About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

International

Seperti Apa Jalannya Perundingan Iran-ASPerundingan Iran-AS?

Rusman

Rusman·7 February 2026·2 min read

Share
Seperti Apa Jalannya Perundingan Iran-AS?

Kedua pihak melakukan negosiasi tidak langsung. Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff sama sekali tidak saling berhadapan, melainkan masing-masing duduk di ruangan terpisah dan bergantian berbicara dengan Menlu Oman Albusaidi.

Iran menyampaikan posisinya (antara lain, sama sekali tidak mau menghentikan pengayaan uranium seperti yang diminta AS karena itu hak Iran sebagai anggota NPT, dan tidak dimaksudkan untuk membuat bom nuklir).

Sebaliknya, AS selama ini menuntut agar Iran menghentikan proyek nuklir dan rudal. Iran tentu tidak mau, karena jika tak punya rudal, bagaimana Iran bisa melindungi keamanannya? (Israel akan mudah menyerang Iran dan Iran tidak bisa membalas.)

Tujuan asli AS, ya rudal ini, karena sangat berbahaya untuk Israel. Senjata nuklir? Itu hanya hoaks; AS juga sebenarnya tahu, Iran ga bikin senjata nuklir.

Menlu Oman lalu menyampaikan pesan serta tuntutan masing-masing pihak kepada pihak lainnya. Lalu, selesai, dengan catatan: akan ada perundingan berikutnya.

Setelah “perundingan” ini selesai, apa yang terjadi? AS mengumumkan menambah sanksi, yaitu mengembargo 14 kapal yang membawa minyak Iran. What a joke.

Memang di internal Iran ada semacam perbedaan pendapat. Leader (pemimpin tertinggi), Ayatullah Khamenei, berkali-kali bilang, tidak perlu negosiasi dengan AS selama AS masih melindungi Israel dan masih mendukung kelompok-kelompok teroris yang menyerang Iran dari dalam.

Tapi, leader bukan eksekutif dan dia menghormati proses demokrasi. Pemerintah (eksekutif) saat ini berasal dari kalangan “reformis” yang merasa bisa mencari solusi dengan negosiasi dengan AS.

Khatami, Rouhani, dan sekarang Pezeshkian, adalah para presiden dari kubu reformis. JCPOA 2015 dulu ditandatangani Rouhani dan terbukti tidak berfaedah: Trump keluar dari JCPOA, sanksi ekonomi semakin diperkeras.

Tapi ya demikianlah dinamika internal di Iran, ada elit yang ga kapok dikadalin AS. Tapi minimalnya, mereka ini tetap dalam koridor, tidak mau tunduk pada tuntutan AS. Karena, mereka tahu, kalau sampai nekad tunduk (misal, mau menghentikan proyek nuklir & rudal), pasti langsung di-impeachment oleh parlemen dan rakyat akan turun ke jalan mengecam.

Jadi, proses demokrasi berjalan karena posisi Leader bukan diktator. Aksi protes Desember yll juga bagian dari demokrasi ini. Rakyat yang udah kesal melihat kinerja pemerintah (presiden & menteri) yang ga mampu membereskan urusan ekonomi, turun ke jalan. “Memang iya, ini semua gara-gara ada embargo AS, tapi kalau pemerintah becus, pasti adalah yang bisa dilakukan, biar kita ga susah-susah amat,” begitu kira-kira kekesalan orang Iran.

Tapi, ada pihak yang sudah siap memanfaatkan momen: mereka bersenjata, terorganisir, turun ke jalan, melakukan pembunuhan dan penghancuran/pembakaran bangunan publik dengan harapan muncul situasi super kacau tak terkendali, lalu sistem pemerintahan Islam tumbang. Tapi, skenario ini tidak berhasil.

AS yang melihat situasi dalam negeri Iran berbalik, sangat menyala mendukung sistem pemerintahan Islam [jadi: mereka kesel sama presiden  dan kabinet, tapi juga tidak mau kalo sistem dihancurkan dan diganti dengan demokrasi liberal bentukan AS], akhirnya geser strategi: ngajak berunding, meski tetap sambil mengancam serangan militer.

Dina Sulaeman, Analis geopolitik dari Universitas Padjajaran (Unpad)

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousBlokade Laut ala Amerika Serikat Terhadap Cina di Laut Cina Selatan 2006, Cikal Bakal Strategi Indo-Pasifik AS 2017NextPerdamaian Afghanistan, September 2001 dan Terpilihnya Zohran Mamdani

More in International

View all
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analysis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 August 2026 · 6 min read

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
International

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents