About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Tol HormuzTol Hormuz: Mengubah Perang Menjadi Mesin Uang

Rusman

Rusman·22 March 2026·5 min read

Share
Tol Hormuz: Mengubah Perang Menjadi Mesin Uang

Kajian Strategi Atrisi-Asimetri ala IRGC-Iran dalam Perang Teluk Persia 2026

Di medan perang terkini, tampaknya kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat. Kerap, ia ditentukan siapa mampu mengatur biaya: memindah, melipatgandakan, dan gilirannya — memaksa lawan untuk menanggung biayanya. Itulah ciri dan kharakter peperangan atrisi-asimetri. Panggung strategi/perang terbaru di dunia militer-geopolitik.

Dalam berbagai studi manajemen dan strategi, secara kombinasi, konsep atrisi-asimetri sebenarnya merujuk pada paduan dua pendekatan atau metode. Pendekatan pertama: Atrisi (attrition warfare) bertujuan menguras sumber daya lawan dalam jangka (tempo) lama. Metode kedua: Asimetri (asymmetric warfare) memakai taktik non-konvensional oleh pihak yang lebih lemah.

Secara konseptual, taktik-metode ini berakar pada ajaran klasik Carl von Clausewitz (perang sebagai kelanjutan politik) dan Sun Tzu (menang tanpa pertempuran langsung). Tujuan utamanya bukan kemenangan cepat, melainkan meningkatkan biaya perang lawan secara eksponensial, menciptakan fatigue (kelelahan terus menerus) baik politik, ekonomi atau moral prajurit, kemudian memaksa musuh menghadapi pilihan dilematis: mahalnya biaya peranh, atau kemenangan. Dalam beberapa kasus, hasil akhirnya adalah pyrrhic victory, begitu terminologinya: kemenangan yang justru menghancurkan pihak pemenang itu sendiri. Bahasa vulgarnya: menang tapi bangkrut. Ayo!

Nah, apa yang dilakukan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) di Selat Hormuz adalah contoh paling aktual atas logika dimaksud. Ini bukan sekadar konflik militer, ia mirip “rekayasa ekonomi” namun berwajah politik-perang.

Dari Ancaman Menjadi Peluang

Selama puluhan tahun, Selat Hormuz dikenal sebagai titik rawan —“leher botol”— energi dunia. Sekitar seperlima minyak global melewati jalur sempit ini setiap hari. Ancaman penutupan selalu menjadi kartu truft bagi Iran, tetapi selama ini pula hanya sebatas omon-omon alias retorika.

Agaknya, dalam perang Iran versus Amerika Serikat (AS)-Israel yang terjadi kini, ada fenomena cerdas, lebih daripada langkah sebelumnya: “Selat Hormuz ditutup oleh Iran, namun tidak benar-benar ditutup. Ia dikelola.” Tentu beda atmosfer. IRGC tidak menginginkan kehancuran total, tapi menciptakan ketidakpastian yang terukur lagi dikendalikan. Cukup untuk menimbulkan kepanikan, tetapi tidak cukup untuk menghentikan arus sepenuhnya. Di area abu-abu ini, lahirlah sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya: tol laut dalam peperangan.

Logika Perang Dibalik

Doktrin klasik mengajarkan, perang adalah menghancurkan kemampuan musuh. Doktrin tuanya: membunuh atau dibunuh. Tetapi dalam praktik IRGC, khususnya dalam atrisi-asimetri, doktrin itu digeser sedikit — malah menghasilkan pendapatan tak terduga. Sebuah tanker, misalnya, ia tak lagi hanya menghadapi risiko serangan. Namun, menghadapi pilihan ekonomi: membayar sekitar USD 2 juta lalu melintas dengan aman; atau menanggung risiko yang jauh lebih mahal – menunggu antrean, menghadapi dampak serangan, keterlambatan, kehilangan muatan dan lain-lain. Sesungguhnya pilihan itu bukan kebetulan, namun opsional yang dirancang.

Di sinilah logika perang (dan strategi) atrisi-asimetri bekerja senyap. Bukan menghancurkan lawan secara frontal, tetapi membuat setiap keputusan pihak lawan menjadi mahal. Bahkan, sangat mahal. Blokade bukan pemerasan, tapi strategi perang.

Asimetri: Tak Sekadar Militer, Geografi Menjadi Instrumen

Selama ini, asimetri sering dipahami secara sempit: drone murah melawan rudal mahal. Itu memang riil terjadi. Tetapi yang lebih penting justru apa yang terjadi di luar medan pertempuran. Biaya perang tidak lagi berhenti pada sistem senjata. Ia menjalar ke premi asuransi, tarif sewa kapal, harga energi global, hingga biaya hidup warga sipil di berbagai negara. Dengan kata lain, IRGC tidak hanya “melawan” musuh militernya. Mereka memindahkan beban konflik ke seluruh sistem ekonomi global. Dan publik global —secara tidak langsung— ikut membiayainya.

Bahwa apa yang terjadi di Hormuz menunjukkan sesuatu yang lebih tajam. Geografi bukan lagi sekadar latar alam, tetapi instrumen pertempuran. Konsep ini dikenal sebagai weaponization of geography. Operasional konkretnya ialah perubahan fungsi dari jalur hadang anti-hadang menjadi pos tarif. Inilah monetisasi jalur/tol.

Dalam strategi atrisi-asimetri yang dikembangkan IRGC, tak ada lagi invasi secara besar-besaran, atau blokade total. Tapi kontrol atas akses dan harga atas akses tersebut. Dalam dunia yang bergantung pada rantai pasok global, kekuatan kontrol seperti ini hampir setara bahkan melampaui kekuatan militer itu sendiri.

Dilema dan Perang yang Membiayai Dirinya Sendiri

Bagi AS dan sekutu, situasi ini menciptakan paradoks. Apabila praktik ini dibiarkan: Iran cq IRGC memperoleh sumber pendanaan berkelanjutan; tapi jika ditekan dengan sanksi (operator kapal terhambat, arus energi terganggu), dan harga energi bakal menjerit.

Apa hendak dikata. Tak ada “pilihan murah”. Kanan-kiri dibandrol. Di sinilah inti dari strategi atrisi-asimetri menapak kecanggihannya, karena memaksa pihak lawannya masuk dalam lingkaran di mana semua langkah: rugi dan merugi.

Yang paling unik dan menarik adalah siklus atas penciptaan ketidakpastian situasi yang akan berujung kerugian. Lingkaran putarnya begini: ketidakpastian memproduksi kebutuhan — kebutuhan menghasilkan pembayaran — pembayaran mendanai kontrol dan kendali – dan kendali digunakan untuk mempertahankan ketidakpastian itu sendiri. Cerdas. Dalam model strategi semacam ini, perang tidak lagi menghabiskan sumber daya, melainkan justru menjadi mesin yang memproduksi sumber daya.

Penutup: Wajah Keren Konflik Global

Apa yang terjadi di Selat Hormuz mungkin akan dikenang sebagai salah satu titik balik paling keren dalam memahami konflik. Bukan lagi, mana pihak yang canggih mesin-perangnya, atau pihak siapa yang unggul jumlah dan profesional prajuritnya. Tetapi, perang hari ini dan mungkin ke depan adalah tentang siapa yang mampu mengatur sistem, mengaduk-aduk opini publik sehingga seolah pola, kemudian mengendalikan harga, dan hal lain non-konvensional.

Apabila tren ini tidak berhenti di Iran, maka masa depan konflik global tidak lagi didominasi oleh mesin perang modern dan canggih, tetapi oleh sesuatu yang jauh lebih senyap: kendali atas titik sempit (choke points) dunia, serta kemampuan untuk mengenakan harga atas leveragenya.

Bagi Indonesia, pertanyaannya sederhana tapi keras memukul, “Apa kabar Sealane of Communications (SLoC), dan bagaimana kelanjutan nasib Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makassar yang sekian dekade diterlantarkan oleh rezim?”

M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousMenyikapi Perang AS-Israel versus Iran, Inggris Tetap Sekutu Strategis WashingtonNextDari “Potong Kepala” Ke Perang Tak Berujung

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents