Zelfbestuur “PR Besar” di Warung Kopi yang Belum Tuntas

Bagikan artikel ini

Abu Bakar Bamuzaham, Network Associate Global Future Institute (GFI)

Di atas podium Kongres Sarekat Islam di Bandung pada 17-24 Juni 1916, Hadji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto berorasi dengan nada tinggi.

Pemimpin Besar Sarekat Islam ini berseru tentang ide kemerdekaan bagi bangsa Hindia (Indonesia). Gagasan itu disebutnya dengan istilah zelfbestuur atau pemerintahan sendiri.

“Dan kau dipuji sebagai bangsa yang terlembut di dunia. Darahmu dihisap dan dagingmu dilalap sehingga hanya kulit tersisa. Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau? Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya.”

“Tidaklah pada tempatnya menganggap Hindia sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya,” tegas Tjokroaminoto”

“Orang semakin lama semakin merasakan, baik di Nederland maupun di Hindia, bahwa zelfbestuur sungguh diperlukan,” lantang Tjokroaminoto di hadapan ratusan peserta kongres yang datang dari seluruh penjuru negeri.

“Orang semakin lama semakin merasakan,” lanjutnya dengan berapi-api, “bahwa tidak pantas lagi Hindia diperintah oleh negeri Belanda, bagaikan seorang tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya!”

Akibat suara lantang ini, HOS Cokroaminoto tentang kondisi keteejajahan ini HOS Tjokroaminoto mendapat gelar miring sebagai seorang yang makar oleh Kolonial Belanda (Dikutip dari Cahaya di Kegelapan) “Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo dan Sarekat Islam Pertumbuhannya” (1981), disunting oleh: Pitut Soeharto dan Zainoel Ihsan (hlm. 230).

Namun di era kini, genap 100 tahun sejak ide Zelfbestuur itu dilantangkan oleh HOS Tjokroaminoto. Rupanya hari ini telah terjadi pergeseran konsep penjajahan. Dimana hari ini untuk menjajah negara target (obyek jajahan) Penjajahan tidak perlu lagi harus menyerbu secara militer (nirmiliter).

Bila di bedah dengan ilmu Geopolitik, nampak polanya hampir sama dengan kolonialisme klasik, bedanya bila dulu mereka memaksakan diri mengambil alih celah strategis dengan cara invasi militer, namun hari ini mereka merubah konsepnya dengan menciptakan ketergantungan suatu negara atas sesuatu hal terkait air, pangan dan energi, atau ketergantungan kepada entitas lain seperti ketergantungan budaya dan lebih parahnya lagi ketergantungan terhadap hutang luar negeri.

Kondisi tersebut jika terjadi di suatu negara maka identik telah berlangsung penjajahan. Beda tipis dengan kondisi masa lalu sebelum kemerdekaan. Inilah Kolonialisme gaya baru alias Penjajahan Modern abad ini.

Menurut Hendrajit, pengkaji geopolitik dari Global Future Institute (GFI), “seringkali penguasa negeri ini kerap kali kecolongan dalam hal diplomasi, karena tidak mampu membaca titik lemah klausul perjanjian. Bahkan yang lebih trenyuhnya lagi seringkali salah membaca lawan justru dianggap sebagai kawan”.

Hari ini kehadiran mereka (Kolonial abad ini) justru di sambut layaknya tamu agung bahkan mereka diberi kursi dan selimut hangat di Badan Usaha strategis Milik Negara yang diperkuat dengan serangkaian ketetapan perundang-undangan yang ada. Maka tak heran bila hari ini kaum Kolonial itu tak perlu lagi kirim pasukan kemari.

Dari renungan kecil di warung kopi ini, terselip pertanyaan kecil, sudahkah Ide Zelfbestuur yang di lantangkan oleh HOS Tjokroaminoto sejak satu abad yang lalu itu terealisasikan hari ini? Ataukah justru hari ini kita tanpa sadar ternyata kita telah menjadi bagian dari “Belanda-Belanda baru” yang memberi kursi nyaman bagi kolonialis abad ini tersebut?

Entahlah..

Facebook Comments