About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Politics & Security

Membongkar ‘Tukang Bongkar’ MarxisMarxis

Rusman

Rusman·26 April 2025·3 min read

Share
Membongkar ‘Tukang Bongkar’ Marxis

Resensi oleh: Nezar Patria
(TEMPO, No. 05/XXIX/3 – 9 April 2000)

Judul buku: Gagasan-Gagasan Politik Gramsci
Pengarang: Roger Simon
Pengantar: Mansour Fakih
Penerbit: Insist Press & Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Oktober 1999

Pertanyaan dalam teori politik hanya satu: bagaimanakah realitas kekuasaan dipahami?

Celakanya, tak banyak teoritisi politik yang mampu menjawab pertanyaan ini. Setidaknya, realitas kekuasaan kebanyakan dilihat sebagai sebuah fenomena dan bukan sebagai sebuah substansi. Buku yang judul aslinya Gramsci’s Political Thought ini menawarkan sebuah perspektif baru dalam politik. Antonio Gramsci (1891-1937), tokoh marxis Italia, adalah seorang “tukang bongkar” teori yang cukup piawai. Inti gagasan politiknya adalah hegemoni. Susungguhnya Gramsci bukan seorang akademisi, walaupun ia pernah menjadi mahasiswa cerdas di universitas Turin. Hidupnya dihabiskan sebagai aktivis Partai Komunis Italia (PCI), sampai ajalnya tiba di penjara fasis Mussolini. Namun, refleksinya tentang kekuasaan, dan bagaimana cara kekuasaan politik bekerja, telah menjadi panduan teoritis baru, bahkan bagi ilmu marxisme.

Menurut Gramsci, konsensus adalah hal yang pokok dalam kekuasaan. Penguasa yang baik, menurut dia, adalah mereka yang memenangkan hegemoni yang mendapatkan persetujuan spontan dari kelas yang dikuasai tanpa harus menggunakan pendekatan kekerasan. Karena itu, dibutuhkan sebuah kepemimpinan politik dan ideologis jika sebuah kelas ingin berkuasa dengan hegemoni penuh.

Memang kepatuhan bisa didapat dengan jalan lain, yaitu jika penguasa menggunakan senjata (aparatus koersif). Tapi, bagi Gramsci, itu bukalah sebuah hegemoni, melankan dominasi.

Dalam khasanah marxisme, Gramsci memberikan kontribusi teoritis baru dengan konsep hegemoni itu. Walaupun ia seorang pendukung Lenin—pernah belajar di Rusia sebagai utusan Comintern—tak sepenuhnya ia mengadopsi pandangan arsitek revolusi Rusia itu. Lenin menganggap hegemoni merupakan strategi untuk revolusi yang harus dijalankan oleh kelas pekerja untuk memperoleh dukungan mayoritas. Gramsci menambahkan dimensi baru, dengan memperluas hegemoni menjadi sebuah konsep, tak semata strategi.

Gramsci mengakui, dalam Two Tactics of Social Democracy, Lenin memberikan sumbangan besar tentang teori dan praktek hegemoni. Bagi leninisme, negara dalah jantung atau simpul kekuasaan yang dilindungi alat kekerasan. Bagi Gramsci, negara tak semata dilindungi oleh aparatur kekerasan, tapi juga oleh alat-alat ideologi untuk mempertahankan dirinya. Celakanya, kekuasaan justru menyebar merata melalui jalur ideologis ke masyarakat sipil. Hegemoni, menurut Gramsci, melibatkan banyak aspek seperti kekuatan kelas dan hubungan produksi. Dengan kata lain, hegemoni adalah hubungan antara kelas dan kekuatan sosial lain. Kelas hegemonik adalah kelas sosial yang mendapatkan persetujuan dari kekuatan atau kelas sosial lain dengan cara aliansi melalui perjuangan politik dan ideologis. Karena itu, sebuah kelas sosial harus mentransendir kepentingan semua golongan jika hendak memenangkan hegemoni.

Bagaimana krisis seperti itu bisa terjadi? Dalam Selections from Prison Notebooks (1976), Gramsci menyebut penyebabnya adalah tindakan tak populer dari negara, atau bisa juga karena aktivitas politik massa yang sebelumnya pasif kembali marak. Krisis ini, dalam sejumlah kasus, dikenal juga sebagai “krisis otoritas” atau krisis hegemoni. “Yang tua sedang sekarat, sementara yang baru belum lagi selesai tumbuh,” tulis Gramsci.

Penulis buku ini, Roger Simon, membentangkan pemikiran Gramsci lewat cara yang cukup ensiklopedik. Gagasan-gagasan Gramsci seperti Hegemoni, Hubungan Kekuasaan, Revolusi Pasif, Perang Posisi dan Perang Siasat, serta Peran Intelektual diulas secara deskriptif. Sayangnya, gaya ensiklopedik seperti itu, kalau kurang cermat dapat membuat pembaca memahami Gramsci secara parsial.

Sayangnya lagi, buku ini tak merangkum perdebatan dan gagasan yang lebih filosofis sifatnya. Tampaknya, buku ini sengaja dibuat sebagai pengantar ke pemikiran Gramsci. Beberapa episode historis kehidupan Gramsci yang sarat dengan dinamika teori da praktek ketika ia menjadi aktivis sosialis, seperti yang pernah ditulis oleh John M. Cammet dalam Antonio Gramsci and the Origins of Italian Communisme (1967), agaknya lupt dari pandangan Roger Simon.

Kalaupun ada nilai tambah bagi buku ringkas ini, itu adalah epilog yang ditulis oleh Stuart Hall. Lewat artikelnya yang berjudul Gramsci dan Amerika, mahaguru Universitas Birmingham, Inggris, itu memberikan kontekstualisasi yang cukup menarik dari gagasan politik Gramsci. Setidaknya, ia mengingatkan kita akan kondisi politik Indonesia, di mana “yang tua sedang sekarat, sementara yang muda belum lagi lahir….”
Nezar Patria

Sumber: TEMPO, No. 05/XXIX/3 – 9 April 2000

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMembaca 8 (DELAPAN) Pernyataan Sikap Forum Purnawirawan Prajurit TNI Dan ImplikasinyaNextPengerahan Sistem Rudal Typhon AS di Asia Pasifik, Dapat Memicu Perang Dingin Gaya Baru

More in Politics & Security

View all
Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis
Analysis

Pilpres 2029Pilpres 2029: Perebutan Senyap Dua Mesin Suara Paling Strategis

9 June 2026 · 3 min read

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber Diplomacy
Analysis

Untuk Mencegah Masuk Perangkap Orbit AS atau Cina, Saatnya Indonesia Memprakarsai Non-Aligned Cyber DiplomacyNon-Aligned Cyber Diplomacy

1 May 2026 · 9 min read

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema Neokolonialisme AS di Indonesia
Analysis

Kebijakan Industrialisasi Hilir Indonesia: Kontra Skema Mengakhiri Skema NeokolonialismeSkema Neokolonialisme AS di Indonesia

29 April 2026 · 12 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents