About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Menjerat Elang, Menjebak NagaMenjebak Naga! (Bagian-1)

Rusman

Rusman·21 January 2025·3 min read

Share
Menjerat Elang, Menjebak Naga! (Bagian-1)

Kontra Skema Geopolitik dan Kesisteman atas Penjajahan Gaya Baru di Bumi Pertiwi

Bung Karno (BK) tidak menyamakan imperialisme dengan pemerintah kolonial. Imperialisme bukanlah pegawai pemerintah, bukan suatu pemerintahan, bukan kekuasaan, bukan pula pribadi atau organisasi apapun. Sebaliknya, imperialisme adalah HASRAT BERKUASA yang terwujud dalam sebuah sistem yang memerintah atau mengatur ekonomi dan negara dan orang lain. Lebih dari sekadar suatu institusi, imperialisme merupakan kumpulan dari kekuatan-kekuatan yang terlihat maupun tak terlihat.

Kapitalisme adalah suatu Sistem Ekonomi yang dikelola oleh sekelompok kecil pemilik modal yang tujuannya memaksimalkan keuntungan. Dan kaum kapitalis tak segan-segan untuk mengeksploitasi orang lain. Maka penjajahan adalah metode baku kapitalis, kata Taqayuddin An Nabhani, yang berubah hanya cara dan sarananya.

Apa poin perbedaan keduanya?

Sesungguhnya, kapitalisme dan imperialisme itu hal (konsep) yang berbeda kendati keduanya kerap beririsan, terutama dalam konteks ekonomi dan politik, misalnya:

1. Kapitalisme adalah Sistem Ekonomi dimana produksi serta distribusi barang dan jasa dikuasai oleh individu atau perusahaan swasta dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan secara maksimal. Dalam kapitalisme, pasar bebas memainkan peran besar dalam menentukan harga, produksi, dan distribusi sumber daya. Kapitalisme lebih fokus pada hubungan ekonomi di dalam suatu negara, meski bisa melibatkan perdagangan internasional.

2. Sedangkan imperialisme ialah kebijakan atau tindakan negara yang berusaha menguasai dan mendominasi wilayah atau negara lain, baik secara langsung lewat penjajahan fisik (militer), atau secara tak langsung melalui pengaruh ekonomi, sosial, politik dan budaya alias secara nirmiter. Kerap kali, fokus imperialisme pada eksploitasi sumber daya alam dan tenaga kerja di wilayah yang dikuasainya.

Perbedaannya ialah, bahwa kapitalisme lebih berkaitan dengan Sistem Ekonomi di suatu negara atau global, sedangkan imperialisme lebih condong kepada (praktik) kebijakan ekspansi kekuasaan dan dominasi negara terhadap wilayah lain. Namun, pada konteks sejarah, kapitalisme sering dikaitkan dengan imperialisme karena negara-negara kapitalis mengembangkan imperialisme untuk mengakses pasar baru, sumber daya, dan tenaga kerja murah. Jadi, imperialis itu semacam “roh” dari kapitalisme melalui visi misi tersembunyi (hidden agenda): “Mengurai pasar seluas-luasnya, mencari bahan baku semurah-murahnya”.

Tampaknya, pemikiran BK tempo doeloe menginspirasi serta membidani teori imperialis dan kapitalis yang dipadukan dalam satu tarikan napas, misalnya:

Pertama: Teori “Era Transnasionalisme” oleh James N. Rosenau. Konsep ini mulai dikembangkan Rosenau akhir 1980 hingga 1990-an. Yaitu suatu proses dimana hubungan internasional yang dilaksanakan pemerintah telah disertai hubungan individu, kelompok dan masyarakat swasta yang dapat memiliki konsekuensi-konsekuensi penting bagi berlangsungnya berbagai peristiwa. Secara detail, transnasional dianggap sebagai suatu masa atau era dimana hubungan internasional tidak lagi didominasi oleh negara, karena terdapat pemain lain yakni aktor non-negara (non-state actors) yang turut memberi warna, bahkan (kemungkinan) lebih kuat “warna”-nya;

Kedua: “Imperium” ala John Perkins. Ia adalah seorang ekonom, penulis, dan aktivis Amerika Serikat. Perkins dikenal sebagai kritikus neoliberalisme dan imperialisme ekonomi. Karyanya yang menggelegar ialah “Confessions of an Economic Hit Man” (2016). Dalam konteks imperialis kapitalisme, Perkins menandai sebagai “Imperium” yaitu Sistem Kekuasaan yang dipimpin oleh penguasa atau raja yang memiliki kendali atas pemerintahan dan media. Mereka tidak dipilih oleh rakyat dan masa jabatannya tidak dibatasi hukum. Bergerak di wilayah antara bisnis dan pemerintahan, mendanai kampanye politik dan media. Mereka bisa menguasai siapapun yang terpilih serta mengendalikan informasi yang diterima oleh warga. Sudah barang tentu, ia bisa “menempel” pada tataran lokal, regional maupun global;

Ketiga: “Era Anarki Korporasi” oleh Gonzalo Lira. Gonzila adalah jurnalis dan analis politik. Ia menemukan rumusan “Era Anarki Korporasi” sekira tahun 2010-2015. Namun, pemikirannya populer sekitar 2020-2022-an. Poin teori Anarki Korporasi ialah, bahwa korporasi sama sekali tak perlu mematuhi aturan apapun. Aturan yang menghalangi akan diupayakan dengan segala cara (termasuk suap) supaya direvisi oleh parlemen dan pemerintah. Aturan legal, moral, etika, bahkan keuangan yang sama sekali tidak relevan bagi korporasi, bisa dibatalkan demi profit. Satu-satunya yang perlu dipertimbangkan adalah profit. Semakin besar korporasi kian besar pula kebebasan yang dimilikinya untuk berbuat semaunya. Akibatnya, banyak korporasi kelas kecil dan menengah terlindas karena tidak sanggup bersaing dengan korporasi raksasa.

Lantas, apa simpulan dari penyatuan konsepsi imperialis kapitalisme ala BK dengan tiga konsep pikiran dari Rosenau, Perkins dan Gonzalo di atas?

(Bersambung ke Bag-2)

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousPertemuan ASEAN-GCC-Cina di Malaysia (2025) Momentum Mengutuk Aksi Genosida Israel di GazaNextMembaca Kebakaran di Los Angeles dari Perspektif Musibah

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents