIK

Protes muncul ketika Indonesia memutuskan bergabung dalam inisiatif Board of Peace terkait Palestina — sebuah inisiatif yang disebut-sebut lahir dari gagasan yang didorong oleh Presiden Trump. Sebagian masyarakat mempertanyakan: mengapa Indonesia ikut? Apa mandatnya? Apakah ini kompromi geopolitik? Ataukah ini langkah strategis?

Reaksi itu dapat dipahami. Palestina bagi Indonesia bukan sekadar isu luar negeri. Ia adalah isu historis, moral, bahkan emosional. Dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina adalah bagian dari identitas politik luar negeri kita sejak awal kemerdekaan.

Namun saya menghadiri sebuah rapat tertutup dan baru mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan Board of Peace dan mengapa Indonesia memutuskan untuk ikut serta di dalamnya. Dan setelah mendengar penjelasan tersebut, saya merasa ada konteks yang selama ini tidak tersampaikan dengan baik kepada publik.

Masalahnya mungkin bukan pada keputusannya, melainkan pada komunikasi yang tidak cukup jelas sejak awal.

Palestina Bukan Entitas Tunggal

Dalam rapat tersebut ditegaskan satu realitas penting yang sering tidak dibicarakan secara terbuka: Palestina hari ini bukan entitas politik yang tunggal. Di Gaza, kekuasaan berada di tangan Hamas, gerakan Islamis yang memiliki sayap militer kuat.

Di Tepi Barat, dominasi politik dipegang oleh Fatah, yang menjadi tulang punggung Palestinian Authority (PA). Ada pula Palestinian Islamic Jihad, kelompok militan aktif yang memiliki agenda sendiri.

Di sisi kiri ideologis terdapat:
• Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP),
• Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP),
• Palestinian People’s Party,
• FIDA dan kelompok kiri lainnya.

Secara struktural, ada Palestine Liberation Organization (PLO) yang diakui dunia internasional, namun tidak sepenuhnya mencakup semua faksi bersenjata utama.

Belum lagi:
• Al-Aqsa Martyrs Brigades,
• Fatah al-Intifada,
• Reform Current (Mohammed Dahlan),
• Lion’s Den di Nablus,
• Jenin Brigades,
• Milisi lokal berbasis kamp pengungsi,
• Struktur klan bersenjata di Gaza.

Sejak 2007, Gaza dan Tepi Barat terpisah secara de facto. Upaya rekonsiliasi berulang kali gagal. Tidak ada satu otoritas tunggal yang sepenuhnya memegang kendali nasional. Inilah fakta yang sering diabaikan dalam perdebatan emosional.

Mengapa Board of Peace Dianggap Perlu

Dalam penjelasan yang saya terima hari ini, ditegaskan bahwa tanpa suatu mekanisme stabilisasi yang netral:
• Bantuan rekonstruksi bisa disalahgunakan,
• Konflik antar faksi bisa meledak kembali,
• Kekosongan kekuasaan pasca-konflik dapat menimbulkan perang saudara,
• Tidak ada jaminan keamanan bagi proses transisi politik.

Board of Peace — dalam filosofi yang dijelaskan — dimaksudkan sebagai mekanisme pengawasan dan stabilisasi sementara untuk:
1. Mencegah kekosongan kekuasaan,
2. Menjaga distribusi bantuan kemanusiaan,
3. Menghindari konflik internal Palestina,
4. Menjamin keamanan transisi menuju solusi dua negara.

Apakah ini pasti berhasil? Tidak ada jaminan. Apakah ini otomatis pengkhianatan terhadap Palestina? Itu juga tidak sesederhana itu.

Masalah Kita Komunikasi Bukan Niat

Jika penjelasan seperti ini disampaikan sejak awal kepada publik, mungkin reaksi tidak akan sedemikian keras.

Rakyat berhak tahu:
• Apakah mandatnya jelas?
• Apakah ini di bawah kerangka internasional?
• Apakah Indonesia mengirim pasukan atau hanya perwakilan diplomatik?
• Apa kepentingan nasional kita?
• Apa batasan keterlibatan Indonesia?

Tanpa penjelasan yang sistematis dan transparan, ruang kosong diisi oleh asumsi. Dan dalam isu Palestina, asumsi cepat berubah menjadi kecurigaan.

Kedewasaan dalam Bernegara

Saya memahami kemarahan sebagian masyarakat. Saya juga memahami sensitivitas isu ini. Tetapi setelah mendengar langsung penjelasan dalam rapat hari ini, saya melihat bahwa ada dimensi rasional yang perlu dipertimbangkan.

Indonesia tetap harus berpijak pada politik luar negeri bebas-aktif. Mendukung Palestina tidak berarti menolak setiap inisiatif stabilisasi. Dan berpartisipasi dalam mekanisme perdamaian tidak otomatis berarti berpihak pada satu blok kekuatan. Namun satu hal yang jelas: pemerintah harus menjelaskan secara terbuka kepada rakyatnya sendiri.

Penutup

Perdamaian tidak hanya soal posisi moral. Ia juga soal struktur, stabilitas, dan transisi kekuasaan yang realistis. Jika Indonesia ingin berkontribusi pada perdamaian Palestina, maka langkah pertama adalah menciptakan pemahaman yang damai di dalam negeri. Keputusan mungkin sudah diambil.
Kini saatnya penjelasan diberikan dengan jujur, komprehensif, dan terbuka.

Karena tanpa komunikasi yang baik, “Board of Peace” bisa menjadi polemik nasional. Dengan komunikasi yang baik, ia bisa menjadi kontribusi strategis Indonesia bagi stabilitas global.

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousBagaimana Konstelasi dan Konfigurasi Kekuasaan Politik Iran Pasca Gugurnya Ali Khamenei?NextOPCW Sebagai Badan Pelarangan Senjata Kimia Dalam Perspektif Politik Luar Negeri RI Bebas-Aktif

More in International

View all
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analysis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 August 2026 · 6 min read

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
International

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents