About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Southeast Asia

Sesuai Skema Nonblok ASEANSkema Nonblok ASEAN, Sebaiknya Menerima Turki Namun Menolak Ukraina Sebagai Mitra Dialog Terbaru ASEAN

Hendrajit

Hendrajit·26 January 2026·5 min read

Share
Sesuai Skema Nonblok ASEAN, Sebaiknya Menerima Turki Namun Menolak Ukraina Sebagai Mitra Dialog Terbaru ASEAN

Turki

Untuk memupuk kerja sama yang semakin erat antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN dengan negara-negara lain di luar kawasan Asia Tenggara, kiranya sangatlah tepat ketika pemerintah Indonesia secara eksplisit menyatakan dukungannya kepada Turki sebagai mitra dialog terbaru ASEAN. Sebagaimana diutarakan oleh menteri luar negeri Sugiono, menyambut baik aspirasi Turki menjadi mitra dialog penuh ASEAN, seraya menegaskan bahwa pemerintah siap memberi dukungan penuh.

Baca:

Indonesia dukung Turki jadi mitra wicara terbaru ASEAN

Jika Turki pada akhirnya bergabung sebagai mitra dialog ASEAN, berarti melengkapi mitra-mitra dialog ASEAN yang sudah bergabung terlebih dahulu seperti , Jepang, Uni Eropa, Korea Selatan, Amerika Seriakt, Cina, India, Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Rusia.

Menjalin kerja sama dengan Turki sebagai mitra dialog ASEAN, dapat mengembangkan ragam kerja sama di sektor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan tata kelola pemerintahan berbasis digital.

Selain dari itu, Indonesia dan Turki sama-sama tergabung dalam negara-negara berkembang yang tergabung dalam Global South, merupakan poin penting yang patut jadi pertimbangan. Bukan itu saja. Kerja Sama Strategis Indonesia-Turki berdasarkan kerangka ASEAN DIALOGUE PARTNER bisa semakin efektif mengingat kedua negara sama-sama berpenduduk Muslim terbanyak, dapat memprakarsai kerja sama antar sesama negara Muslim dari pelbagai kawasan secara efektif pula.

Adapun kerja sama ekonomi Indonesia-Turki baik dalam kerangka ASEAN Dialogue maupun dalam kerangka kerja sama bilateral, juga diharapkan akan semakin strategis dan efektif. Sebab sebagai sesama negara-negara berkembang (developing countries), Indonesia dan Turki mempunyai prioritas yang sama untuk  dalam mewujudkan sistem ekonomi global yang adi. Khususnya dalam memperkuat kerja sama dengan negara-negara berkembang yang berpenduduk Muslim terbanyak.

Sehubungan dengan kerangka pemikiran tersebut tadi, menarik menyimak pernyataan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan yang menginformasikan bahwa  Turki memiliki visi holistik untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik yang mencakup negara-negara ASEAN. Saya kira sebuah gagasan strategis yang patut ditelaah dan dieksplorasi oleh para perumus kebijakan luar negeri Indonesia maupun negara-negara anggota ASEAN lainnya. Apalagi Menteri Luar Negeri Hakan Fidan menggarisbawahi bahwa ndonesia merupakan mitra kunci untuk membantu Turki meningkatkan keterlibatannya di kawasan Asia Tenggara maupun dalam upaya memenuhi kepentingan nasional masing-masing.

Ukraina

Berbeda halnya dengan Turki yang sudah mendapat lampu hijau dari Indonesia untuk bergabung sebagai Mitra Dialog ASEAN, proposal pengajuan Ukraina nampaknya masih dalam pertimbangan. Sebagaiman dinyatakan oleh Duta Besar Ukraina untuk Filipina, Yuliia Fediv,  Ukraina berupaya menjadi mitra dialog resmi ASEAN pada akhir masa kepemimpinan Filipina tahun 2026. Nampaknya Ukraina berupaya mencari celah dengan memanfaatkan Filipina yang merupakan sekutu tradisional AS yang kebetulan saat ini masih memegang keketuaan ASEAN, untuk meloloskan negaranya sebagai mitra dialog ASEAN.

Jika Turki bisa dipastikan akan memperoleh dukungan penuh dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam yang notabene merupakan sesama negara Muslim, bahkan dari negara-negara ASEAN lainnya yang cenderung pro Barat seperti Singapura dan Thailand, karena dipandang bersikap independent dalam menyikapi persaingan global yang kian menajam  antara AS versus Cina di Asia Pasifik, pengajuan Ukraina nampaknya tidak semulus Turki.

Di antara negara-negara anggota ASEAN, nampaknya baru Filipina yang mendukung bergabungnya Ukraina sebagai Mitra Dialog ASEAN. Seperti diutarakan sendiri oleh Duta Besar Ukraina untuk Filipina, Yuliia Fediv, “Kami mengandalkan dukungan dari teman-teman Filipina untuk permohonan kami. Mudah-mudahan, pada akhir tahun ini, kami akan mendapatkan kemitraan dialog strategis dengan ASEAN berkat kepemimpinan Filipina.

Baca:

Ukraine bids for ASEAN sectoral dialogue status under PH chairship

Terbukti bahwa satu-satunya pintu masuk Ukraina bergabung sebagai Mitra Dialog ASEAN adalah Filipina, sekutu strategis AS di Asia Tenggara, yang saat ini masih memegang keketuaan ASEAN. Adapun Malaysia, salah satu negara ASEAN lainnya yang cukup disegani selain Indonesia, bahkan sejak masih memegang keketuaan ASEAN tahun lalu, secara diplomatis mengatakan bahwa  ASEAN akan meninjau permohonan Ukraina, dengan pembahasan yang akan dilakukan di tingkat pejabat senior.

Dengan kata lain, permohonan Ukraina tahun lalu pun masih ditolak. Bisa dipastikan salah satu pertimbangan mengapa sampai sekarang Ukraina masih ditolak, karena berpedoman pada Skema Nonblok ASEAN yang berkomitmen untuk menolak ikut campur dalam urusan dalam negeri masing-masing negara.

Dalam ASEAN Bali Concord II ditegaskan bahwa betapa pentingnya berpegang pada prinsip non-intervensi atau campurtangan dari negara-negara lain di luar kawasan ASEAN. Utamanbya negara-negara adikuasa seperti AS, Cina dan Rusia.

Maka dengan merujuk pada ASEAN Bali Concord II, ASEAN harus menolak rencana dan keinginan Ukraina, negara pecahan Uni Soviet pada pasca Perang Dingin, untuk menjalin kerjasama erat di bidang politik dan ekonomi dengan negara-negara ASEAN. Mengingat kenyataan bahwa Ukraina bukanlah negara yang menganut politik luar negeri yang independen dan bebas dari pengaruh kepentingan salah satu negara adikuasa, yaitu Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Kesepakatan Bali Concord II ini berisikan tiga poin penting. Poin tersebut adalah rencana pembentukan ASEAN Economy Community (AEC) sebagai entitas ekonomi terpadu Asia Tenggara.

ASEAN Community Security (ASC) sebagai forum keamanan bersama, dan ASEAN Sosiocultural Community (ASCC) yang erat dan saling menguatkan untuk tujuan menjamin stabilitas perdamaian dan kemakmuran bersama di kawasan.

Berdasarkan kesepakatan itulah maka negara ASEAN secara bersama-sama membangun dan memperluas integritas internal ekonomi negaranya masing- masing dan hubungan dengan komunitas ekonomi dunia, juga berbagi tanggungjawab  dalam memperkuat stabilitas ekonomi, sosial, dan keamanan di Asia Tenggara.

Selain daripada itu, terkait Treaty of Amity and Cooperation (TAC), ASEAN telah membuktikan dirinya mampu membangun Zona nyaman bagi banyak negara di luar ASEAN, untuk berdialog berkaitan dengan isu-isu yang pelik dan sensitif.

Andaikan Ukraina pada akhirnya diterima bergabung sebagai Mitra Dialog ASEAN, berarti ASEAN telah bergeser dari spirit Bali Concord I dan Bali Concord II yang keduanya menegaskan pentingnya ASEAN bersikap independen dari pengaruh kekuatan-kekuatan global yang sedang bertarung di Asia Tenggara saat ini. Khususnya AS versus Cina-Rusia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousMenlu Sugiono dan Geopolitik Yang Sedang Tidak Baik-Baik SajaNextSenja Imperium Amerika

More in International

View all
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analysis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 August 2026 · 6 min read

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
International

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents