About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Membaca Metafisika GeopolitikMetafisika Geopolitik Di Bumi Pertiwi

Rusman

Rusman·9 September 2024·3 min read

Share
Membaca Metafisika Geopolitik Di Bumi Pertiwi
Di tengah pesimisme sebagian anak bangsa atas karut-marut situasi dan kondisi negara akibat paham individualis, liberal, dan kapitalisme yang diakomodir dalam konstitusi (UUD NRI 1945 Produk Amandemen), saya tetap yakin dan optimis bahwa kelak bangsa ini akan meraih kembali kejayaannya ditandai dengan pencanangan Indonesia Emas 2045 dalam RPJPN 2025-2045. Kenapa demikian? Ada faktor-faktor yang membuat saya sangat yakin dan tetap optimis, antara lain sebagai berikut: Pertama: Faktor Alam/Adat Tak dapat dipungkiri, bahwa adat istiadat itu ada karena kenyataan alam. Contoh, di desa ada ruwat desa seperti doa, wayangan, ritual tertentu dan lainnya. Secara ontologi, alam akan mencari keseimbangan. Niscaya ada normalisasi hubungan. Ini bukan klenik, atau perdukunan, tetapi sisi metafisika. Hal yang hidup, tumbuh dan berkembang di masyarakat. Inilah yang kerap diabaikan pada era kini atas nama modernisasi. Tentang musim misalnya, lazimnya kemarau itu tanggal 23 Maret hingga 22 September, dan musim hujan berlangsung 23 September sampai 22 Maret. Namun, sekarang tak mampu diprediksi, bahkan sulit dideteksi. Gilirannya petani kebingungan akibat musim yang tak jelas. Mau tandur padi khawatir muncul kemarau, ingin menanam sayur-mayur takut datang banjir. Jangankan petani, petugas BMKG pun kerap bingung soal prakiraan cuaca. Begitu pula air, atau arus angin. Ada ancaman banjir yang berasal dari naiknya air laut, dan lain-lain. Hal tetsebut merupakan bukti bahwa alam pun bisa “berbuat” bila ia tersinggung. Adapun poin yang bisa ditarik adalah, janganlah sekali-kali mengabaikan alam dan adat dalam setiap kebijakan, apalagi kebijakan yang strategis. Kedua: Faktor Orang Tua/Ahli Doa Dulu, di Arab pernah terjadi kemarau sangat panjang. Seluruh ahli doa sedunia berkumpul guna meminta hujan, namun gagal. Hujan tidak kunjung turun. Lantas dicari apa masalahnya? Ternyata kurang satu, yakni ahli doa asal Indonesia. Lalu, didatangkanlah ahli doa dari Indonesia. Ketika ‘orang tua’ Indonesia berdoa, ahli-ahli dunia lain hanya mengamini. Luar biasa, seketika hujan pun deras membasahi Bumi Arab. Nah, betapa hebatnya ahli doa/orang-orang tua Indonesia. Bahkan kemarin, tatkala acara 17-an di IKN pun membutuhkan pawang hujan. Konon dibayar mahal. Maka jangan sampai tidak memperhatikan ahli doa/orang tua pada setiap kebijakan publik. Indonesia itu gudangnya ahli doa. Ketiga: Orang Mati Sahid/Para Syuhada itu “Tidak Mati” Sekali lagi, ini juga bukan klenik, sihir, dongeng, ataupun mitos. Referensinya jelas bahwa orang mati sahid/para syuhada itu masih hidup. “Mereka hidup di sekeliling kita”. Rujukannya sahih yakni QS Al Baqarah 154, Ali Imran 156 dan 189 (silakan googling). Mungkin, tentara Israel sudah mengenal serta memahami kiprah ‘tentara putih’ pada beberapa wilayah konflik di Gaza. Atau, pasukan NATO pimpinan Amerika juga telah mengenalnya sewaktu invasi militer di Irak dan Afghanistan (2001 – 2021) yang berujung ‘balik kucing’. NATO mundur dari medan pertempuran. Keempat: Murka Tuhan Ketika kezaliman, ketimpangan, dan ketidakadilan telah merajalela. Rakyat teraniaya. Tatkala doa-doa para sufi melangit di awang-awang, niscaya azabNya bakal turun. Tak boleh disangkal, dunia mengakui the Ten Commandments. Sepuluh perintah Tuhan yang diterima Nabi Musa guna menenggelamkan Fir’aun. Atau secara histori religi, kita membaca kisah umat Luth yang diazab Tuhan karena terang – terangan melegalkan homoseks; atau, cerita banjir bandang di era Nabi Nuh akibat umatnya melampaui batas dan seterusnya. Sekali lagi, saya sangat optimis terhadap hal-hal metafisika terkait 4 (empat) faktor di atas. Itulah beberapa contoh metafisika geopolitik di Bumi Pertiwi. Masih banyak hal lainnya, bahkan sangat dahsyat. Makanya, hay Amerika! Jangan bersiul-siul dahulu melalui hard power dan soft power-mu. Juga, kau Cina! Jangan berdendang dulu dengan “Kuda Troya”-mu. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousOPCW Harus Netral Dalam Menyikapi Tuduhan AS Terhadap Rusia Terkait Penggunaan Senjata KimiaNextSepintas Tentang Metafisika Geopolitik

More in Analysis

View all
Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
Analysis

Demo 27 AgustusDemo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan

27 August 2026 · 2 min read

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Most Read

  1. 01Demo 27 Agustus: Antara Isu Rakyat, Kepentingan Politik, dan Dugaan Penunggangan
  2. 02Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  3. 03Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  4. 04Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  5. 05Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents