About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Society

Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan LokalKearifan Lokal

Hendrajit

Hendrajit·28 July 2026·5 min read

Share
Dieng, Obyek Wisata Yang Indah dan Kaya Kearifan Lokal

Dataran tinggi Dieng merupakan sebuah tempat yang memberikan kemewahan dan rasa nyaman tersendiri. Mewah bukan dalam versi kota, namun desa yang letaknya dikelilingi dataran tinggi ini menghasilkan banyak potensi alam dan juga wisata.

Potensi-potensi ini Dieng merupakan tempat yang mencuri banyak perhatian pengunjung luar negeri. Terbukti dari pencarian kata kunci di google search yaitu tour dieng Wonosobo baik yang berbahasa Indonesia maupun menggunakan bahasa internasional Inggris jumlahnya ribuan.

Kali pertama saya memasuki Kabupaten Wonosobo, sebelum menuju Purwokerto, pusat dari daerah Banyumas. Kebanyakan memang lebih familiar dengan kota Purwokerto alih-alih Wonosobo. Tapi ada baiknya juga pembaca sekilas mengenal Wonosobo yang cuacanya terasa sejuk dan lebab selalu. Wonosobo adalah sebuah kota di Jawa Tengah, Indonesia. Wonosobo terletak di antara dua gunung, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Gunung Sindoro dilihat dari Wonosobo. SUMBER FOTO: https://id.wikivoyage.org/wiki/Wonosobo

Kok nama kotanya disebut Wonosobo? Gimana ceritanya nih?  Wonosobo berasal dari bahasa Sansekerta Vanasabha, yang berarti “tempat berkumpul di hutan”. Wonosobo, serta kabupaten terdekat lainnya, Kabupaten Temanggung, terkenal dengan perkebunan tembakau dan tehnya.

Pemandangan perkebunan tembakau dan teh akan menyambut anda saat memasuki kota. Terletak 270 m hingga 2250 m di atas permukaan laut, wilayah Wonosobo juga merupakan tempat yang sempurna untuk pertanian sayuran, dengan hampir semua sayuran yang dikenal di toko kelontong ditanam di sini.

Wisata alam kebun teh Kertosari di Kecamatan Kalibening, Banjarnegara yang sejuk dan asri. Foto diunggah Minggu (11/6/2023).

SUMBER FOTO: Uje Hartono/detikJatengNah, cukup dulu soal Wonosbo. Memasuki Purwokerto,  ditandai dengan adanya stasiun kereta api yang cukup besar dan juga terdapat universitas terkenal yaitu Universtas Jenderal Sudirman atau biasa disebut Unsoed.

Purwokerto layaknya sebuah kota, ramai dan padat. Ruko-ruko bertingkat berdiri dan juga akses transportasi memudahkan pengunjung melakukan perjalanan di kota ini.

Kota yang hampir berbatasan dengan adat istiadat Sunda ini terkenal dengan bahasanya yang masih ngapak. Istilah ngapak berarti bahasa yang berbeda jauh dengan bahasa jawa tengah Mataraman yang tutur-pinuturannya mengikuti teladan  bahasa Jawa halus  yang umum dipakai oleh keturunan raja-raja atau kaum ningrat Jawa. Ciri lainnya bahasa ini banyak digunakan dalam “obrolan warung-warung kopi” atau sebagai bahasa gaul.  Contohnya, iki artinya ini, ora artinya tidak, wong artinya orang.

Dataran tinggi dieng adalah sebuah tempat dimana suhu udaranya dapat mencapai minus 0 derajat. Tempatnya dikelilingi empat gunung yakni Gunung Prau, Sikunir, Pakuwaja, dan Bismo. Di dalamnya terdapat komplek percandian Dieng yang sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu ada di Nusantara. Sebanyak delapan candi berdiri antara lain Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, Candi Drawawati, Candi Bima, dan Candi Gatot Kaca.

Di sekitar tempat wisata komplek percandian terdapat beberapa tempat yang menarik seperti Kawah Sikidang, Batu Pandang Ratapan Angin, Telaga Warna, dan memburu Golden Sunrise di Bukit Sikunir. Keempat tempat ini yang dapat dikunjungi oleh wisatawan yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengeksplorasi tempat di hari Sabtu dan Minggu.

Bau Blerang, itu yang dirasakan saat kita pertama kali berada di Kawah Sikadang. Pemandangan gumpalan tanah dan juga sumber blerang.

Kamipun diminta untuk berhati-hati saat menginjak tanah kawah karena dapat memunculkan sumber lubang yang dapat menyebabkan cairan blerang tersentuh ke kulit tubuh. Suhu zat blerang sangat panas, asapnya juga dapat mempengaruhi pernapasan sehingga saat melakukan perjalanan ke Kawah Sikadang diharuskan menggunakan masker.

Telaga warna merupakan tempat yang memiliki mitos masa lalu yang masih dipercaya oleh warga sekitar. Konon telaga ini adalah tempat mandi para putri bangsawan. Saat sedang mandi, selendang yang biasa dipakai ratu hilang dan tiba-tiba telaga berubah warna seperti warna selendang.

Namun, secara ilmiah telaga tersebut berubah warna karena adanya kandungan sulfur atau blerang yang cukup banyak sekaligus peran matahari yang membuat telaga dapat berubah warna di waktu-waktu tertentu.

Jika ingin melihat telaga warna dari ketinggian, maka kita perlu mendaki tempat wisata Batu Ratapan Angin. Batu ratapan angin ini merupakan tumpukan batu yang menjulang tinggi. Untuk mendakinya butuh waktu 5-10 menit. Di atas kita dapat menikmati pemandangan telaga warna yang ciamik. Sama halnya dengan telaga warna, Batu Ratapan Angin juga memiliki mitos yang sangat kental terdengar di masyarakat.

Konon katanya batu ratapan angin itu adalah sebuah cerita kutukan bagi suami istri yang berselisih paham karena salah satu dari pasangan tersebut berselingkuh. Yang ditampilkan dalam batu tersebut adalah perbedaan tinggi dan rendah batu. Batu yang agak tinggi dimaknai laki-laki yang melakukan kesalahan sedangkan yang rendah adalah perempuan. Walaupun mitos, namun kisah itu mengandung pesan moral untuk mengingatkan para pengunjung bahwa kesetiaan adalah sebuah keharusan bagi setiap insan manusia dalam ikatan pernikahan.

Naik ke bukit sikunir, kita dapat menikmati matahari terbit yang utuh di antara pegunungan. Sayangnya saat itu kami melewatkan perjalanan itu karena ada suatu halangan. Infonya, untuk mendaki kawah tersebut, perlu perjalanan sekitar pukul tiga pagi agar sampai ke atas bukit sikunir dengan berjalan kaki. Matahari terbit di bukit sikunir digadang-gadang merupakan sunrise tercantik di Asia Tenggara. Jika kita berkunjung di hari libur di tengah padatnya pengunjung jangan berharap mendapatkan pemandangan foto yang diinginkan. Jadi menikmati terbitnya matahari saja sudah berucap syukur karena karunia Tuhan.

Dalam setahun ada dua acara besar yang dapat menarik perhatian para pengunung untuk datang ke tempat wisata di seputara dieng, yaitu megikuti tradisi Ruwatan Suku Anak Rambut Gimbal dan Dieng Culture Festival.  Ruwatan dilakukan pada tanggal satu suro atau satu muharam sedangkan festival diadakan setiap pertengahan tahun.

Paket Wisata Open Trip Dieng Culture Festival Murah 2026 - Tournesia

Ruwatan suku anak rambut gimbal merupakan bentuk pelestarian kisah budaya yang konon anak-anak ini adalah titipan dari abdi ratu pantai selatan Nyi Roro Kidul yaitu Nini Roro Ronce yang menikah dengan Kyai Kolo Dete. Ruwatan dilakukan untuk membebaskan anak-anak rambut gimbal dari kesialan, kesedihan, dan malapetaka.

Proses ruwatan diawali dengan berkumpulnya anak rambut gimbal di rumah tetua adat, lalu dibawa ke kompleks Dharmasala untuk mandi suci dengan air yang berasal dari Sendang Sedayu. Kemudian mereka digiring ke kompleks Candi Arjuna untuk dilakukan pemotongan rambut.

Festival Dieng Culture agak lebih modern karena acara yang paling dominan adalah adanya penampilan musik Jazz di sekitar komplek Candi Dieng. Biasanya dilakukan minimal dua hari dengan menghadirkan berbagai artis ibukota.

Selain menambah pendapatan daerah dan menggerakkan ekonomi, festival ini juga menarik perhatian terutama para wisatawan luar negeri yang gemar mendengarkan musik Jazz. Walaupun terkesan kawasan Dieng penuh dengan mitos, namun tidak menutup diri untuk mengundang berbagai potensi wisata yang menjadi daya tarik kawasan ini.

Murnia Margono, Peneliti Sosial-Budaya, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousAnak Sekarang Tidak Suka Baca BukuNextSejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026

More in Society

View all
Anak Sekarang Tidak Suka Baca Buku
Society

Anak Sekarang Tidak Suka Baca BukuBaca Buku

14 August 2026 · 1 min read

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika Serikat 2026
Geopolitics

Sejatinya Amerika di Balik Pundi-Pundi Dollar Ajang Piala Dunia Amerika SerikatAmerika Serikat 2026

24 July 2026 · 7 min read

Seren Taun Kasepuhan 2026: Melestarikan Tradisi Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu
Society

Seren Taun Kasepuhan 2026: Melestarikan Tradisi Masyarakat AdatMasyarakat Adat Kasepuhan Cisitu

17 July 2026 · 5 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents