About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Geopolitics

Strategi HegemoniStrategi Hegemoni AS 2026 vs Dasasila Bandung 1955

Rusman

Rusman·23 April 2026·4 min read

Share
Strategi Hegemoni AS 2026 vs Dasasila Bandung 1955

Bagi Asia Tenggara, efektivitas strategi divide et impera AS pada 2026 adalah ancaman eksistensial terhadap pertumbuhan ekonomi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Tujuh dekade setelah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, dunia kembali menyaksikan kebangkitan taktik lama dalam kemasan teknologi tinggi. Jika pada 1955 para pemimpin bangsa Asia dan Afrika berkumpul untuk mengakhiri kolonialisme, maka pada 2026 kita melihat kemunculan strategi “Kepentingan MAGA” yang secara sistematis menerapkan kembali prinsip divide et impera (pecah belah dan kuasai) untuk mempertahankan hegemoni global.

Hegemoni melalui “Manajemen Konflik”

Strategi nasional AS tahun 2026 tidak lagi berpura-pura mengejar ketertiban internasional berbasis aturan (rules-based order). Sebaliknya, fokus beralih pada Manajemen Konflik Regional yang sengaja dipelihara.

  • Choke Point Control: Dengan menguasai titik-titik krusial seperti Selat Malaka, Selat Hormuz, dan Terusan Panama, AS mampu mendikte siapa yang boleh berdagang dan siapa yang harus kelaparan energi.
  • Balance of Power: AS mendorong sekutu regional seperti Jepang dan Australia untuk membebani China, sementara di Timur Tengah, ketegangan Iran-Israel dibiarkan membara agar wilayah tersebut terus bergantung pada pasokan senjata dan pembiayaan Dolar AS.

Strategi ini secara intrinsik berlawanan dengan Poin ke-6 Dasasila Bandung, yang melarang penggunaan pengaturan pertahanan kolektif untuk melayani kepentingan khusus dari salah satu negara besar, serta melarang tekanan terhadap negara lain.

Benturan Paradigma “Kedaulatan vs Ketergantungan”

Dasasila Bandung menekankan pada “menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa” (Prinsip 1) serta “pengakuan persamaan semua ras dan bangsa” (Prinsip 3). Sebaliknya, strategi hegemoni 2026 justru memperlakukan negara lain sebagai pion dalam papan catur energi.

Sebagai kawasan yang secara geografis mengapit Selat Malaka—urat nadi perdagangan dunia—negara-negara ASEAN berada tepat di garis depan benturan kepentingan ini.

Stabilitas hanya dapat dijaga jika kawasan ini tetap teguh pada prinsip Dasasila Bandung, khususnya poin mengenai penyelesaian perselisihan secara damai dan menolak menjadi instrumen kepentingan negara besar. Tanpa netralitas aktif, Asia Tenggara berisiko menjadi “ladang pertempuran” ekonomi yang hanya menguntungkan produsen senjata dan energi di belahan bumi barat.

Berikut adalah analisis dampak spesifiknya terhadap stabilitas ekonomi kawasan:

1. Militerisasi Selat Malaka dan Ketidakpastian Logistik

Selat Malaka adalah jalur bagi sekitar 80% kebutuhan energi China. Dalam strategi 2026, AS berupaya mengontrol jalur ini melalui “Deterrence by Denial“.

Dampaknya: Biaya logistik dan asuransi perkapalan di kawasan akan melonjak tajam karena status keamanan yang tidak menentu. Indonesia, Malaysia, dan Singapura akan menghadapi tekanan hebat untuk “memihak” dalam pengamanan jalur tersebut, yang dapat mengganggu alur perdagangan intra-ASEAN.

2. Tekanan “Vasilisasi” Ekonomi (Burden Sharing)

Dalam National Defense Strategy 2026, AS menekankan pada burden sharing atau pembagian beban dengan sekutu regional.

Dampaknya: Negara-negara seperti Filipina, Vietnam, dan Indonesia akan didorong untuk mengalokasikan anggaran negara yang lebih besar untuk belanja militer demi “menahan” pengaruh China. Hal ini berisiko menciptakan opportunity cost yang besar, di mana dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur atau pendidikan dialihkan untuk membeli alutsista dari industri pertahanan AS.

3. Polarisasi Investasi dan Gangguan Rantai Pasok

Asia Tenggara selama ini menikmati pertumbuhan ekonomi dengan menjadi mitra dagang bagi China sekaligus mitra keamanan bagi AS. Namun, strategi “negosiasi dari posisi kuat” AS memaksa terjadinya pemisahan (decoupling) ekonomi yang lebih ekstrem.

Dampaknya: Investor mungkin akan ragu untuk menanamkan modal di kawasan yang diprediksi menjadi medan “perang atrisi” antara armada laut AS dan Rusia/China. Ketidakstabilan ini dapat menyebabkan pelarian modal (capital outflow) ke wilayah “Fortress America” yang dianggap lebih aman secara geopolitik.

4. Kerentanan Ketahanan Energi Regional

Jika terjadi konflik terbuka di Iran yang menutup Selat Hormuz, pasokan minyak dunia akan berkurang sepertiganya.

Dampaknya: Negara-negara pengimpor minyak di Asia Tenggara akan menghadapi inflasi yang melumpuhkan. Di sisi lain, negara produsen mungkin akan ditekan untuk meningkatkan produksi hanya demi memenuhi kebutuhan sekutu AS dengan harga yang didikte oleh pasar Dolar (Petrodollar) demi menyelamatkan ekonomi Amerika.

Infografis ini memperjelas relevansi Dasasila Bandung 1955 vs Strategi Hegemon 2026, mengantisipasi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi Asia Tenggara.

Efektivitas vs Realitas Nasionalisme

Seberapa efektifkah taktik ini di tahun 2026? Meski secara militer AS memiliki keunggulan absolut melalui Blue Water Navy, efektivitasnya dibatasi oleh kebangkitan nasionalisme—roh yang sama yang melahirkan KAA 1955.

  • Resistensi Global: Negara-negara berkembang mulai menyadari bahwa mereka hanya dijadikan “benteng” pelindung kepentingan AS. Hal ini mendorong mereka mencari alternatif (seperti BRICS atau aliansi regional mandiri) untuk keluar dari jerat dolar.
  • Kerapuhan Domestik: Strategi 2026 membutuhkan “Negara Polisi AI” untuk meredam protes di dalam negeri. Namun, sejarah mencatat bahwa semakin keras sebuah imperium menekan secara eksternal dan internal, semakin cepat proses pembusukan dari dalam akibat korupsi dan polarisasi politik.

Kembali ke “Semangat Bandung”

Politik divide et impera AS pada 2026 mungkin efektif dalam jangka pendek untuk menghambat laju China atau Rusia. Namun, strategi ini gagal memahami bahwa dunia pasca-1955 tidak lagi bisa dikelola dengan mentalitas kolonial abad ke-19.

Selama “Semangat Bandung” tentang kemandirian dan kerjasama antar bangsa masih hidup, upaya untuk menguasai dunia melalui pemeliharaan konflik hanya akan mempercepat keruntuhan hegemoni itu sendiri. Dunia tidak membutuhkan seorang “Polisi Global”, melainkan kembalinya penghormatan terhadap kedaulatan sebagaimana yang diikrarkan di Gedung Merdeka 71 tahun silam.

Stabilitas hanya dapat dijaga jika kawasan ini tetap teguh pada prinsip Dasasila Bandung, khususnya poin mengenai penyelesaian perselisihan secara damai dan menolak menjadi instrumen kepentingan negara besar. Tanpa netralitas aktif, Asia Tenggara berisiko menjadi “ladang pertempuran” ekonomi yang hanya menguntungkan produsen senjata dan energi di belahan bumi barat.

DRSM | Democracy Religion Society Market

Rusman

Author

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

PreviousJurus Mabuk Trump: Kekuasaan yang Kehilangan Arah dan Kepercayaan GlobalNextKunjungan Prabowo Subianto ke Moskow, Semakin Memperkuat Kerja Sama Strategis Indonesia-Rusia Dalam Skema BRICS

More in Geopolitics

View all
Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
Analysis

Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali GeopolitikHidupkan Kembali Geopolitik?

18 August 2026 · 10 min read

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur Tengah
Analysis

Program Nuklir AS-Arab Saudi Memantik Destabilisasi Kawasan Timur TengahTimur Tengah

13 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents