About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kerja Sama Strategis Indonesia-RusiaStrategis Indonesia-Rusia Dalam Bidang Pertanian, Alternatif Terhadap Pemasok Tradisional Blok-Barat

Hendrajit

Hendrajit·12 June 2026·4 min read

Share
Kerja Sama Strategis Indonesia-Rusia Dalam Bidang Pertanian, Alternatif Terhadap Pemasok Tradisional Blok-Barat

Rawankah ketahanan pangan dunia saat ini? Menurut data UNICEF, pada tahun 2024, 2,6 miliar orang tidak mampu membeli makanan sehat. Angka global ini telah menurun sejak tahun 2019, tetapi kemampuan membeli makanan sehat memburuk di Afrika dan di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah.  Data ini tidak termasuk India).

Selain itu, lebih dari 20% anak-anak balita mengalami pertumbuhan yang tidak semestinya akibat kekurangan nutrisi.

Bagaimana Indonesia? Menurut laporan Global Hunger Index, Indonesia menempati peringkat ke-70 dari 123 negara dengan skor 14,6  yang dikategorikan berada dalam “tingkat kelaparan sedang.” Tantangan nyata yang dihadapi pemerintah Indonesia saat ini terkait ketahanan pangan adalah tingginya angka stunting dan kerentanan terhadap perubuhan iklim.

Meskipun Indonesia saat ini mengalami kemajuan pesat dalam ketahanan pangan dan kualitas nutrisi yang semakin bagus, namun saat ini masih menghadapi tantangan berat dalam malnutrisi yang berakibat kekurangan gizi, ketika tubuh tidak mendapat asupan kalori , protein, atau zat gizi mikro. Kondisi ini meliputi stunting (tinggi badan kurang), wasting (berat badan kurang), dan kekurangan vitamin.

Selain itu Indonesia juga menghadapi overnutrisi, akibat asupan energi atau nutrisi yang berlebihan. Terjadi akibat asupan energi atau nutrisi yang berlebihan, yang berujung pada kelebihan berat badan (overweight) atau obesitas. Adapun Micronutrient, ketika tubuh kekurangan vitamin dan mineral esensial. Zat gizi ini diperlukan dalam jumlah kecil namun sangat krusial untuk fungsi organ, metabolisme, sistem kekebalan tubuh, serta pertumbuhan dan perkembangan optimal.

 

Baca:

Indonesia–Rusia Perkuat Sinergi Pertanian Hingga Luar Angkasa

 

Dalam konteks ini, kerja sama Indonesia dan Republik Federasi Rusia yang semakin erat dewasa ini, kiranya dapat memberikan kontribusi yang cukup penting dalam membantu ketahanan pangan Indonesia. Rusia bisa membantu mengatasi masalah ketahanan pangan Indonesia sebagai pemasok utama di bidang pertanian atau pupuk yang mengandung nitrogen, yang mana pupuk seperti ini sangat berguna untuk pertunbuhan tanaman. Khususnya dalam proses pengolahan, pengembangan atau pemeliharaan padi dan kelapa sawit, dan biji gandum berkualitas tinggi dan kaya serat.

 

Indonesia, Russia discuss ratification of I-EAEU Free Trade Agreement

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Airlangga Hartarto (kiri) bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Pertama Federasi Rusia Denis Manturov (kanan) pada Sesi Komisi Gabungan (SKB) ke-14 antara Indonesia dan Rusia di Kazan, Rusia (13 Mei 2026). (ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian/rst)

 

Dengan demikian, pemerintah Indonesia dengan mengandalkan impor jenis itu akan mampu mencegah terjadinya inflasi pangan akibat kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok dan makanan secara umum yang berlangsung secara terus-menerus dalam jangka warktu tertentu. Seraya tetap menciptakan kesinambungan proses pengolahan pangan dan pengembangan industri di bidang agrikultur/pertanian.

Rusia sebagai mitra Indonesia dalam kerja sama di bidang pangan, dapat berkontribusi sebagai pemasok Compound Fertilizer atau pupuk majemuk, sejenis pupuk atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pupuk majemuk, adalah jenis pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara makro utama esensial (seperti Nitrogen, Fosfor, dan Kalium/NPK) dalam setiap butirannya. Pupuk majemuk ini sangat vital untuk mempertahankan produktivitas dan menjamin hasil panen tinggi dan melimpah-ruahnya produksi tanaman per satuan luas lahan.

 

Baca juga:

Putin-Prabowo Talks To Fast Track The Russia-Indonesia Free Trade Agreement

 

Selain itu, pupuk majemuk atau dalam istilah lain disebut high crop yield Istilah ini biasanya merujuk pada tanaman atau varietas unggul yang dikembangkan secara khusus agar lebih produktif, tahan penyakit, dan menghasilkan lebih banyak bahan pangan.

Lebih daripada itu, Aspek penting dari high crop yield meliputi:

  • Efisiensi Lahan: Menghasilkan lebih banyak makanan di area tanam yang sama, sehingga mengurangi kebutuhan untuk membuka lahan baru.
  • Faktor Penentu: Keberhasilan ini dicapai melalui kombinasi penggunaan benih unggul, pengelolaan air yang baik, pemupukan optimal, dan pengendalian hama.
  • Dampak Ekonomi: Keuntungan finansial petani meningkat karena volume penjualan yang lebih besar.

 

Untuk ekspor biji gandung berkualitas tinggi dan kaya serat (premium wheat), Rusia memberikan harga yang cukup kompetitif, sehingga mampu menawarkan alternatif terhadap para pemasok tradisional dari negara-negara Barat. Biji gandung jenis ini juga sangat berguna sebagai teknik menggoreng mi kering, roti, dan makanan olahan.

Menelisik kembali kerja sama bilateral Indonesia dan Rusia, kedua negara telah membangun fondasi yang cukup solid sejak Desember 2025 lalu, ketika kedua negara akan memasuki fase baru konektivitas   ekonomi, diversifikasi perdagangan, dan kerja sama industri strategis . Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin bersepakat untuk menjalin kerja sama di bidang industri militer, kolaborasi energi nuklir, dan perluasan ekspor pertanian bersama. Hal ini menandakan semakin dalamnya kemitraan strategis antara Rusia dan Indonesia di sektor-sektor kunci seperti keamanan, energi, dan pertanian.

Di saat pasar global bergeser, rantai pasokan dikonfigurasi ulang, dan negara-negara berkembang menegaskan peran yang lebih otonom, poros Moskow-Jakarta secara diam-diam namun pasti semakin menguat. Bagi Rusia, Indonesia mewakili ekonomi terbesar ASEAN dan pasar konsumen terbesar keempat di dunia – dan mitra penuh BRICS lainnya di Global Selatan.

Di mata Indonesia,  Rusia merupakan mitra yang dapat diandalkan dalam menyediakan keamanan energi tradisional, teknologi energi nuklir, kemampuan industri maju, dan pasokan pertanian bernilai tinggi, sekaligus menawarkan dukungan nyata bagi otonomi strategis Jakarta. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan jangka panjang Indonesia, Visi Indonesia Emas 2045.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute

 

 

 

 

 

 

 

 

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousAktivitas Bio-Militer AS di Indo-Pasifik Harus DiwaspadaiNextPilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents