Melalui “Kesepakatan Abad Ini”, Trump Ancam Singkirkan Palestina

Bagikan artikel ini

Untuk kesekian kalianya, Presiden AS Donald Trump kembali berulah dengan segala kontroversinya terhadap Palestina. Lihat saja misanya, Trump telah mengajukan apa yang disebutnya “Kesepakatan Abad Ini,” yang salah satu tujuannya adalah untuk menyingkirkan Palestina dari panggung dunia dan mengakhiri eksistensi negara tersebut.

Tentu Presiden Trump menggunakan segala cara untuk melenyapkan Palestina dari peta dunia. Salah satu cara yang kerap dilakukannya adalah dengan terus mengutus para penasihat keamanan nasionalnya dengan maksud menipu komunitas internasional melalui dukungan penuhnya kepada Israel dan menyangkal wilayah dan keadualatan Palestina.

Menurut sebuah dokumen yang bocor di Tel Aviv, kesepakatan itu akan menjadi “perjanjian tripartit” yang ditandatangani antara Israel, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dan Hamas untuk membangun apa yang disebut “Palestina Baru” di Tepi Barat dan Gaza. Strip. Tentu semua ini dengan mengecualikan proyek pembangan permukiman ilegal oleh Israel yang tentu akan tetap berada dalam kendali pemerintah Zionis.

Yerusalem akan tetap di bawah kendali Israel, dan penduduk Arab yang tinggal di sana akan menjadi warga Palestina Baru. Kesepakatan itu merupakan kudeta terhadap hak Palestina atas Yerusalem Timur sebagai ibukota Negara Palestina, yang diakui oleh PBB dan badan internasional lainnya. Hal ini semakin terang dengan pidato yang disampaikan Donald Trump di AIPAC yang banyak berisi pujian-pujiannya pada Israel, “I Love Israel”.

Menurut sumber yang bocor tersebut, “Palestina Baru” tidak akan memiliki tentara, hanya pasukan polisi. Perjanjian perlindungan akan ditandatangani dengan Israel, dimana Palestina harus membayar layanannya untuk mempertahankannya dari serangan luar. Hamas akan menyerahkan semua senjatanya kepada pihak berwenang di Mesir.

Apakah “Kesepakatan Abad Ini,” sebagaimana dikumandangkan oleh oleh Trump akan berjalan sesuai rencana atau malah kontra produktif dan bahkan berimbas pada kegagalan.

Dalam beberapa hari terakhir, tentara Israel telah menewaskan belasan warga Palestina di Gaza, dalam serangan yang digambarkan oleh Otoritas Nasional Palestina (PNA) sebagai serangan “pendahuluan” terhadap Kesepakatan Abad Ini.

PNA juga menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha untuk memajukan kepentingan Israel dan AS dengan mengkonsolidasikan pembagian antara Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Sputnik mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, yang mengatakan bahwa kesepakatan apa pun untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina tidak akan efektif jika prinsip dua Negara, satu Arab-Palestina dan satu Yahudi, diabaikan.

Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa mereka yang percaya bahwa PLO akan ditekan oleh AS adalah keliru. “Kami mengatakan tidak dan 1.000 kata tidak untuk inisiatif apa pun yang tidak memenuhi tuntutan minimum rakyat Palestina.”

Dan karena segala sesuatu yang berasal dari Trump pada akhirnya membawa ancaman, kali ini Washington telah memperingatkan bahwa jika PLO dan Hamas menolak perjanjian itu, AS akan membatalkan semua dukungan keuangannya kepada Palestina.

Sekali lagi, langkah Donald Trump terkait Palestina dan juga negara-negara Timur Tengah memang sarat dengan upayanya juga untuk mewujudkan mimpi membentuk Israel Raya, sebagaimana penulis ulas di astikel sebelumnya.

Maka tidak mengherankan jika Trump bersikukuh untuk menyingkirkan Palestina dari panggung dunia dengan segala cara termasuk melalui serangan militer di kawasan. Lihat saja pengalaman di negera-negara di Timur Tengah.

Bisa jadi konflik-konflik di Timur Tengah, menjadi rangkaian dari skema tersebut. Rangkaian konflik di Timur Tengah tidak bisa berdiri sendiri. Kita lihat saja penggulingan pemimpin Libya, Moammar Khadafi, kemudian Irak, Saddam Husein, perang di Suriah, Yaman dan lainnya. Hampir semua penggulingan pemimpin yang tanda kutip tidak bisa diajak berkongsi dengan AS dan Israel selalu menggunakan instrumen isu pemimpin diktator, senjata pemusnah massal, senjata kimia dan lain-lain yang sampai sekarang tidak terbukti, alias hoax.

Libya berhasil, Irak berhasil meski dengan biaya perang yang cukup mahal, sayangnya pasca-Saddam Husein tumbang pemerintahan boneka AS kalah dalam Pemilu, Syiah memimpin. Bingung dengan skenario gagal, dan tidak mungkin meng-agresi Irak, dibentuklah ISIS (Islamic State Irak Syiria). Kita semua diperlihatkan konflik berbasis mazhab di sepanjang daratan Irak sampai Syiria. Setelah ISIS menguasai kantong-kantong minyak, ISIS kemudian dibasmi. Kita semua termakan hoax, bahwa para pelaku kekerasan di Timur Tengah adalah ulah ISIS. Bahkan yang terakhir kasus pembantaian di Mesir, terhadap jamaah yang tengah melakukan salat Jumat. Pertanyaannya adalah? ketika ISIS sudah dibasmi, lantas bagaimana nasib sumber-sumber minyak yang dikuasai ISIS, bisa jadi diambil alih oleh si-empunya. Lumayan kan bisa berjualan minyak di pasar gelap.

Di Yaman, alasannya memerangi al-Houthi, milisi bersenjata yang menguasai Teluk Aden. Teluk Aden merupakan perairan yang dilalui kapal-kapal pengangkut minyak menuju Red Sea-Laut Merah. al-Houthi dijadikan alasan untuk menggempur Yaman. Sudah berapa korban sipil akibat bahaya dari Plutokrasi ini. Tragisnya, dalam penyerangan Yaman ini Arab Saudi ikut andil menurunkan personel militernya.

Maka tidak menutup kemungkinan bahwa “Kesepakatan Abad Ini” yang dikumandangkan oleh Trump menjadi bagian dari kebijakan luar negeri AS untuk memorak-porandakan kawasan Timur Tengah, sebagaimana juga misi pembentukan Israel Raya. Pernyataan Trump soal Yerusalem misalnya, bisa dilihat sebagai upaya memicu ketidakstabilan politik negara-negara di jazirah tersebut. Mau tidak mau, jika strategi ini berhasil, upaya negosiasi akan berlaku demi mewujudkan pengaruh Israel melalui lobi AS.

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments