Tentang KamiBedah BukuRedaksiGaleriPodcastHubungi Kami
ID/EN
The Global ReviewThe Global ReviewPemandu Informasi
Perkembangan Dunia
  • Analisis
  • Internasional
    • Asia Tenggara
    • Asia Timur
    • Asia Selatan
    • Asia Tengah
    • Australia
    • Timur Tengah
    • Afrika
    • Amerika Latin
  • Geopolitik
  • Politik-Keamanan
  • Ekonomi & Bisnis
  • Isu

    • Diplomasi
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • Lingkungan Hidup
    • Sains & Teknologi
    • Kesehatan

    Liputan Khusus

    • Sorot Tokoh
    • Features
    • Media

    Kanal

    • Bedah Buku
    • Podcast
    • Galeri
GFIEST. 2007

Diterbitkan oleh

Global Future Institute (GFI)

Lembaga pengkajian geopolitik dan politik luar negeri, berdiri 11 Oktober 2007. The Global Review adalah kanal jurnalistiknya.

Tentang GFI
The Global Review

Pemandu Informasi Perkembangan Dunia

DARIA Building, Suite 402, Jl. Iskandarsyah Raya No. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

redaksi.theglobalreview@gmail.com

Lembaga

  • Tentang Global Future Institute
  • Pengurus GFI
  • Hubungi Kami

Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Bedah Buku
  • Galeri
  • Podcast

Copyright © 2008-2026 The Global Review

Sains & Teknologi

86% Wisatawan Khawatir Akan Keamanan DataKeamanan Data Dari Penggunaan AI Untuk Perencanaan Traveling Mereka

Rusman

Rusman·17 Oktober 2025·4 menit baca

Bagikan
86% Wisatawan Khawatir Akan Keamanan Data Dari Penggunaan AI Untuk Perencanaan Traveling Mereka

Menurut temuan terbaru Kaspersky, AI sangat dihargai di kalangan wisatawan karena menghemat waktu, menemukan rekomendasi yang dipersonalisasi, dan penawaran yang dapat menghemat anggaran. Namun, kesadaran akan risiko keamanan data juga tinggi, yang disebut sebagai pertanda baik oleh para pakar keamanan.

Pusat riset pasar Kaspersky telah menemukan apa yang mendorong pengguna AI aktif untuk mempercayakan chatbot dan perangkat bertenaga AI dalam perencanaan perjalanan (traveling), serta bagaimana mereka menilai keamanan layanan tersebut*.

Survei tersebut mengungkapkan bahwa motivasi utama beralih ke AI dalam perencanaan perjalanan adalah untuk menghemat waktu dan menyederhanakan persiapan, dengan 73% pengguna menyebutkan manfaat ini. Keuntungan penting lainnya dari AI untuk perjalanan, yang disebutkan oleh 65% responden, adalah membantu pencarian informasi tentang objek wisata utama di lokasi yang dipilih dan rekomendasi yang dipersonalisasi sesuai preferensi individu. Selain itu, 63% memanfaatkan AI untuk menemukan penawaran terbaik, sementara 61% mempercayainya untuk mengungkap informasi yang sulit ditemukan.

Menariknya, generasi yang lebih tua (55+) menunjukkan pola yang sedikit berbeda: mereka kurang fokus pada penawaran yang dipersonalisasi (60%) tetapi lebih cenderung mengandalkan AI untuk menemukan saran/rekomendasi yang tidak dapat mereka temukan sendiri (65%). Sementara itu, orang-orang yang memiliki anak menunjukkan minat yang lebih tinggi terhadap rekomendasi yang dipersonalisasi (68%) dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki anak (60%), yang menggarisbawahi semakin besarnya peran AI sebagai asisten serbaguna di berbagai kelompok usia pengguna.

Faktanya, saat ini dengan bantuan AI, rencana perjalanan individual yang sesuai dengan permintaan wisatawan dapat dibuat hanya dalam beberapa klik. Namun, informasi yang diberikan oleh chatbot masih perlu diperiksa ulang. Sudah ada beberapa kasus di mana wisatawan mengalami masalah karena mereka terlalu mempercayai AI dan tidak melakukan riset sendiri untuk perjalanan tersebut.

Terlebih lagi, tidak hanya informasinya, tetapi bahkan tautan yang diberikan oleh AI perlu diperiksa, karena mungkin ada tautan berbahaya dan phishing di antaranya. Sebelum mengklik tautan dari chatbot AI, disarankan untuk memeriksanya dengan solusi keamanan siber yang dilengkapi dengan deteksi phishing.

AI dan Keamanannya

Selain menentukan rute dan mencari informasi, AI dalam perencanaan perjalanan sering kali juga berperan dalam pemesanan hotel dan bahkan tiket, yang mau tidak mau mengharuskan pembagian data pribadi oleh penggunanya. Survei Kaspersky mengungkapkan bahwa tidak semua wisatawan siap mempercayakan informasi pribadi mereka kepada AI.

Hampir separuh (48%) responden melihat risiko keamanan dalam penggunaan AI dan berusaha untuk tidak membagikan data sensitif apa pun dengannya. Bersama dengan 37% responden yang tidak terlalu khawatir tentang keamanan AI tetapi tetap berhati-hati saat menggunakannya, 86% responden yang menggunakan AI untuk perencanaan perjalanan juga mempertimbangkan keamanan data saat menggunakan alat-alat ini. Hanya 14% wisatawan yang yakin bahwa pembagian data apa pun dengan AI sepenuhnya aman.

Di antara individu yang lebih muda (usia 18-34), kekhawatiran tentang keamanan layanan AI bahkan lebih tinggi, dengan 52% responden waspada dalam membagikan data pribadi mereka dengan AI. Generasi yang lebih tua (55+), sebaliknya, sedikit kurang berhati-hati dalam hal penggunaan AI. Hanya 42% yang menyadari potensi risiko AI, sementara 44% tidak melihat banyak ancaman keamanan, tetapi memilih berbagi secara selektif, menunjukkan pendekatan yang bertahap terhadap keamanan AI.

Menurut survei tersebut, wisatawan di Spanyol, Inggris, Indonesia, Malaysia, dan Afrika Selatan menunjukkan kekhawatiran yang lebih besar tentang risiko terkait AI, sementara wisatawan di Tiongkok, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi sebaliknya menunjukkan keyakinan yang lebih tinggi terhadap keamanan sistem AI.

“Survei ini menyoroti tingkat kehati-hatian yang patut diperhatikan di antara para wisatawan yang menggunakan AI, dan ini menunjukkan sebuah pertanda baik. Sikap rasional sangat penting untuk semua jenis interaksi daring, terutama dalam hal berbagi data pribadi. Bagaimanapun, percakapan ‘pribadi’ Anda dengan AI masih dapat terpapar ancaman siber, atau penawaran menarik yang ditemukan oleh chatbot mungkin ternyata hanyalah skema penipuan. Ini bukan berarti Anda harus meninggalkan perangkat digital ini sepenuhnya. Sebaliknya, tetaplah waspada, hindari berbagi informasi pribadi secara berlebihan, dan pikirkan baik-baik saat memilih tugas yang dapat Anda berikan kepada AI. Dengan demikian, layanan bertenaga AI dapat berkembang menjadi asisten andal yang membantu Anda mengatasi berbagai tantangan dengan aman dan efektif,” komentar Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center.

Kaspersky berbagi beberapa kiat tentang cara tetap aman saat berinteraksi dengan AI:

  • Hindari berbagi data pribadi dengan asisten AI: ID, alamat, kata sandi, atau detail sensitif lainnya. Berhati-hatilah dalam memilih sumber daya tempat Anda mengunggahnya.
  • Lakukan sendiri semua tindakan dan keputusan penting (mengirim email, melakukan pembelian, pemesanan, dll.). Tugaskan asisten AI hanya untuk tugas-tugas kasual.
  • Verifikasi tautan dan email yang diberikan AI kepada Anda. Gunakan solusi keamanan yang andal seperti Kaspersky Premium untuk memeriksa semua URL dan memblokir sumber daya yang mencurigakan, serta mengamankan pembayaran online Anda.
  • Jika Anda memilih AI sebagai asisten perjalanan utama, pastikan Anda memiliki koneksi internet yang stabil selama berada di luar negeri. Pertimbangkan untuk menggunakan eSIM agar memiliki akses data seluler yang konstan.
  • Jangan hubungkan akun utama Anda yang berisi data rahasia ke chatbot atau layanan bertenaga AI lainnya.

*Studi ini dilakukan oleh pusat riset pasar Kaspersky pada musim panas 2025. Survei ini melibatkan 3.000 responden dari 15 negara (Argentina, Chili, China, Jerman, India, Indonesia, Italia, Malaysia, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Spanyol, Turki, Inggris, dan Uni Emirat Arab).

Rusman

Penulis

Rusman

Direktur Teknologi Informasi

Perintis GFI sejak 2008, wartawan tabloid DeTAK, jurnalis terbaik versi Yayasan KEHATI dan Lembaga Pers Dr. Supomo tahun 2000.

SebelumnyaKaspersky: Film Demon Slayer Baru Memicu Kampanye Penipuan Di Seluruh DuniaSelanjutnyaKaspersky: Waspada Email Palsu Mengaku Dari Maskapai Ternama

Lainnya di Sains & Teknologi

Lihat semua
Chatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum
Budaya

Chatbot AIChatbot AI Dapat Mempengaruhi Hasil Pemilihan Umum

15 Juli 2026 · 6 menit baca

140 Juta Upaya Phishing dan Penipuan di Kuartal Pertama 2026, Kaspersky Merespons Dengan Perlindungan Berbasis AI
Sains & Teknologi

140 Juta Upaya PhishingUpaya Phishing dan Penipuan di Kuartal Pertama 2026, Kaspersky Merespons Dengan Perlindungan Berbasis AI

9 Juli 2026 · 3 menit baca

Malware yang Menyamar Sebagai Layanan AI Terhadap UMKM di Asia Tenggara Meningkat Hampir Tujuh Kali Lipat di Tahun 2026
Sains & Teknologi

Malware yang Menyamar Sebagai Layanan AI Terhadap UMKM di Asia TenggaraAsia Tenggara Meningkat Hampir Tujuh Kali Lipat di Tahun 2026

6 Juli 2026 · 3 menit baca

Terpopuler

  1. 01Antara Pax Silica dan WAICO, Politik Luar Negeri Bebas Aktif Indonesia Harus Kreatif dan Inovatif
  2. 02Mengapa Kita Harus Hidupkan Kembali Geopolitik?
  3. 03Sabrina Dallafior dan Ujian Independensi OPCW di Tengah Rivalitas Global
  4. 04Ketika Artificial Intelligence (AI) Memasuki Ruang Redaksi
  5. 05Berita Besar

Podcast Terbaru

  • Armory Reborn

    Militerisasi Eropa: Konsekuensi Pasca-Invasi Rusia ke Ukraina

  • Jaya Suprana Show

    Di Jaya Suprana Show, Hendrajit Bedah Perang Asimetris sebagai Sarana Nir-Militer Imperialisme Gaya Baru

  • Rasil TV

    Rasil TV: Gejolak Geopolitik Dunia dan Peluang Perang Dunia Ketiga

Semua podcast

Bedah Buku

Sampul buku Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Buku pilihan

Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru

Hendrajit, Global Future Institute (2019)

Baca ulasannya

Ikuti di Facebook

theglobal-review.com

2.147 pengikut

Suka Halaman

Jaringan Rujukan

Sumber dan mitra pantauan kami, dari lembaga resmi dalam negeri hingga media analisis lintas kawasan.

Indonesia

  • Kemlu.go.id
  • Kemhan.go.id
  • NU.or.id
  • Kompas.com
  • The Jakarta Post
  • Obsession News
  • Opini Indonesia
  • Pena Merah Putih

Internasional

  • Strategic Culture
  • Global Research
  • The Duran
  • Consortium News
  • Journal NEO
  • Voltaire Network
  • MintPress News
  • Oriental Review
  • Antiwar.com
  • Countercurrents