About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

GreenlandGreenland: Keserakahan Bersama Ancaman

Rusman

Rusman·17 January 2026·3 min read

Share
Greenland: Keserakahan Bersama Ancaman

Ngobrol Bareng Ichsanuddin Noorsy tentang False Flag Operation di Tebb-Six Coffee, Cab Semarang

Agaknya, Barat — dalam hal ini Amerika Serikat (AS) dan sekutunya (NATO) kembali memainkan pola lama. False flag operation atau operasi bendera palsu. Isu ancaman dan ketakutan disebar ke publik global. Agenda digelindingkan melalui invasi militer dan kekerasan. Nantinya, skema pasti ditancapkan. Wujudnya berupa kavling-kavling geoekonomi dan penguasaan wilayah strategis. Itu pola ITS (isu, tema/agenda, skema) atau dalam bahasa intelektual kerap disebut: geopolitik – geostrategi – geoekonomi (3G). Tanpa perlu persetujuan global, penguasaan dan pendudukan wilayah dilakukan sesuai dengan skema penjajahan. Siapa peduli, toch kekuasaan tampil sebagai kebenaran.

Isu dan agenda itu kini tengah berproses. Ia menciptakan ancaman dan kecemasan untuk membenarkan kehadiran militer. Berdalih “pengintaian” dan “pencegahan”, maka Prancis, Jerman, Swedia, dan Norwegia pun mengirim pasukan ke Nuuk, ibukota Greenland. Alasannya klasik. Ada ancaman Rusia dan Tiongkok (isu). Tentu bukti ancaman itu semu dan bias. Tapi tetap menghadirkan kecemasan sebagaimana terlihat pada pemegang otoritas kedaulatan Greenland: Denmark.

Ironisnya, isu ancaman paling keras justru dari Presiden AS Donald Trump. Secara terbuka rekan Jeffrey Epstein ini berencana mencaplok Greenland. Namun yang dieksploitasi bukan rencana agresi AS, tapi musuh lama sebagai kambing hitam.

Inilah false flag versi modern. Bukan lagi dengan ledakan seperti 911/WTC, misalnya, tapi lewat manipulasi narasi. Publik kerap tertipu. Seperti tertipu pada kasus serangan AS ke Afghanistan (2001), Irak (2003) dan Libya (2011).

Sekali lagi, pola lama berulang di Greenland. Ketakutan diproduksi, publik diyakinkan, dan ujungnya militerisasi dinormalisasi. Pasukan NATO hadir di sana tanpa Resolusi DK-PBB. Lagi, tidak butuh resolusi itu. Karena PBB dengan segala perangkat kelembagaan dan hukumnya sudah mandul.

Rusia protes, NATO cuek, dan Arktik perlahan berubah menjadi pangkalan militer NATO. Padahal, dalam konstruksi Perang Dingin, NATO sudah tidak relevan. Karena rivalnya Pakta Warsawa sudah tenggelam.

Isu Greenland bukan hanya soal keamanan. Itu cuma pintu masuk. Ini soal dominasi via tekanan kekuasaan. Ada mineral tanah jarang (rare earth elements) dan uranium yang depositnya tak terhingga di sana. Plus ada chokeapoints strategis Laut Arktik, kutub es yang mencair.

Dan seperti biasa, isu Greenlad adalah kebohongan kecil yang disiapkan untuk dominasi di masa depan. Sayangnya kebohongan telanjang itu justru memberi pesan, AS yang memimpin NATO memang memiliki kekuatan militer lebih dibanding negara lain. Ini berarti, AS dan anggota NATO menyampaikan berita ke panggung global bahwa hegemoni mereka berpijak pada legitimasi kekerasan. Suatu legitimasi yang didapat karena paksaan.

Wait and see.

Sejak peristiwa 9-11/WTC, tatanan dunia tengah berubah. Multilateral menjadi hiper globalisasi. Yakni Unilateral tanpa kontrol. Tapi setelah AS kalah perang dagang pada Juli 2008, lempengan sejarah bergeser. Hiper globalisasi menjadi multilateral dan berubah lagi menjadi aliansi-aliansi bilateral. Begitulah ombak VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) berganti menjadi gelombang FLUX (fasting, liquid, unchartered, experiment).

Tapi, tunggu dulu. Kondisi belum final. Perkembangan masih fluktuatif. Unpredictable. sekali lagi, wait and see. Dunia dihantui ketidakpastian dan kecemasan global.

Bagi para pengambil keputusan strategis, perlu kejernihan qalbu dan beningnya pemikiran sebelum melangkah. Kejernihan, kedalaman, keluasan wawasan memberi petunjuk bahwa hegemoni global berbasis legitimasi operasi militer adalah paksaan dan tekanan terhadap azasi kemanusiaan. Karena itu sikap non blok tidak lagi relevan jika rujukannya keserakahan dan kekerasan. Kalau kebutuhannya adalah tegaknya moralitas, mentalitas, dan intelektualitas global yang ruhnya adalah kejujuran, kemanusiaan yang beradab, dan keadilan demi tercapainya kedamaian, maka sikap non blok tetap relevan dan sangat dibutuhkan.

Sementara PBB gagal membangun dan menegakkan kurikulum pendidikan global. Kesinambungan pembangunannya adalah hisapan permen di tengah kelaparan dan kekurangan gizi.

Non blok harus mengantisipasi kesinambungan kekerasan dan keserakahan global.

Demikian sebaiknya. Terima kasih.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousHukum: Penjaga Keadilan atau Pelayan Kekuasaan?Next“Bunuh Diri Geopolitik”

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents