Iran: Medan Perang dan Penabuh Gendang

Bagikan artikel ini

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M Arief Pranoto

Kronologis Perang Teluk 2026 terlihat sederhana di permukaan, dimulai Amerika Serikat (AS)-Israel menyerang Iran hingga mengakibatkan Pemimpin Tertinggi (Ayatollah Ali Khamanei) gugur. Lalu Iran pun membalas secara masif. Selat Hormuz pun dijadikan senjata. Selanjutnya terjadilah pertempuran antara AS-Israel versus Iran sampai sekarang.

Tetapi, itu hanya lapisan paling luar. Di bawah permukaan, ada permainan yang jauh lebih dalam dibanding apa yang terlihat. Tabrakan teori, mungkin adu strategi, atau adu doktrin perang. Bisa jadi juga berlangsung peperangan sistem. Maka, Iran bukanlah sekadar korban atau objek serangan. Secara fisik — selain sebagai medan tempur, ia juga pemain aktif bertempur membalas serangan. Lihat, Iran masif menggempur kekuatan lawan yang terserak di berbagai kawasan Teluk. Dengan teguh Iran menyampaikan ke publik, “kami akan berperang hingga nafas akhir menghembus.” Teguh, tangguh, tegas, dan lawas. Negara-negara pengekor AS “ditamparnya”. Apalagi negara yang membangun kerjasama pertahanan dan militer. Kerjasama ini seakan membenarkan bahwa tidak ada masalah dengan logika, etika, dan moral kemanusiaan dengan posisi AS yang bekerjasama dengan Israel. Tidak ada masalah dengan AS yang mengagresi Venezuela dan menangkap serta menahan Maduro beserta isterinya. Dengan perdamaian merujuk kekuatan AS dan Israel adalah negara-negara yang unggul dalam kekuatan militer dan keuangan. Titik. Padahal?

Rudal yang Tak Pernah Habis

Pernah muncul klaim sepihak oleh Donald Trump bahwa AS sukses membombardir lokasi peluncuran rudal Iran. Singkatnya, ancaman telah dinihilkan dan kekuatan sudah dihancurkan. Faktanya rudal Iran tetap meluncur hingga gelombang ke 100-an serangan. Di sini realitas perang modern terkuak. Iran tidak bertumpu pada satu mekanisme terstruktur. Ia membangun arsitektur metode-perang berlapis. Misalnya, peluncur mobile, atau bunker bawah tanah, jaringan produksi domestik, ataupun keterhubungan dengan China-Rusia, dan lainnya. Jadi, menghancurkan satu titik tidak berarti mematikan mekanisme terstruktur. Ini satu faktor penting dalam peperangan: keterhubungan antar sub struktur, structure interconnectivity sebagai bagian interconnectivity war.

Selama hampir puluhan tahun, China memasok senjata, teknologi, komponen, dan bahan baku untuk rudal dan drone bagi industri pertahanan Iran. China juga menikmati jaminan pasokan energi relatif murah. Meski narasi ini perlu validasi detail. Artinya, yang dihancurkan AS bisa saja fasilitas tempur Iran. Tapi kemampuan Iran untuk bangkit, dan terus berproduksi serta semangat melawan selalu ada dan menyala. Sun Tzu bilang, perang terbaik adalah perang yang membuat musuh terus bertarung dalam kondisi lemah. Jadi, Iran tidak perlu menang cepat. Cukup dengan meluruhkan kekuatan lawan dalam “perjalanan” menempuh waktu dan jarak perang serta menguras sumber dayanya. Ini model perang atrisi yang dikembangkan oleh Iran —bangsa Arya— bersamaan dengan perang proksi.

Sebagai bukti atas situasi ini, terlihat pada hal-hal di balik usulan AS untuk gencatan senjata. Saat dialog di Islamabad berlangsung, Iran meminta agar kapal induk AS yang sedang menuju Selat Hormuz untuk berbalik dan menjauh Selat Hormuz. Delegasi AS setelah konsultasi dengan Trump, memutuskan kapal induk itu meninggalkan Selat Hormuz dan kembali ke perairan internasional. Trump memilih negosiasi dari pada kontak senjata. Iran pun teguh mempertahankan harkat martabatnya.

Saat Siluman Mulai Terlihat

Karena hampir tak terdeteksi di angkasa, The Northrop B-2 Spirit, pesawat siluman ini dianggap simbol superioritas militer AS. Tapi, gaungnya kini tak sedahsyat dahulu. Era berubah. Stealth (siluman) kini tidak berarti “tak terlihat”. Dalam Perang Teluk ini ia terlacak di mana, bagaimana, dan ke mana arahnya. Di sini terdapat bukti empiris, China mengembangkan AI pengolah sinyal, passive detection, sistem multi-sensor dan lain-lain yang mampu menembus teknologi siluman B-2 Spirit. Maka, deteksi atas pergerakan B-2 Spirit ini bukanlah kegagalan teknologi Pentagon, melainkan sebuah pertanda bahwa perlombaan teknologi perang —security dilemma— sudah naik level. Maka memerangi Iran sebenarnya memberi informasi ke publik global tentang perilaku dan daya perang banyak tergantung pada teknologi kedirgantaraan. Satelit bukan hanya memberi tahu ketepatan lokasi sasaran, juga menginfokan musuh yang menghadang, termasuk info turun naik atau stabilitas kecepatan rudal untuk tepat mencapai target sasaran.

Dalam pandangan Carl von Clausewitz: perang adalah benturan kehendak. Dan hari ini, kehendak itu tidak hanya diwujudkan melalui kecanggihan senjata semata, tetapi juga lewat data, algoritma, prediksi, dan kemajuan teknologi komunikasi. Kecanggihan itu mengajarkan manusia makin buas menindas atau makin memahami pembunuhan nilai-nilai kemanusiaan adalah sama dengan membunuh diri atau lingkungan sendiri. Penjajahan dan kejahatan kemanusiaan pun akan kembali ke pelakunya. Tentu karena manusia diajarkan dan dibekali kebaikan dan kebenaran. Namun, syaitan mengajarkan serta menularkan kejahatan dan ketersesatan. Begitulah pilihan dan sistem pembinaan kehidupan lengkap dengan contoh-contohnya.

Selat Hormuz: Dari Jalur Minyak Menjadi Alat Tekan

Sekitar 20 persen minyak dunia melewati Selat Hormuz. Siapa mengontrolnya, maka ia memegang tuas ekonomi global. Iran mencerdasi kondisi itu. Dalam beberapa minggu terakhir, ia membatasi lalu lintas kapal. Negeri Para Mullah melakukan apa yang disebut “vetting geopolitic”. Bahkan diduga bakal menerapkan “sistem toll” di Jalur Hormuz. Beberapa laporan menyebut kapal harus membayar dalam bentuk kripto, barter, ataupun afiliasi “non-musuh” untuk bisa lewat. Piranti lunaknya tengah digodog di parlemen Iran.

Ada cerita menarik. Saat pembicaraan gencatan senjata di Islamabad, delegasi Iran mendapat berita, ada kapal induk AS yang menuju Selat Hormuz. Seketika delegasi Iran meminta kepada delegasi AS yang dipimpin Wapres AS JD Vance untuk menarik mundur kapal induk itu dalam 30 menit, atau pembicaraan saat ini tidak berlanjut. Vance menelpon Trump. Putusan Trump, kapal induk berbalik menjauhi Selat Hormuz dan kembali ke perairan internasional. Dialog berlanjut walau tanpa hasil. Ini menunjukkan, Iran menolak dihina, menolak dikecoh, didikte, apalagi sekadar ditakut-takuti. Dan Trump memilih negosiasi daripada kontak senjata.

Iran sadar, bukan hanya soal 20 persen energi lewat Selat Hormuz. Tapi ini masalah efek berlapis yang jauh lebih besar. Kesadaran ini mendorong Iran menentukan akses lintasan diberikan jika perdagangan minyak menggunakan mata uang China, Yuan Renimbi. Ini masih pro-kontra baik di internal Iran sendiri karena melibatkan Oman, terutama timbul kontroversi di level global khususnya Amerika. Memang belum menjadi sistem resmi, tetapi sebagai alat tekan — ini sangat menohok. Iran mengubah geografi menjadi senjata (weaponization of geography). Gagas menggunakan Yuan ini menunjukkan pula, Washington tidak dihormati dan dihargai. Memang, sejak Iran mendapat sanksi ekonomi dan diembargo, mereka menutup diri atas sistem moneter dan keuangan AS. Tepatnya, mereka membangun benteng atas serangan sistem moneter. Ungkapan lainnya, Iran menolak sistem ekonomi riba yang serakah eksploitatif, tidak jujur, dan merendahkan nilai-nilai manusia.

China: Hadir Tanpa Terlihat

Di titik inilah, banyak analisis meleset. Narasi populer beredar bahwa China memasok senjata, memberi informasi atas kerja satelitnya, juga menginfokan bagaimana situasi aktual dan akurat Selat Hormuz. Singkatnya, China berada di balik Iran. Faktanya tidak sesederhana itu. China itu pembeli utama minyak Iran (hingga 80-an persen ekspor), namun China juga pemasok teknologi dual-use, mitra ekonomi utama dan seterusnya. Dan dalam konflik terbuka antara AS-Israel vs Iran, ia tidak turun secara langsung, bahkan mendorong de-eskalasi dan diplomasi. Entah itu bagian dari smokescreen atau bukan, perang memang penuh tipu muslihat. China meminta agar Iran segera membuka Selat Hormuz.

Yang jelas, melihat keterhubungan China – Iran bukan sekedar aliansi militer klasik. Ini hubungan berbasis kepentingan. Dalam banyak kasus, China justru berhati-hati dalam mendukung Iran agar tidak terseret terlalu jauh. Dalam rujukan inilah China terkesan main dua kaki. Di satu sisi membiarkan AS kelelahan dalam bertahan dan menyerang, tapi juga membuka kran agar sedikit kepentingan AS tersalurkan. Di sisi lain seakan netral dalam posisi Iran diperangi. Tapi Iran disokong dengan berbagai keunggulan teknologi sekaligus Iran dianjurkan dengan sangat agar Selat Hormuz kembali memberi akses lalu lintas minyak dan sebagainya.

Perang Sistem

Apa yang berlangsung di Hormuz, Iran, bukanlah sekadar konflik militer. Ini peperangan sistem versus sistem. Dampak berantai (contagion effect) tak hanya pada aspek militer semata, tetapi lebih kepada gangguan rantai pasok energi, tekanan terhadap dolar AS, inflasi meluas, eksperimen sistem pembayaran alternatif, pertumbuhan ekonomi merosot, dan lain-lain. Jika kapal harus membayar dalam yuan ketika melintas di Selat Hormuz, ia bukan sekadar transaksi. Hal itu merupakan perlawanan keras terhadap sistem keuangan global sejak usai Perang Dunia II cq Bretton Woods Agreement 1944. Dan bisa menjadi senja hegemoni bagi rezim Petrodolar.

Sepertinya konsep perang ala Liddell Hart, bahwa serangan terbaik adalah serangan tidak langsung namun menghantam pusat gravitasi lawan – tampaknya sedang dipraktikkan oleh Bangsa Arya, Iran. Dan pusat gravitasi Amerika hari ini bukan hanya di militernya saja, sebab hegemoni AS —salah satunya— memang berpilar pada Military-Industrial Complex. Tapi pusat grativasinya juga ditopang oleh Financial-Industrial Complex seperti dolar, sistem keuangan, kontrol jalur perdagangan dan lainnya. Maka fee perlintasan di Selat Hormuz jika menggunakan mata uang yuan, China, niscaya isu tersebut bakal menghancurkan salah satu pilar hegemoni Amerika: dolar. Kenapa? Sebab, setiap negara/kapal-kapal pelintas di Selat Hormuz niscaya mencari yuan, yuan dan yuan. Bukan lagi dolar. Maka dolar hitam (minyak) memburu dolar merah bersamaan dengan makin ditinggalkannya greenback (dolar AS).

Siapa Menunggangi Siapa

Lalu, apakah China menunggangi Iran? Atau, Iran yang memanfaatkan China? Jawaban paling jujur adalah saling memanfaatkan karena faktor keterhubungan geopolitik (dan geoekonomi) di atas. Memang tunggang menunggangi dalam politik soal biasa. Siapa yang menunggangi dan siapa yang ditunggangi bedanya seperti sehelai rambut. Konsep mutual benefit menjadi kokoh saat disadari bahwa saling tunggang menungganggi dilandasi sikap saling percaya dan saling menghormati. Relasi kuasanya tidak lagi vertikal, tapi menjadi horizontal dalam balutan fundamental dan fungsional.

Iran butuh jalur ekonomi, teknologi informasi, sekaligus membutuhkan hadirnya penyeimbang kekuatan AS. Sedangkan China butuh energi murah, stabilitas pasokan energi, serta membutuhkan alternatif terhadap dominasi dolar. Ibarat permainan dalam laga tinju, China menggunakan teknik hit and run ala Muhammad Ali, sedangkan Iran bergaya slugger-orthodox seperti Joe Frazeir atau Ken Norton.

Penutup: Perang Berubah Bentuk

Perang Teluk kali ini memang bukan model peperangan versi lama. Karena tidak ada dua blok yang saling berhadapan secara terbuka. Yang ada adalah, satu negara bertempur langsung — satu negara bertahan, sembari melakukan serangan balasan masif, sementara satu negara lain mengambil posisi di belakang layar. Dan satu negara lain, Israel memanfaatkan untuk menyerang pihak-pihak proksi.

Tak pelak, Iran jelas diserang, dihantam dan bertahan. Karena ia mempersiapkan pola strategi itu dari jauh hari. Dalam strategi atrisi-asimetri yang dikembangkan Iran, bagaimana ia memanfaatkan kondisi kebertahanan. Filosofi perang yang dianut adalah: biaya menyerang harus lebih murah daripada biaya bertahan, sedang biaya bertahan pihak lawan harus jauh lebih mahal. Sebaliknya, biaya bertahan Iran lebih murah daripada biaya penyerangan yang dilakukan oleh lawan. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah asymmetrical cost. Dan ini pula yang disebut attrition warfare, menguras sumber daya lawan hingga si lawan dalam kondisi pyrrhic victory. Tak ada target kemenangan. Hanya menggiring pihak lawan pada posisi: Anda boleh “menang”, tetapi Anda bakalan bangkrut. Menang tapi bangkrut dalam modal sosial, modal politik dan modal ekonomi justru merupakan kekalahaan dalam perang peradaban.

Karena dalam perang modern, seperti yang sudah lama dipahami oleh Sun Tzu: kemenangan terbesar ialah ketika perang itu sendiri berubah bentuk. Dan di medan Perang Teluk kali ini, Iran bukanlah sekadar target. Peperangan sudah berganti bentuk. Ia adalah medan tempur, “penabuh gendang”, sekaligus pemain aktif di dalamnya. Lalu, AS dan Israel pun menari-nari dalam irama gendang yang ditabuh oleh Iran. Dan ini kekalahan yang tidak diakui, sementara publik menyaksikan tarian AS dan Israel adalah tarian yang merundung kedukaan.

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com