About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Menyikapi Perang AS-IsraelPerang AS-Israel versus Iran, Inggris Tetap Sekutu Strategis Washington

Hendrajit

Hendrajit·23 March 2026·4 min read

Share
Menyikapi Perang AS-Israel versus Iran, Inggris Tetap Sekutu Strategis Washington

Meskipun Inggris tidak ikut terlibat dalam serangan militer AS-Israel ke Iran, namun kenyataannya London dan Washington tetap punya pandangan strategis yang sama dalam menyikapi Iran. Pada Sabtu 28 Februari 2026 lalu, serentak dengan dilancarkannya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan bahwa pasukan dan pesawat Inggris berpartisipasi dalam upaya pertahanan terkoordinasi untuk melindungi kepentingan negara dan sekutunya meskipun tidak ikut serta dalam serangan AS dan Israel terhadap Iran.

Baca:

UK says Iran should never be allowed to develop nuclear weapons

Bahkan dalam menyikapi isu kepemilikan persenjataan nuklir yang menjadi akar penyebab meletusnya Perang Terbuka AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 lalu, Inggris juga menegaskan bahwa Iran tidak boleh diizinkan untuk mengembangkan senjata nuklir dan pihaknya siap membela kepentingannya, menyusul serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Dari pernyataan Perdana Menteri Inggris tersebut, tampak jelas bahwa terlepas adanya ketegangan diplomatik baru-baru ini antara London dan Washington akhir-akhir ini terkait soal isu Palestina, Krisis Ukraina, dan pertentangan pandangan antara AS dengan beberapa negara yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Inggris dan AS sejatinya masih satu skema dalam kebijakan luar negeri maupun pertahanan.

Ketika Inggris secara tegas melarang Iran mengembangkan senjata nuklirnya, dan Inggris menyatakan siap membela kepentingan nasionalnya, maka praktis Washington dan London tetap berkomitmen sebagai sekutu strategis menghadapi Iran maupun negara-negara yang dipandang sebagai musuh oleh AS maupun Inggris.

Mengutip pernyataan Juru Bicara pemerintah Inggris: “Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang kami terhadap keamanan sekutu kami di Timur Tengah, kami memiliki berbagai kemampuan pertahanan di kawasan ini, yang baru-baru ini telah kami perkuat. Kami siap melindungi kepentingan kami,” kata juru bicara tersebut.

Frase kata “Komitmen Jangka Panjang Kami terhadap keamanan sekutu kami di Timur Tengah” dan Kami Siap melindungi kepentingan kami,” tampak jelas bahwa yang dimaksud “kami” adalah AS dan Inggris.

Dalam pidatonya di depan anggota majelis rendah parlemen Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer meskipun didahului dengan memberi kesan bahwa dirinya tidak sependapat dengan Presiden AS Donald Trump, namun dalam tujuan strategisnya tetap sehaluan dengan Washington. Tetap menyalahkan Iran sebagai penyebab utama kegagalan perundingan nuklir Washington-Teheran. Mari simak pernyataan Starmer:

“Presiden Trump telah menyatakan ketidaksetujuannya dengan keputusan kami untuk tidak terlibat dalam serangan awal, tetapi adalah tugas saya untuk menilai apa yang sesuai dengan kepentingan nasional Inggris. Itulah yang telah saya lakukan, dan saya tetap teguh pada keputusan itu, tetapi jelas bahwa respons Iran yang keterlaluan telah menjadi ancaman bagi rakyat kami, kepentingan kami, dan sekutu kami, dan hal itu tidak dapat diabaikan. Iran telah melancarkan serangan di seluruh wilayah.”

Baca juga:

Middle East, Volume 781: debated on Monday 2 March 2026

Dalam menanggapi serangan Iran terhadap beberapa pangkalan militer dan infrastruktur energi beberapa negara Teluk, Inggris secara eksplisit menyalahkan Iran alih-alih melihat dari sudut pandang Iran yang memandang Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak, sebagai sekutu politik-militer-ekonomi AS di kawasan Timur Tengah. Seperti disampaikan Keir Starmer: “Mereka telah meluncurkan ratusan rudal dan ribuan drone ke negara-negara yang tidak menyerang mereka, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Irak, Bahrain, dan Oman.”

"Iran can never be allowed to develop a nuclear weapon": UK PM Starmer backs American strikes on Iran

Diambil dari dokumentasi foto: https://economictimes.indiatimes.com/

Bahkan Starmer menuding Hizbullah, sekutu strategi Iran berbasis di Lebanon Selatan, melancarkan serangan terhadap Israel untuk meningkatkan eskalasi perang. Secara insinuatif Perdana Menteri Inggris dari partai buruh tersebut bermaksud membentuk opini bahwa Iran dan Hizbullah yang memprovokasi perang alih-alih AS dan Israel.

Melalui pidato di depan parlemen Inggris tersebut, Perdana Menteri Keir Starmer melaporkan bahwa meskipun Inggris tidak ikut terlibat dalam serangan militer AS-Israel terhadap Iran, namun Inggris mengizinkan pangkalan-pangkalan militernya untuk digunakan sebagai basis serangan AS ke Iran. Pemerintah Inggris menyetujui penggunaan pangkalan militernya oleh AS untuk melancarkan serangan defensif terhadap lokasi rudal Iran yang disebut mengancam kapal-kapal di Selat Hormuz.

Inggris juga mengizinkan AS menggunakan semua pangkalan militernya di kawasan Timur Tengah untuk melancarkan serangan ke Iran. Inggris juga memberi akses kepada Washington untuk emberi akses ke pangkalan-pangkalan Inggris guna dipakai dalam operasi di Selat Hormuz. Inggris juga setuju mengizinkan AS menggunakan pangkalan militernya di Siprus. Secara lokasi geografis, Siprus cukup strategis untuk melemahkan posisi Iran. Siprus merupakan sebuah negara pulau yang terletak di Laut Mediterania bagian timur, secara geografis masuk dalam kawasan Asia Barat (Timur Tengah/Levant), namun memiliki hubungan budaya dan politik yang kuat dengan Eropa. Pulau ini berada di selatan Turki (±113 km), barat Suriah (±120 km), dan tenggara Yunani.

Melalui fakta berita tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa Inggris sama sekali tidak pasif atau menghindari konflik militer terbuka AS-Israel versus Iran, melainkan tetap merupakan sekutu strategis AS yang memberikan dukungan aktif dan strategis dalam perang terbuka AS-Israel versus Iran.

Persetujuan tegas Inggris kepada AS untuk menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris di Timur Tengah dalam kerangka Pertahanan Kolektif di Kawasan Timur Tengah, menggambarkan AS-Inggris masih merupakan sekutu strategis.

Meskpun terdapat keretakan antara AS dan Eropa Barat yang dipicu oleh gaya kepemimpian Donald Trump terkait krisis Ukraina, Greenland, dan kenaikan tarif bea impor, namun dalam kasus perang AS-Israel versus Iran, AS dan Inggris tetap sekutu strategis.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousBerakhirnya Superior dan Dominasi AmerikaNextTol Hormuz: Mengubah Perang Menjadi Mesin Uang

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents