About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Kolonialisme Gaya Baru Hancurkan Kedaulatan RakyatHancurkan Kedaulatan Rakyat

Rusman

Rusman·12 January 2025·3 min read

Share
Kolonialisme Gaya Baru Hancurkan Kedaulatan Rakyat

Jika Ekonomi Pancasila rumusan the Founding Fathers (Pasal 33 UUD 1945) dilemahkan oleh asing (via amandemen) dengan cara ditambahkannya Ayat (4) pada Pasal 33 (silakan baca/googling: Sistem Kolonialisme Gaya Baru dan Kontra Skemanya). Inilah buah peperangan nirmiliter (asymmetric warfare) yang digelar oleh Barat di Indonesia. Perang tanpa asap mesiu. Itu sesi penghancuran aspek ekonomi nasional oleh asing silam (1999-2002) yang dampaknya terasa hingga kini. Negeri kaya namun tak sedikit rakyatnya miskin.

Sedangkan sesi penghancuran Kedaulatan Rakyat oleh asing dilakukan melalui dua (metode) pintu, antara lain:

Pertama: Diturunkan status MPR dari Lembaga Tertinggi Negara menjadi Lembaga Tinggi Negara sehingga MPR kini selevel BPK, MK, MA, DPD, Presiden, DPR dan lain-lain;

Kedua: Ditambahkan Pasal 6A Ayat (2) pada UUD NRI 1945 Produk Amandemen yang bunyinya:

“Calon Presiden dan Wakil Presiden ditunjuk oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum.”

Tak pelak, kedua modus/metode di atas cukup efektif dalam menghancurkan Kedaulatan Rakyat. Halus, nyaris tak teraba. Selain MPR kini tidak lagi memiliki kewenangan menerbitkan Ketetapan/TAP MPR yang bersifat regeling (mengatur) melainkan hanya beschikking, juga selaku penjelmaan (kedaulatan) rakyat sekarang tidak lagi memiliki kewenangan dalam hal: 1. menetapkan UUD; 2. menetapkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN); 3. memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden; 4. mengambil keputusan (pemberhentian) terhadap Presiden dan Wakil Presiden.

Padahal, ke-4 wewenang tersebut sebelum UUD diamandemen — melekat pada MPR sebagai implementasi dari Kedaulatan Rakyat.

Adakah dampak lainnya?

Ada! Beberapa outcome akibat penghancuran Kedaulatan Rakyat, misalnya:

1. MPR sekarang tidak lagi mencerminkan penjelmaan rakyat akibat dihapusnya Utusan Golongan dan Utusan Daerah;

2. Terjadi perampasan Kedaulatan Rakyat oleh partai politik (parpol), misalnya, bahwa dari 280-an juta penduduk hanya muncul satu, dua atau tiga Calon Presiden yang ditunjuk oleh parpol dan/atau gabungan parpol. Maka, apakah pencabutan Presidential Threshold 20% menjadi 0% oleh MK merupakan bentuk pulihnya kembali Kedaulatan Rakyat? Wait and see.

3. UU MD3 sebagai aturan turunan Pasal 6A Ayat (2) UUD Produk Amandemen, berimplikasi kuat atas dominannya Ketua Parpol terutama dalam merekrut dan mem-PAW legeslator. Contoh kasus Harun Masiku yang molor hingga kini, atau ditegurnya para legeslator yang kritis terhadap kebijakan rezim, dan lainnya;

4. Menurut Dr. Ichsanuddin Noorsy (2004), ahli politik ekonomi, Pasal 6A Ayat (2) memunculkan apa yang disebut dengan istilah “politisasi di semua lini”. Politisasi itu sendiri memiliki dua kaki. Kaki kanan, berupa komersialisasi bagi koalisi. Kaki kiri berujud kriminalisasi untuk oposisi;

5. Sebagaimana dikatakan oleh Dr Mulyadi, senior dosen politik di UI, Jakarta, bahwa outcome dari dinamika politik yang berbasis UUD 2002 —istilah lain untuk UUD Produk Amandemen— membidani apa yang disebut “Oligarki Kembar Tiga” yang terdiri atas Badut Politik (Oligarki Politik), Bandit Politik (Oligarki Sosial) dan Bandar Politik (Oligarki Ekonomi).

Mengapa demikian?

Bahwa sumber kegaduhan dan sumber daya (ekonomi) hanya berkelindan di antara Oligarki Kembar Tiga di atas.

Demikian sekilas gambaran hancurnya Kedaulatan Rakyat yang diakibatkan oleh amandemen UUD 1945 pada medio 1999, 2000, 2001 dan 2002 silam. Tanpa letusan peluru, Kedaulatan Rakyat dinihilkan melalui sistem bernegara/politik. Entah sampai kapan.

Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKemana “Isu OCCRP” Akan Berlabuh di Indonesia?NextKolaborasi Kemanusiaan Indonesia-Ukraina Jangan Sampai Menjadi “Sarana Terselubung Propaganda Anti-Rusia

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents