About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Pertemuan 2+2 RI-Australia 8-9 Januari 2023 Perlu Memperjelas Peran ADF MIDI Terkait Skema Kerjasama KesehatanSkema Kerjasama Kesehatan RI-Australia

Hendrajit

Hendrajit·6 February 2023·3 min read

Share
Pertemuan 2+2 RI-Australia 8-9 Januari 2023 Perlu Memperjelas Peran ADF MIDI Terkait Skema Kerjasama Kesehatan RI-Australia

Pada tanggal 8 dan 9 Januari 2023 mendatang, akan digelar pertemuan menteri luar negeri dan menteri pertahanan Indonesia dan Australia yang dikenal dengan sebutan Pertemuan 2+2. Apa yang bakal menjadi agenda utama pembahasan pertemuan para menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara tersebut?

Jika kita merujuk pada situs kementerian luar negeri dari pertemuan serupa pada September 2021 lalu, menteri pertahanan RI dan Australia telah menandatangani pembaruan kerjasama bilateral kedua negara yaitu Defence Cooperation Arrangement (DCA) yang merupakan dokumen penting sebagai payung kerjasama pertahanan komprehensif kedua negara di masa mendatang. Bahkan Menhan Prabowo Subianto menegaskan bahwa skema kerjasama DCA merupakan bentuk dari Kemitraan Strategis RI-Australia.

 

Baca:

Menhan RI: Indonesia dan Australia Sepakat Meningkatkan DCA Menjadi Kerjasama Pertahanan Komprehensif

 

Sayangnya, pertemuan 2+2 antara menteri pertahanan dan menteri luar negeri RI-Australia pada 8-9 Januari 2023 mendatang, dihantui oleh kekhawatiran oleh adanya skema kerjasama kesehatan RI-Australia yang ditandatangani kedua negara pada 15 November 2022. Yaitu penandatanganan kerja sama berupa Memorandum of Understanding (MOU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan World Health Organization (WHO) perihal Berdirinya dan Pengoperasian A Multy-Country Hub Health for Emergenccy Operational Readiness termasuk Emergency Medical Teams (EMT) Training Hub di Universitas Pertahanan RI.

Aspek rawan dari skema Kerjasama Kesehatan RI-Australia tersebut adalah adanya rencana untuk membangun pusat pelatihan peningkatan kapasitas kesiapan darurat, khususnya di bidang Bio-Security danBio-Defense.

 

Baca artikel saya sebelumnya:

Ada Indikasi Mengkhawatirkan di Balik Skema Kerjasama Kesehatan RI-Australia

 

Frase kata Bio-Security dan Bio-Defense ini sepertinya cukup mengkhawatirkan mengingat pengalaman traumatik Indonesia terkait pernah beroperasinya aktivitas laboratorium NAMRU-2 AS yang mana pada 2009 lalu terungkap bahwa sejatinya NAMRU-AS itu  merupakan laboratorium bertujuan ganda. Di permukaan merupakan laboratorium penelitian penyakit menular seperti Malaria dan TBC, namun pada kenyataannya  merupakan laboratorium biolologis-militer yang berada di bawah kendali Angkatan Laut Amerika Serikat.

Dalam Skema Kerjasama Kesehatan Ri-Australia yang ditandatangani pada 15 November 2022 lalu tersebut, masuk akal jika kita menaruh khawatir atas dasar fakta bahwa Australian Defense Force Malaria and Infectious Disease Institute (ADF MIDI) menjadi mitra kerjasama Kementerian Pertahanan RI. Sehingga berpotensi untuk digunakan tidak sekadar sebagai pusat penelitian dan pemberantasan penyakit menular seperti Malaria di Indonesia. Melainkan berpotensi meluas untuk digunakan sebagai sarana pengembangan proyek-proyek kemiliteran AS seperti halnya ketika NAMRU-2 AS yang resminya merupakan pusat penelitian pemberantasan penyakit Malaria dan TBC, ternyata selama 30 tahun lebih digunakan sebagai sarana operasi intelijen Angkatan Laut AS di Indonesia. Utamanya untuk mengirim virus H5N1 dari Indonesia ke luar negeri dengan berlindung pada kekebalan diplomatic/diplomatic impunity berdasarkan payung kerjasama kesehatan antara RI dan pihak Angkatan Laut AS, yang mana, seperti halnya ADF MIDI berdasarkan Kerjasama Kesehatan RI-Australia, Kerjasama antara Departemen Kesehatan RI dan AS pada 1970 tersebut, Naval Medical Research Unit Two atau yang kita kenal sebagai NAMRU-2 AS, merupakan mitra kerjasama dari Departemen Kesehatan RI dari pihak AS.

 

 

Kekhawatiran terkait keberadaan NAMRU-2 AS maupun ADF MIDI Australia kiranya cukup beralasan. Seperti penuturan mantan menteri kesehatan RI Ibu Siti Fadilah Supari saat menutup aktivitas laboratorium bertujuan ganda NAMRU-2 pada 2009 lalu, NAMRU-2 menjadi sarana terselubung mentransfer virus H5N1 ke luar negeri tanpa melewati Imigrasi negeri kita, yang mana virus tersebut digunakan sebagai bahan membuat obat-obat vaksin dari perusahaan-perusahaan farmasi, dan sebagai bahan untuk membuat senjata biologis di Los Alamos, Amerika Serikat.

Berkaitan dengan adanya indikasi yang mengkhawatirkan di balik Skema Kerjasama Kesehatan RI-Australia tersebut, maka Global Future Institute (GFI) mendesak komisi I DPR bidang pertahanan maupun Komisi DPR yang membidangi Kesehatan, untuk membahas masalah Skema Kerjasama Kesehatan RI-Australia yang mana di dalamnya terkandung kerjassama RI-Australia yang perlu penelitian secara lebih mendalam, khususnya peran yang dimainkan ADF MIDI sebagai mitra Indonesia dalam kerjasama kesehatan RI dari pihak Australia.

Selain DPR RI dari Komisi I bidang pertahanan dan komisi bidang kesehatan, berbagai elemen masyarakat baik Lemhanas maupun Perguruan Tinggi, dan juga Lembaga Swadaya Masyarakat, perlu mengangkat masalah krusial tersebut dalam bentuk seminar atau panel diskusi.

Masalah sensitif dan berpotensi membawa dampak buruk bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, apalagi jika membahayakan kedaulatan nasional Indonesia, kiranya terlalu penting jika hanya ditangani secara ekslusif dan terbatas oleh kementerian pertahanan maupun kementerian kesehatan.

Hendrajit, pengkaji geopolitik, Global Future Institute.  

 

 

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousThe New King Maker dan Alternatif Skenario 2024Next“Intervensi Kemanusiaan”, Doktrin “Daerah Utama”, dan Strategi Global AS (Bagian 2)

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikGeopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents