About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Analysis

Prakiraan GejolakPrakiraan Gejolak 2025 di Indonesia (2/Habis)

Rusman

Rusman·11 November 2024·3 min read

Share
Prakiraan Gejolak 2025 di Indonesia (2/Habis)
Antisipasi dan Upaya Minimalisir Konflik Pertanyaan menarik muncul, “Bagaimana antisipasi negara cq pemerintah serta upaya untuk minimalisir konflik agar gejolak tak berdarah-darah?” Kita menyelam sebentar. Ada prakiraan khusus menyeruak, bahwa gejolak 2025 diperkirakan lebih dahsyat daripada gejolak 1998. Kenapa? Bila gejolak politik 1998 adalah by design asing guna menjatuhkan Pak Harto. Penjatuhan Orde Baru hanya sasaran antara belaka, sedang tujuan pokoknya ialah mengganti UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945 karya the Founding Fathers menjadi UUD NRI 1945 tanggal 10 Agustus 2002, atau oleh aktifis konstitusi kerap disebut UUD2002. Unik bin ajaib. UUD produk amandemen tersebut (1999-2002) terbit tanpa naskah akademik, dan tidak bernomor pada Ketetapan MPR/Tap MPR-nya. Inilah peperangan asimetris (asymmetric warfare) yang digelar oleh Barat cq Amerika Serikat (AS) di Bumi Pertiwi dan tergolong sukses, mengapa? Selain tepat ke jantung (mengganti sistem alias konstitusi) negara, juga ada bonus propaganda yang kian mengaburkan modus gaya baru kolonialisme yakni: ‘Stockholm Syndrome‘. Bahwa tidak sedikit rakyat dan para elit malah “jatuh cinta” dan memuja kaum penjajah yang (mau) merampas kehidupan dan masa depannya. Inilah yang sedang terjadi namun tak disadari sebagian anak bangsa. Menurut Salamuddin Daeng, inti amandemen UUD 1945 ialah transfer of power atau transfer kekuasaan dari tangan negara kepada tangan oligarki swasta. Pada gilirannya, tanpa perlu letusan peluru, bangsa ini kembali “dijajah” melalui sistem. Dan sebagai catatan khusus, Cina kini justru lebih menikmati hasil perang asimetris (“reformasi”) alias transfer of power di Indonesia daripada AS sendiri selaku si pembuka pintu. Balik ke topik. Sekali lagi, jika kerusuhan 1998 lebih kuat faktor eksternal bermain. Gerakan reformasi silam merupakan agenda asing alias hajatan global. By design AS cq National Democratic Institute (NDI) pimpinan Mademe Albrigh yang dibantu “londo blangkonan” atau kelompok proksi lokal. Nah, gejolak 2025 nanti diprakirakan faktor internal lebih kental atas nama “api dalam sekam” akibat beberapa hal, baik efek tujuh poin positif maupun dampak delapan poin negatif yang diurai (Bag-1) di atas. Dan dipastikan, anasir asing tetap membonceng saat kegaduhan. Selain untuk menanam konsesi politik, misalnya, atau upaya mempertahankan privilege yang telah diperolehnya selama ini, juga merebut serta mencari peruntungan baru. Mengapa begitu? Bahwa tidak ada revolusi tanpa redistribusi aset. Inilah (geo) ekonomi yang selalu diperebutkan siapapun kaum penjajah. Sesuai sub judul di atas, pertanyaan yang timbul, “Bagaimana antisipasi dan upaya minimalisir konflik?” Tak boleh disangkal, Presiden Prabowo Subianto mutlak harus melakukan creative destruction (terobosan merusak), bukan sekadar creative breakthrough semata. Apa bedanya? Ibarat pohon, creative breakthrough cuma inovasi terhadap cabang (taktis) dan/atau ranting-rantingnya (teknis), sedangkan creative destruction lebih kepada memperbaiki pokok pohon atau kalau perlu hingga ke akar-akarnya (visi, grand strategy dan filosofi). Itu sekilas garis besar perbedaan keduanya. Pemberantasan judi online, misalnya, tak cuma menyasar ke ranting dan cabang, tetapi menangkap bandar serta beking di belakangnya. Juga pemberantasan korupsi. Tidak hanya menangkap korupsi anggaran, tetapi menyasar pula ke korupsi kebijakan sebagai sumber tindak korupsi. Termasuk pemberantasan mafia impor yang banyak merugikan petani, peternak, UMKM serta melemahkan keberdayaan rakyat pada umumnya, dan banyak lagi lainnya. Dan sebaik-baiknya creative destruction, menurut hemat penulis ialah kembali ke UUD 1945 yang lahir pada 18 Agustus 1945 dengan berbagai penyempurnaan lewat teknik adendum. Kenapa demikian? Karena, inilah kontra skema anak bangsa terhadap transfer of power dari kekuasaan negara kepada oligarki yang dilakukan oleh asing di Indonesia melalui “agenda reformasi” (1999-2002) silam. Tak ada maksud menggurui siapapun dalam telaah ini, hanya sharing pemikiran atas konstelasi politik yang berlangsung dengan asumsi, tanpa kembali ke UUD Naskah Asli dengan penyempurnaan melalui teknik adendum, pencapaian Indonesia Emas 2045 tidak akan optimal. Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang di antara rerumpum kembang sore dan bunga-bunga sedap malam. M Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)
Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousKerja Sama Strategis Indonesia-Cina Di Laut Cina Selatan, Mengguncang Politik Minyak Sejagad ASNextPrakiraan Gejolak 2025 di Indonesia (1)

More in Analysis

View all
Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
Analysis

Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar NegeriPolitik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif

23 August 2026 · 5 min read

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents