Untuk Kembali Berwibawa dan Memainkan Peran Aktif dalam Perdamaian Dunia, Indonesia Harus Punya Pemimpin Berani dan Visioner

Bagikan artikel ini

Komentar Pembaca terhadap hasil seminar terbatas Global Future Institute bertema Mengantisipasi Meningkatnya Perlombaan Senjata Nuklir di Asia Tenggara, Perspektif Politik Luar Negeri RI Bebas-Aktif.

Baca:

Executive Summary Seminar Terbatas Global Future Institute (GFI) 30 April 2019

Agar Indonesia kembali diperhitungkan dunia internasional dan mampu memainkan peran kepeloporan dalam ikutserta menciptakan perdamaian dunia, kita butuh pemimpin yang berani dan visioner. Kalau melihat kondisi nasional kita saat ini, sedih saya. Indonesia tidak lagi punya wibawa seperti di era Sukarno dan Suharto di masa lalu.

Pada 1955, Indonesia berhasil memelopori terselenggaranya Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955. Enam tahun kemudian pada 1961, lagi-lagi para pemimpin bangsa kita memelopori terbentuknya Gerakan Nonblok di Beograd, Yugoslavia.

Sekarang? Sangat memprihatikan. Kiprah Indonesia di dunia internasional melempem. Tidak ada greget. Sehingga tidak punya ide dan tidak punya inisiatif untuk memainkan peran aktif dalam dunia internasional. Bahkan di lingkup Asia Tenggara seperti ASEAN sekalipun.

Padahal kalau di era Presiden Sukarno kita bangga sebagai pelopor terbentukan Konferensi Asia Afrika Bandung 1955, di era Presiden Suharto kita bangga sebagai pemimpin utama ASEAN. Sehingga di era Suharto inilah kita sempat dapat julukan Macan Asia.

Saya sangat berharap Indonesia ke depan bisa melahirkan kembali sosok pimpinan nasional yang punya wibawa dan kharisma bukan saja di dalam negeri, melainkan juga di dunia internasional.  Sehingga bangsa dan negara Indonesia di dunia internasional kembali berwibawa di dunia internasional. Sehingga disegani oleh negara-negara tetangga kita, baik di lingkup kawasan yang secara geografis berdekatan dengan Indonesia, seperti Asia Tenggara, maupun kawasan-kawasan lainnya yang secara geografis lebih berjauhan, seperti Timur-Tengah maupun Amerika Latin.

Vivi Riani, Pelaku Usaha, dan Peminat Masalah-Masalah Sosial-Budaya, tinggal di Sidoardjo, Jawa Timur  

Facebook Comments