About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitics

Isu Diego GarciaDiego Garcia: Bukan Soal Rudal yang Gagal, Namun Pesan yang Mendarat

Rusman

Rusman·23 March 2026·4 min read

Share
Isu Diego Garcia: Bukan Soal Rudal yang Gagal, Namun Pesan yang Mendarat

Jangan terkecoh dengan fakta teknis tentang berita kegagalan serangan dua rudal-jarak jauh Iran ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS)-Inggris di (pulau) Diego Garcia, Kepulauan Chagos, Samudra Hindia, sehingga ia dianggap gagal. Itu anggapan keliru. Dalam geopolitik, justru ia dinilai sebagai tembakan asimetri yang “jitu” — memang tidak sampai ke pangkalan, tapi mampu menerabas hegemoni dan keangkuhan (kesadaran) Barat selama ini. Sekali lagi, itu bukan kegagalan, melainkan demonstrasi jangkauan.

Sejalan dengan peperangan atrisi-asimetri yang dikembangkan Iran berbasis mosaic defense doctrine, di Perang Teluk III ini, Iran tak hendak memenangkan peperangan, tetapi menguras sumber daya musuhnya secara non-konvensional hingga pihak lawan mencapai kondisi apa yang disebut pyrrhic victory. Kemenangan diraih dengan pengorbanan sangat besar, seperti hilangnya banyak pasukan, misalnya, atau hancurnya berbagai sumber daya dan lain-lain — sehingga menangnya sama dengan mengalami kekalahan. Dan melalui dua rudal tersebut Iran seperti mengirim pesan strategis: bahwa kami sudah tiba di sini (Diego Garcia), pangkalan militer terpencil-tersembunyi milik AS-Inggris.

Bukan Serangan, Tapi Pesan Strategis dan Menguji Nyali Barat

Selama puluhan tahun, Barat hidup dalam ilusi kecanggihan mesin-perang dan geografis. Asumsinya: jarak ialah benteng dan pangkalan terpencil di Samudra Hindia seperti Diego Garcia merupakan titik aman serta steril dari jangkauan pihak manapun. Nah, dua rudal tadi — meski belum mendarat tepat, sekurang-kurangnya telah merobek asumsi itu.

Jarak empat ribu (4000-an) kilometer bukan lagi batas. Jarak itu menipu. Ia hanya angka lama dalam peta usang. Pesan Teheran sangat dingin lagi terukur: kalau Diego Garcia bisa dijangkau, maka tidak ada lagi “zona aman” untuk lawannya. London, Paris, Berlin dan lain-lain berada pada orbit jangkauan. Pesan ini bukan eskalasi spontan, ia adalah ultimatum teknis-strategis yang dirancang.

Serangan Iran ke Diego Garcia semacam “cek ombak” atau testing the water. Menguji reaksi musuh lewat tata cara brutal. Dan sepertinya, Iran sedang menelaah respon Barat sebagaimana ia membaca buku terbuka dalam beberapa bab: (1) apakah AS akan membalas secara langsung; (2) apakah Inggris akan meningkatkan keterlibatan militernya; dan (3) apakah Eropa akan tetap bersembunyi di balik retorika diplomatik?

Sejauh ini, jawaban Eropa cenderung hati-hati, bahkan terkesan ragu. Setengah hati. Bagi Iran, itu sinyal bagus, artinya — ruang eskalasi masih lebar terbuka. Kenapa dianggap sinyal bagus?

Hormuz: Mesin Uang dalam Perang

Tatkala AS dan sekutu masih pusing menghitung opsi militer, ternyata Iran sudah bermain di papan catur yang lebih dalam: “politik-ekonomi perang”. Selat Hormuz bukan sekadar jalur energi, tapi pengungkit tekanan global. Ketika ketegangan meningkat, premi risiko melonjak, ongkos asuransi kapal naik, harga minyak meroket dan inflasi berantai, maka dalam kekacauan tersebut, siapa diuntungkan? Iran.

Entah melalui kontrol langsung, tekanan militer, atau sekadar ancaman kredibel, Teheran sedang mengubah ritme konflik dari hard power menjadi smart power non-konvensional yakni kas strategis. Perang tak lagi beban, justru sumber pembiayaan, bahkan bisa menjadi aset. Bayangkan, USD 2 juta per tanker bagi lalu lalang seperlima energi dunia mengalir ke pundi-kas Iran. Sekali lagi, bagi Iran – perang bukanlah beban tapi aset yang bakal beranak-pinak.

Inilah yang kerap gagal dibaca oleh para analis strategi Barat: Iran tidak perlu menang cepat. Cukup menggeser durasi konflik menjadi lama dan mahal bagi semua orang (kecuali diri mereka sendiri). Dan pundi-pundi devisanya pun membukit.

Bab el-Mandab: Api yang Menjalar

Lebih berbahaya lagi, metode weaponization geography (persenjataan geografi) di Selat Hormuz pun menular. Kelompok Houthi di Yaman bukan cuma sekutu ideologis, tetapi perpanjangan strategi Iran. Jika Hormuz dinilai sebagai titik cekik di Teluk Persia, Bab el-Mandab dianggap katup di Laut Merah. Ya. Terdengar khabar, Bab el-Mandab hendak ditutup oleh Houthi. Api pun mulai menjalar ke lain kawasan.

Silakan bayangkan skenario ini: Hormuz terganggu, Bab el-Mandab dipersempit, maka Terusan Suez akan kehilangan ritme. Jika skenario itu berlangsung lama, maka ini bukan lagi konflik regional-global. Tetapi, ujud dari gangguan sistemik terhadap ekonomi dunia. Kenapa demikian? Satu kecerdasan Bangsa Arya —Iran— terbaca di Perang Teluk ini, ia mampu memanfaatkan hal yang justru diabaikan Barat: bahwa dunia modern tidak tahan terhadap disrupsi berlapis.

Terjebak Dilema dan Kegagalan yang Mengubah Permainan

Dalam Perang Teluk III, tampaknya AS dan sekutu berada dalam posisi yang tak aman-tidak nyaman. Celakanya, sebagian besar kondisi tersebut justru akibat dari opsi mereka sendiri. Buah simalakama di atas meja komando Trump: ingin terlibat secara dalam dan mundur tanpa kehilangan muka, atau berisiko untuk maju tanpa memicu perang lebih luas. Sungguh pilihan sulit. Karena Iran sendiri telah menyatakan, bahwa kendali peperangan kini ada di tangan Negeri Para Mullah.

Dalam konteks rudal yang gagal tapi pesannya mendarat-sampai, bahkan pangkalan yang dahulu dianggap steril —Diego Garcia— kini berubah menjadi simbol yang rentan. Iran tidak perlu menghancurkan. Cukup dengan membuktikan bahwa ia bisa menjangkau, lalu nilai strategis Diego Garcia pun luruh-tergerus.

Mari jujur kepada nurani, bahwa dua rudal yang gagal bukanlah episode utama dalam pagelaran Perang Teluk III. Episode pokok justru tergelar pada beberapa babak: (1) Iran telah melampaui batas jangkauan lama; (2) AS dan sekutu belum menemukan respons yang logis dan tepat; (3) jalur energi global semakin rentan; (4) lini pertempuran melebar ke titik-titik kritis (dunia) lainnya.

Lagi-lagi, pertanyaannya bukan siapa yang menang hari ini, tetapi siapa mengubah aturan main. Dalam hal ini, Iran telah melakukan (dan mengubahnya). Rudal itu boleh jadi jatuh ke laut, akan tetapi — pesan dan ultimatum yang disampaikan terus mengapung di atas peta dunia: “bahwa jarak tidak lagi melindungi, dan perang tak punya batas geografi”.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousIndonesia: Belajar dari Selat HormuzNextBerakhirnya Superior dan Dominasi Amerika

More in Geopolitics

View all
Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah
Analysis

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur TengahTimur Tengah

13 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents