About UsBook ReviewsEditorialGalleryPodcastContact
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analysis
  • International
    • Southeast Asia
    • East Asia
    • South Asia
    • Central Asia
    • Australia
    • Middle East
    • Africa
    • Latin America
  • Geopolitics
  • Politics & Security
  • Economy & Business
  • Issues

    • Diplomacy
    • Law
    • Society
    • Culture
    • Environment
    • Science & Tech
    • Health

    Special Coverage

    • Profiles
    • Features
    • Media

    Channels

    • Book Reviews
    • Podcast
    • Gallery
GFIEST. 2007

Published by

Global Future Institute (GFI)

A geopolitics and foreign-policy think tank, established 11 October 2007. The Global Review is its journalistic channel.

About GFI
The Global Review

Your Guide to World Affairs

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Institution

  • About Global Future Institute
  • GFI Board
  • Contact

Media

  • About Us
  • Editorial
  • Book Reviews
  • Gallery
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

International

Waspadai Agenda AS dan Uni Eropa Promosikan LGBT di Indonesia Dengan Dalih Hak-Hak Asasi ManusiaHak-Hak Asasi Manusia

Hendrajit

Hendrajit·18 February 2025·3 min read

Share
Waspadai Agenda AS dan Uni Eropa Promosikan LGBT di Indonesia Dengan Dalih Hak-Hak Asasi Manusia

Minggu 16 Februari 2025 lalu, Kelompok pemuda dari Destiny Church menggelar protes dalam parade komunitas LGBT di Ponsonby Road, Auckland, Selandia Baru. Mereka mengenakan kaos bertuliskan ‘Man Up’ dan menghadang parade di depan polisi setempat dengan melakukan haka sebagai bentuk perlawanan. Apa itu Haka? Haka merupakan imbol kekuatan dan identitas budaya masyarakat Maori.

Pendiri Destiny Church, Brian Tamaki, mengklaim aksi ini sebagai perlawanan terhadap agenda LGBT di Selandia Baru. Menurutnya, sudah saatnya negara itu kembali ke jalur yang dianggap benar. Artinya, menentang kebijakan pemerintah Selandia Baru mendukung keberadaan LGBT, yang terkandung di dalamnya  praktek-praktek penyimpangan seksual dan pornografi.

Aksi protes para pemuda dari Destiny Church tersebut nampaknya mencerminkan kegelisahan umum warga masyarakat Selandia Baru dalam lingkup yang lebih luas. Betapa tidak. Pemerintah Selandia Baru selama ini mengizinkan diselenggarakannya acara tahunan Rainbow Parade Auckland,  sebuah acara tahunan yang mendukung hak-hak LGBT. Fakta bahwa aksi protes Church Destiny tersebut melibatkan juga Sekelompok penduduk asli Maori di Auckland, membuktikan bahwa kebijakan pemerintah Selandia Baru mendukung isu LGBT juga telah menggelisahkan masyarakat asli Selandia Baru yang notabene bukan orang Eropa Barat, dan masih menganut tradisi dan kearifan lokal yang bersifat ketimuran. Sebab dengan diakuinya eksistensi dan aktivitas komunitas LGBT, berarti pemerintah Selandia Baru membiarkan meluasnya aksi pornografi dan penyimpangan seksual.

Baca:

Protes Besar-Besaran di Auckland, Penduduk Asli Maori Tolak Isu LGBT di Tengah Rainbow Parade

Kenyataan bahwa Selandia Baru dan Australia yang berada di kawasan Asia Pasifik merupakan bagian integral dari persekutuan blok Barat yang dimotori Amerika Serikat dan Uni Eropa, sulit untuk disangkal bahwa dukungan terhadap eksistensi dan aktivitas LGBT memang merupakan buah dari design global AS-Uni Eropa.

Maka, adanya aksi protes dari para pemuda warga asli Selandia Baru dari Maori, menggugat aksi pornografi dan penyimpangan seksual yang meluas di Selandia Baru dan berpotensi mempengaruhi anak-anak dan pemuda warga asli Maori, sudah semestinya berbagai komponen bangsa Indonesia menyuarakan gugatan yang sama kerasnya terhadap fenomena keberadaan dan aktivitas LGBT di Indonesia.

LGBT yang merupakan kepanjangan dari Lesbian, Gay, Bisexual, dan Queer, merupakan hal yang ditabukan di kalangan masyarakat Indonesia. Tradisi dan norma-norma sosial masyarakat Indonesia dari Sabang Sampai Merauke, menentang keras homoseksual dan trans-gender. Apalagi kalau sampai menjadi sebuah kebijakan publik.

Namun demikian, meskipun fenomena keberadaan dan aktivitas LGBT di Indonesia saat ini ditentang keras oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, namun belum ada ketentuan hukum yang secara tegas memberikan sanksi hukum terhadap praktek-praktek penyimpangan seksual yang melekat dalam keberadaan dan aktivitas LGBT. Saat ini belum ada ketentuan perundang-undangan atau hukum pidana yang mengatur secara tegas pelarangan sodomi. Juga belum ada ketentuan perundang-undangan yang secara jelas melarang praktek-praktek hubungan seksual sesama jenis yang bersifat non-komersial dan semata atas dasar suka-suka. Maupun perkawinan sesame  jenis.

Mungkin Aceh, bisa menjadi sumber inspirasi bagi pemerintah pusat di Jakarta. Di Aceh yang menganut hukum Syariah Islam, mengatur secara tegas melalui ketentuan hukum dan perundang-undangan terhadap homoseksual dan menyatakan keberadaan LGBT sebagai illegal atau melanggar hukum. Sehingga Aceh secara tegas dan tanpa kompromi melarang perkawinan sesama jenis (same sex marriage).

Sebab, tanpa ketentuan hukum dan perundang-undangan yang secara tegas melarang keberadaan dan aktivitas LGBT seperti homoseksual, lesbian, dan trans-gender, agenda-agenda negara asing seperti AS dan Uni Eropa seperti tergambar secara jelas di Selandia Baru, dengan mudah akan menemukan celah dan kesempatan untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia, atas nama Hak-Hak Asasi Manusia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Hendrajit

Author

Hendrajit

Direktur Eksekutif GFI

Pengkaji geopolitik, memprakarsai berdirinya Global Future Institute pada 11 Oktober 2007. Penulis buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru.

PreviousPenambahan Jumlah Anggota Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Masih Kontroversial Hingga KiniNext70 Tahun Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955, Momentum Menggalang Aliansi Negara-Negara Berkembang (Global South)

More in International

View all
Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
Analysis

Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCWOPCW di Tengah Rivalitas Global

18 August 2026 · 3 min read

USAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia
Analysis

USAIDUSAID Organ Terselubung Washington Untuk Mengendalikan Dunia

10 August 2026 · 6 min read

FPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel
International

FPNFPN: Indonesia Harus Hentikan Seluruh Hubungan dengan Israel

8 August 2026 · 4 min read

Most Read

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Latest Podcasts

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

All podcasts

Book Reviews

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Featured book

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Read the review

Follow on Facebook

theglobal-review.com

2.147 followers

Like Page

Reference Network

The sources and partners we monitor, from official domestic institutions to analytical media across regions.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

International

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents