About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Indonesia DiserbuIndonesia Diserbu Dari Pelbagai Sisi dan Anasir – Bagian 1

Rusman

Rusman·27 September 2023·4 min read

Share
Indonesia Diserbu Dari Pelbagai Sisi dan Anasir – Bagian 1
Pokok-Pokok Telaah atas Pintu Masuk dan Modus Penyerbuan Secara Nirmiliter (Asymmetric War) Hari ini, Ketahanan Nasional kita tengah dikepung (dan diserbu) dari beberapa sisi oleh anasir yang sifatnya sudah berupa ancaman faktual alias menimbulkan gangguan nyata. Tetapi, masih banyak anak bangsa ini tidak menyadari kondisi tersebut. Memang ada sebagian masyarakat sadar, namun mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan tak sedikit pula justru menjadi bagian dari sisi penyerbuan dimaksud, sedang mereka tak memahami, atau pura-pura tidak tahu karena turut menikmati? Adapun sisi-sisi dan anasir penyerbuan secara nirmiliter dimaksud antara lain sebagai berikut: Pertama: Liberalisme. Ya. Pasca-Pak Harto lengser dan Orde Baru jatuh, gelombang eforia menerjang publik melalui gelembung framing dan fabrikasi, “Bahwa segala sesuatu yang berbau Orde Baru mesti dihapus, dibuang jauh-jauh dan dihancurkan”. Dan puncak eforia (rèformasi) ialah amandemen UUD 1945 empat kali (1999-2002). Kenapa? Hasil penelitian Prof Kaelan dari UGM terhadap UUD yang diamandemen, bahwa 95% isi pasal-pasal pada Batang Tubuh di UUD telah total diganti. Pada gilirannya, selain antara Pembukaan dan Batang Tubuh tidak nyambung; konstitusi kita berubah individualistik dan liberal; juga usai amandemen, praktik konstitusi UUD NRI 1945 —kerap disebut UUD 2002— telah meninggalkan Pancasila sebagai Norma Hukum Tertinggi. Pancasila tidak lagi menjadi sumber dari segala sumber hukum. Pembuatan UU, misalnya, hanya menginduk kepada pasal-pasal di Batang Tubuh yang sudah diliberalisasi. Tidak nyambung lagi dengan Pancasila yang ada di Pembukaan. Banyak contoh kasus. Yang aktual ialah isu Pulau Rempang, Batam, di Kepulauan Riau. Ini implementasi UU Ciptaker alias Omnibus Law yang kelahirannya penuh kontroversi. Diketok pada malam hari. Dalam Pembukaan dikatakan, bahwa negara (hadir) “… melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia …”, tetapi praktik di Rempang bukan melindungi rakyat. Itu poin intinya. Atas nama investasi, penduduk asli di kampung-kampung tua ‘digeser’ dari bumi yang telah ditempati leluhurnya sejak ratusan tahun lalu, bahkan bertempat tinggal sebelum NKRI berdiri. Agaknya, nafas liberalisme membuat hukum berubah menjadi sub-sistem politik; dan lagaknya, sistem politik pun bagian sub-sistem investasi. Ini asumsi penulis. Kekuasaan menghamba kepada investor. Mendewakan investasi. Padahal, PBB telah mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dimana setiap pembangunan harus mempertimbangkan tiga aspek penting yakni aspek sosial, lingkungan dan aspek ekonomi. Tampaknya, di Rempang dan beberapa wilayah lain, liberalisme lebih memprioritaskan (pertumbuhan) ekonomi daripada aspek lingkungan dan aspek sosial. Kedua: Narkoba. Tak boleh dipungkiri, maraknya narkoba di pelbagai lapis sosial dengan beragam jenis dan modus membuat sebagian masyarakat menjadi ‘generasi linglung’. Padahal, sejarah Perang Candu I (1839 – 1842) dan Perang Candu II (1856 – 1860) di China, telah memberi pointers kewaspadaan kepada publik global, bahwa penyebaran narkoba merupakan bagian dari metode kolonial guna melemahkan bangsa serta menghancurkan daya juang dan daya lawan bangsa terhadap kolonialisme di negerinya. Inilah yang kini terjadi. Narkoba menjadi sarana merusak bangsa dengan harga murah. Ketiga: Komunisme Gaya Baru. Kendati PKI telah dihajar oleh Orde Baru, kemudian pascaoperasi, negeri ini dipagari oleh Tap MPRS/XXV/1966, akan tetapi ‘komunis gaya baru’ mampu berselancar di lapis-lapis sosial, sistem politik, lapisan budaya, dan lain-lain. Ideologi tak pernah mati, kata Prof Anhar Gonggong, namun bagaimana masyarakat memberi ruang. Dan agaknya, di era (reformasi) liberal ini, mereka memperoleh ruang dan modus dalam penyebarannya. Keempat: Korupsi. Bila pada Orde Lama dan Orde Baru, korupsi itu faktor moral. Nah, di era Reformasi sekarang ini — korupsi bukan soal moral semata, namun justru yang utama adalah faktor sistem bernegara. “Korupsi berjamaah”. Adanya Otonomi Daerah (Otoda), misalnya, atau multipartai, pemilu bermodel one man one vote, dan lainnya. Hal-hal itu memberi kontribusi besar atas high cost politics kemudian membidani stigma buruk: ‘korupsi di Indonesia diciptakan oleh sistem’. Nomer piro wani piro (NPWP) tidak hanya berlaku di gelaran pemilu saja, tetapi NPWP di projek-projek APBN/APBD pun sudah ‘diijon’ sejak tahap perencanaan. “Korupsi yang direncanakan”; Kelima: Devide et Impera. Di Era Reformasi, strategi belah bambu ala Snouck Hugronye meraìh ‘puncak karir’-nya. Kenapa? Sebab, ia —devide et impera— berhasil disusupkan dalam sistem bernegara melalui pintu amandemen UUD 1945. Itu tadi. Multipartai, Otoda, dan one man one vote ialah sarana adu domba yang ditempel di sistem bernegara. Itulah, sekurang-kurangnya lima sisi dan anasir yang tengah mengepung lagi menyerbu bangsa dan negara ini. Sehingga setiap kegaduhan yang timbul —jika ditarik benang merah— selalu bermula dari lima aspek tersebut. Bagaimana peta jalan bagi bangsa ini untuk mengatasinya? Bersambung M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousDuduk Bercengkerama Menikmati Hidangan yang Tersedia, Pos Satgas 330 layaknya Rumah Kedua bagi Warga Intan JayaNextWaspadai Calon Presiden Yang Pro Amerika dan Mengabaikan Skema Politik Luar Negeri RI Bebas-Aktif

More in Analysis

View all
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Most Read

  1. 01Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
  2. 02Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  3. 03Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  4. 04Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  5. 05Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents