About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Bocoran Vault 7 dan Temuan CVERC Menyingkap Hegemoni GlobalHegemoni Global AS di Bidang Cyber Melalui Aksi Spionase

Hendrajit

Hendrajit·20 June 2023·4 min read

Share
Bocoran Vault 7 dan Temuan CVERC Menyingkap Hegemoni Global AS di Bidang Cyber Melalui Aksi Spionase

Sejak Edward Snowden membocorkan Program Prisma, terungkap bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menggunakan sarana computer dan internet untuk melancarkan cyber war terhadap negara-negara pesaingnya seperti Cina dan Rusia.

Maka itu kiranya cukup beralasan jika pemerintah Cina berulangkali menuding badan intelijen CIA mengerahkan senjata-senjata siber (cyber weapons) untuk cipta kondisi mendukung gerakan-gerakan people power seperti colour revolution di beberapa negara Eropa untuk menggulingkan pemerintahan negara-negara yang dinilai memusuhi AS dan sekutu-sekutunya (regime change).

 

Baca: CIA Accused of Long-Term Campaign of “Cyber Weapons” Use in China, Other Countries

 

Pun juga bagi Rusia atau Iran yang sama-sama dipandang musuh utama AS, tudingan pemerintah Cina bukan omong kosong melainkan nyata adanya. Apalagi menurut the National Computer Virus Emergency Response Centre (CVERC) yang bermitra dengan Chinese Security Firm 36, menengarai kemampuan CIA untuk menyebarkan botnet dan malware ke pelbagai negara di dunia.

Sekadar informasi. Botnet atau jaringan robot yang merupakan kumpulan dari beberapa perangkat (computer, perangkat seluler, server, perangkat lo T, dan sebagainya), yang sudah terinfeksi oleh malware dan saling terhubung melalui jaringan internet.

 

Endpoint Security - Endpoint Protection Concept - Multiple Devices Secured Within a Network - Security Cloud - Cloud - Cloud-based Cybersecurity Software Solutions - 3D Illustration

 

Adapun Malware merupakan perangkat lunak dari beragam jenis yang sengaja dirancang untuk mennyebabkan kerusakan pada komputer atau jaringan komputer. Seperti virus komputer, cacing komputer, perangkat pengintai, bahkan perangkat lunak beriklan.

Pada 2020 lalu Kementerian Luar Negeri Cina mengadakan sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bidang keamanan yaitu Qihoo, yang mana kemudian menemukan indikasi bahwa CIA selama lebih dari satu dekade secara aktif dan terus-menerus telah mengerahkan senjata-senjata sibernya terhadap berbagai kalangan sipil (civilian targets)

Negara-negara Barat blok AS pada umumnya tidak membantah keterkaitan kegiatan mereka dalam melakukan hacking atau penyintasan yang terintegrasi denan aksi-aksi spionase, namun mereka mencoba mempertahankan pembenaran moralnya dengan menuding Cina dan Rusia juga melakukan aktivitas serupa menggunakan perangkat-perangkat cyber untuk mencuri hak cipta intelektual (intellectual property) dari perusahaan-perusahaan swasta dengan melakukan infiltrasi melalui penyebaran perangkat-perangkat botnet dan malware seperti saya gambarkan sebelumnya.

Mengenai keterlibatan CIA dan pemerintah AS dalam operasi-operasi intelijen membantu penggulingan pemerintahan-pemerintahan yang tidak pro AS sebenarnya sudah semakin terkonfirmasi lewat bocoran WikiLeaks terutama terkait bocoran Vault 7. Bahwa AS terlibat secara aktif meski dari belakang melayar, ikut serta mendukung apa yang kelak disebut Revolusi Berwarna (color revolution) di Serbia, Georgia dan Ukraina.

 

 

 

Bahwa terungkap bahwa perangkat-perangkat botnet, malware maupun kuda troya, telah digunakan sebagai senjata-senjata cyber oleh CIA. Bahwa CIA secara terus-menerus menggunakan jaringan berskala global (a globe-spanning network) yang didukung perangkat-perangkat cyber seperti botnet dan server-server setempat, untuk menggangu negara-negara yang ditetapkan sebagai sasaran serangan cyber dengan menyebarkan malware.

Hanya saja informasi baru yang sangat penting sebagaimana dilansir oleh CVERC tersebut tadi, sayangnya hanya terpusat pada memfasilitasi dukungan yang diberikan oleh CIA terhadap para aktivis demonstran anti-pemerintah yang merupakan unsur-unsur garis depan dari skenario revolusi berwarna seperti terjadi di Serbia, Hongaria, Bulgaria, Georgia dan Ukraina.

Namun temuan CVERC tersebut tidak menyingkap ragam dan jenis senjata-senjata cyber yang bersifat offensif macam apa saja seperti misalnya jenis arsitektur jaringan yang memungkinkan komputer saling terhubung satu sama lain sehingga tidak memerlukan server pusat.

Jika CVERC berhasil pula membongkar macam ragam senjata-senjata cyber yang offensif, maka akan tersingkap pula bagaimana melalui jenis jaringan arsitektur jaringan tersebut, para pihak yang terlibat dalam operasi intelijen membantu para aktivis-aktivis penggerak revolusi berwarna saling berkomunikasi secara langsung. Bahkan ketika jaringan internet dimatikan atau disensor.

Bahkan di kawasan Timur-Tengah terungkap bahwa CIA telah memonitor jaringan internet beberapa negara di Timur Tengah dan bahkan CIA telah terlibat dalam operasi-operasi intelijen penggulingan kepala pemerintahan  setidaknya di 50 negara dalam kurun waktu selama 75 tahun.

Kembali ke bocoran the Vault 7, telah terkonfirmasi bahwa CIA memiliki bermacam-macam jenis senjata siber yang memiliki kemampuan offensif seperti kemampuan untuk menyintas atau hacking capability. Hanya sayangnya dari beberapa dokumen yang berhasil bocor, hanya mencakup beberapa perangkat senjata cyber yang dikembangkan hingga 2016 lalu.

Namun demikian pada 2020, Qiho pernah mengatakan bahwa perangkat-perangkat senjata siber tersebut terkoneksi dengan malware yang berhasil terditeksi melalui bocoran dokumen-dokumen Vault 7.

Berdasarkan jalinan dan konstruksi cerita tadi, sudah bisa dipastikan bahwa hegemoni cyber AS yang dimanipulasi oleh CIA, telah berekspansi ke pelbagai belahan dunia, dan telah bertekad untuk meningkatkan kemampuan perangkat-perangkat senjata cyber-nya sebagai perangkat pendukung aksi-aksi mata-mata atau spionase yang dilancarkan Washington. Sehingga secara otomatis, sistematis dan cerdas, berkemampuan melancarkan serangan-serangan cyber terhadap negara-negara yang dipandang sebagai musuh Amerika. Hal itu secara terang-benderang terungkap melalui 8,716 dokumen berdasarkan bocoran Vault 7.

AS memiliki gudang persenjataan cyber yang terbesar di dunia dengan membangun sejumlah perangkat-perangkat penyintas/hacking tools maupun senjata-senjata cyber yang bersifat offensif. Berdasarkan hasil investigasi, senjata-senjata cyber yang mana pemerintah AS terutama CIA menggunakan perangkat-perangkat malware berdasarkan spesifikasi dan standar yang telah ditetapkan, yang diarahkan ke sasaran-sasaran semua tipe dan platform termasuk IoTs beserta beberapa pola serangan.

Dengan bantuan dari Proyek Pengembangan Senjata Cyber, badan intelijen AS mampu memata-matai negara-negara yang mereka tetapkan sebagai sasaran. Untuk itu pemerintah AS tidak segan-segan berinvestasi dengan anggaran yang cukup besar di bidang teknologi maupun sumberdaya manusia.

 

Baca: China says NSA used multiple cybersecurity tools in attacks against Chinese university

 

Selama AS tetap berupaya mempertahankan hegemoninya di bidang cyber, maka AS layak disebut sebagai imperium penyintasan atau the Empire of Hacking.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousKrisis Kepemimpinan: Di Antara Swing Voters, Golput, dan Dejavu Dalam Kontestasi 2024 (1)NextManuver China Di Timur Tengah (Bagian 2)

More in Analysis

View all
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Most Read

  1. 01Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
  2. 02Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  3. 03Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  4. 04Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  5. 05Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents