About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Pakta Militer JAPHUS dan AUPHUS: Bisa Meningkatkan Eskalasi Ketegangan dan Perlombaan Senjata di Asia TenggaraAsia Tenggara

Hendrajit

Hendrajit·17 April 2024·5 min read

Share
Pakta Militer JAPHUS dan AUPHUS: Bisa Meningkatkan Eskalasi Ketegangan dan Perlombaan Senjata di Asia Tenggara

Eskalasi konflik militer di Asia Tenggara sepertinya akan semakin meningkat seturut rencana perluasan lingkup persekutuan militer antara Amerika Serikat, Jepang dan Filipina (JAPHUS) untuk membendung pengaruh kekuatan militer Cina di Laut Cina Selatan. Tentu saja Pakta Pertahanan AS-Filipina-Jepang tersebut merupakan penjabaran lebih spesifik dari Pakta Pertahanan Empat Negara (QUAD) antara AS, Australia, Jepang dan India di kawasan Asia-Pasifik menurut Strategi Indo-Pasifik (US Indo-Pacific Strategy).

Pakta Pertahanan AS-Jepang-Filipina (JAPHUS) yang dirancang oleh Washington pada awal April lalu, nampaknya pemerintah AS juga akan segera mengembangkan lebih lanjut Sebuah Pakta Militer bersama sebagai pengembangan lebih lanjut dari Pakta Militer Bersama antara AS-Inggris dan Australia (AUKUS) yang diluncurkan pada 2023 lalu. Seperti juga skema JAPHUS, AS nampaknya akan segera mengembangkan pakta serupa di Asia Tenggara antara AS-Australia dan Filipina (AUPHUS).

Sebagaimana dilansir oleh situs berita Asia Times, AS nampaknya memang semakin provokatif memancing ketegangan militer di kawasan Asia Pasifik. Dengan mengerahkan rudal jarak jauh dan menengah di kawasan Asia Pasifik.

Dalih yang digunakan AS untuk mengerahkan rudal jarak jauh dan menengah (long and intermediate range missiles) adalah untuk membendung kemungkinan invasi militer Cina ke Taiwan. Padahal dengan manuver militer AS yang bersifat agresif baik melalui Pakta Pertahanan Bersama JAPHUS maupun AUPHUS) di Asia Tenggara, dan juga dengan pengerahan besar-besaran rudal jarak jauh dan menengah di Asia Pasifik, AS dan sekutu-sekutunya malah memancing meningkatnya perlombaan persenjataan di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara pada umumnya.

Baca:

Pacific shift: US to build a ‘missile wall’ against China

Lebih krusial lagi, ketika Cina pada perkembangannya terpancing untuk juga semakin meningkatkan pengerahan persenjataan strategis dan pasukan militernya di Laut Cina Selatan.

Isyarat tersebut sama sekali tidak mengada-ada mengingat fakta bahwa yang menyatakan rencana pengerahan rudal jarak menengah maupun Tomahawk dan SM-6s pada 2024 ini, adalah Panglima Angkatan Darat AS di Pasifik (Commander of the US Army Forces Pasific), Jenderal Charles Flyn. Pernyataan Jenderal Flyn tersebut disampaikan Halifax International Security Forum di Nova Scotia, Kanada.

Night view of East Asia. Photo: worldmap1.comSekarang jelas lah sudah motif di balik keputusan pemerintah AS untuk membatalkan secara sepihak perjanjian pembatasan senjata nuklir jarak menengah (Intermediate Range Nuclear Forces-INF) antara AS-Rusia pada 2019 lalu. Sehingga AS merasa tidak perlu terikat lagi dengan perjanjian INF untuk mengerahkan rudal jarak jauh-nya (Army;s Precision Strike Missile-PrSM), yang mampu menembak sasaran yang berjarak lebih dari 500 kilomater, di Asia Pasifik.

Lagi-lagi, Panglima Angkatan Darat AS Jenderal Flyn menggunakan dalih adanya ancaman yang membahayakan stabilitas di kawasan Pasifik dari angkatan bersenjata Cina. Meskipun berbagai kalangan masih memandang ancaman invasi Cina ke Taiwan masih bersifat spekulatif, Jenderal Flyn dengan sangat yakin menekankan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi Presiden Xi Jinping untuk membuat kebijakan militer yang agresif di Asia Pasifik.

Tentu saja pernyataan Jenderal Flyn bukan saja spekulatif, namun juga bermaksud memprovokasi keadaan seolah-olah ancaman dari Cina terhadap Taiwan nyata adanya. Padahal kalau kita cermati secara lebih mendalam, apa yang disampaikan oleh Jenderal Flyn hanya mengaitkan kesiapsiagaan militer Cina seolah-olah dimaksudkan untuk sewaktu-waktu menyerbu Taiwan. Juga, Jenderal Flyn yang tentunya juga menyuarakan kebijakan strategis Pentagon, bermaksud memberi kesan bahwa meningkatnya efektivitas informasi dan semakin luasnya lingkup operasi militer Cina, dimaksudkan untuk memperlemah persekutuan AS dan negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Hal itu membuktikan adanya indikasi bahwa AS telah melancarkan geostrategi bersifat hard-power yang mengandalkan kekuatan militer di Asia Pasifik dengan dalih untuk menciptakan stabilitas di kawasan Asia Pasifik, dan adanya ancaman invasi militer Cina ke Taiwan.

Namun demikian, beberapa negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina dari Asia Tenggara, maupun Korea Selatan dan Jepang dari Asia Timur, dan juga Australia, sepertinya berkeberatan untuk ikut serta dalam Strategi “Missile Wall” AS. Apalagi pemerintah Thailand  saat ini sedang menjalin kerja sama yang erat dengan Cina, sehingga enggan untuk melakukan kebijakan luar negeri yang mengundang permusuhan dari Beijing. Begitu pula Filipina juga keberatan karena mengkhawatirkan blokade laut Cina sehingga memutus pasokan pasukan militer dari Guam, sehingga bisa memperlemah pertahanan laut dan udara Filipina.

Alhasil Jepang lah satu-satunya sekutu yang jadi andalan AS untuk memfasilitasi penempatan rudal jarak jauh dan menengah AS di Asia Pasifik.

Baca:

Terbesar Sejak 1951,Jepang-AS Tingkatkan Aliansi Militer di Indo-Pasifik

Dalam pertemuan antara Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dalam pernyataan bersama menegaskan bahwa aliansi AS-Jepang tidak dapat dipatahkan. Kedua kepala pemerintahan telah menyepakati beberapa poin penting dalam pertemuan mereka awal April lalu antara lain: Pentingnya dukungan bagi Ukraina, pengembangan bersama teknologi baru, dan rencana kerja kedua negara untuk mengirim astronot Jepang ke bulan.

Selain itu yang paling penting bagi Perdana Menteri Kishida, Jepang berhasil memperoleh komitmen baru dari AS untuk Keamanan dan Stabilitas Asia Timur Laut di tengah semakin meningkatnya kemampuan militer Cina, seraya menghadapi Korea Utara yang belakangan ini semakin meningkatkan program pengembangan rudal balistik jarak menengahnya.

Namun, terlepas dalih AS maupun Jepang untuk meningkatkan postur militernya yang lebih agresid dengan dalih untuk membendung Cina, AS dan sekutu-sekutu strategisnya di Asia Pasifik sedang berusaha memprovokasi Cina. Sebab Cina pun pada gilirannya akan semakin meningkatkan postur pertahanan militernya secara lebih agresif. Seperti misalnya program pengembangan  rudal-rudal jarak menengah  (IRBMS) seperti Dong Feng-26 (DF-26) yang mampu menembak ke sasaran dengan daya jangkau sekitar 400 kilomater. Sehingga mampu menembakkan sasaranya ke pangkalan militer AS di Guam maupun kapal-kapal tempurnya di laut. Belum lagi kemampuan Cina mengembangkan rudal-rudal balistik jarak menengah (MRBMs) seperti DF-21 D yang dikenal sebagai the carrier killer dengan daya jangkau tembak berjarak 1500 kilometer.

Meskipun Cina juga beralasan bahwa pengerahan persenjataan nuklir berupa rudal jarak menengah dan jarak jauh itu hanya untuk mempertahankan diri/self defense, namun tak urung hal itu juga akan menciptakan ketegangan militer dan peningkatan perlombaan persenjataan antar negara-negara adikuasa di kawasan Asia Pasifik. Sehingga pada perkembangannya akan merugikan negara-negara di kawasan Asia Pasifik, dan Asia Tenggara pada khususnya. Tak terkecuali Indonesia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousMembaca Ketegangan Yordania Versus IranNextPrabowo Harus Belajar Dari Iran Bermain Di Antara Dua Karang

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents